
Melompat terbang Bram, kala itu merasa takjub. Karena ini pertama kalinya ia terbang, kekuatan Olive si utusan langit memang benar benar tidak boleh diperlihatkan. Namun dalam genggaman pikiran Bram, ada apa sebenarnya Olive bisa membawanya kemari, sehingga ia pergi begitu Saja meninggalkannya. Apakah nyawa utusan langit juga bisa bahaya, ketika melakukan kesalahan layaknya manusia yang angkuh dan sombong tanpa disadarinya. Itu adalah benak Bram, kala Olive tiba di sampingnya.
HYAAAK ...
Di waktu bersamaan, dia mendorong tangan-tangan itu dengan seluruh tenaga dalamnya. Alhasil, kelima pria itu terpental beberapa langkah ke belakang.
Mereka yang masih menepi pun melongo melihat Bram, berhasil keluar dari kepungan tersebut.
Penonton pun semakin semangat bertepuk tangan. Baru kali ini duel yang tersaji begitu memanjakan mata mereka.
Sebelum-sebelumnya, semua penonton yakin, jika tidak ada petarung yang mampu lolos dari tiga puluh orang, sampai 50 orang tambahan Anggota Kampak Merah tanpa terluka.
Namun, hari ini pemuda yang bernama Bram itu membuat pertarungan menjadi memanas dan seru.
Kembali pada arena tanding. Kelima belas pria itu langsung berdiri dan bersama-sama ingin meninju serta memukul Bram, dalam satu waktu.
Bram menyeringai. Satu tangan berhasil dirinya tangkap. Lalu, di waktu bersamaan tinju keras datang dari arah belakang. Bram berhasil melengos, ia dapat membaca pola serangannya, wajar jika dari belakang adalah Olive yang menjaga diri Bram tidak terluka, hanya saja sebagian kekuatannya hilang karena dihukum, maka ia bisa membantu Bram tanpa diperlihatkan banyak manusia. Dia merunduk dan tinju tersebut mendarat pada pria di belakang Bram, yang saat itu Bram sedang bertarung dari arah depan
Tak berhenti sampai di situ saja. Dari sisi kiri pun datang tangan yang siap meninju wajahnya. Bram, juga berhasil menghindar dan kembali serangan itu mengenai lawannya dan bukan dirinya.
Pria yang tangannya digenggam itu langsung dipelintir, memutar tangannya ke belakang, lalu terdengar suara tulang yang seperti patah. Pria itu juga menjerit kesakitan.
KREEEEK
Serangan terkahir, Bram menendang pria itu hingga terlempar beberapa meter. Dirinya tidak berkedip setelah melumpuhkan lawannya.
Mereka yang masih berdiri pun menelan ludah berat-berat, bernapas juga tidak berani kencang-kencang.
"Ayo! Siapa lagi di antara kalian yang ingin kalah?"
__ADS_1
Mengalahkan satu orang membuatnya semakin gatal.
Pertarungan yang sudah separuh jalan itu, mau tidak mau harus segera diakhiri dengan segera.
Mereka yang masih tersisa pun langsung mengeroyok Bram kembali. Kali ini mereka menggunakan senjata berupa pisau kecil yang selalu ada di saku ******.
***** peraturan ini, senjata tidak dilarang. Akan tetapi, senjata yang dipakai harusnya pisau atau belati. Lebih dari itu, maka akan langsung didiskualifikasi karena sesungguhnya duel ini tidak mengharuskan salah satu lawan mati.
Melihat lawannya memakai belati, Bram pun mengeluarkan miliknya juga, yang ia juga bingung saat ia berada di butik ia tak membawanya. Belati pemberian Olive tempo hari sebagai hadiah karena telah mengembalikan senyuman semua orang. Dan dalam darurat, si Olive pun menaruh belatinya yang berada di rumah di saku celananya, yang entah dari kapan belati itu ada disana.
Bram juga masih ingat betul, bagaimana ketua organisasi Naga Buaya dulu mati saat tertusuk belati miliknya itu.
"Kali ini aku ingin menguji kehebatan belati ini lagi. Akankah benda kecil ini membawaku pada kemenangan? setelah sengatan listrik hilang." batinnya sambil menyeringai.
Dia langsung mengayunkan belatinya dengan gerakan cepat. Hasilnya tercipta gelombang kejut yang cukup tinggi, yang membuat lawannya bergidik ngeri.
Ada aura lain yang keluar dari belati itu saat digunakan. Bram juga merasakan ada dorongan kekuatan yang besar dari berlari itu.
SAT ..
SET ..
SAT ..
SET ...
Belati itu mencabik-cabik pakaian mereka dan membuat luka gores, luka yang cukup dalam di bidang bahu dua pria yang jaraknya berdirinya tidak jauh.
"Lawan pertama, silahkan maju!" pinta pria itu.
__ADS_1
Salah satu anggota Kampak Kembar itu maju beberapa langkah. Pun dengan Bram yang saat itu sudah melawan sekitar 35 orang, dengan rasa lelah.
Pandangannya dengan lawan tandingnya itu saling bertemu. Bram memasang tatapan tajam dan ekspresi datar-datar saja. Sementara, lawannya menunjukkan otot-otot tangannya yang kekar.
Bram menyunggingkan bibirnya, 'Inilah tanda-tanda dirinya harus menang,' batinnya terkekeh.
Pria yang bertindak sebagai wasit itu segera memberi aba-aba untuk Bram dan lawannya bersiap-siap.
Pada hitungan ketiga, Bram pun langsung menyerang.
BRUK ..
Bengkak tinjuan keras mendarat tepat di wajah pria itu. Saking kencangnya pukulan sampai membuat tulang hidungnya retak dan darah segar mengalir deras dari sana.
Bram tersenyum tipis. Perlawanannya tidak sampai di situ saja. Sebelum pria itu bersiap untuk menyerang, maka Bram mengambil cara lebih dulu, atau inisiatif untuk memukul duluan.
BRUK ..
Tinjuan keras mendarat tepat di wajah lawannya. Pukulan yang mengandung tenaga dalam, sangat tinggi itu mampu membuat lawannya tersungkur di tanah hanya dalam hitungan detik saja.
Bram berteriak untuk meminta lawannya itu agar berdiri, dan memberinya perlawanan yang berarti.
Pria itu naik pitam. Wajahnya sudah dua kali menerima pukulan keras sampai mengeluarkan darah segar. Ia tidak bisa memberikan anggota baru itu menang, tanpa mendapatkan perlawanan.
Yaaaachhh!!!
Sreng ...
Srang ...
__ADS_1
Bram seolah mengamuk, pria dari atas menatap ketangguhan Bram, dia juga berfikir jika semua anak buahnya kalah. Maka markas benar harus ditutup, dan pria itu yang akan disegani. Cercah Alex, entah pada siapa ia bicara, melalui sambung ponsel sambil menyaksikan pertandingan yang ia lihat benar benar keren.
TBC.