
Setelah dirasa Olive berbisik, ia sengaja mencari celah dimana bentuk cangkul besi, Bram segera mendorongnya. Lalu benar saja sebuah pintu yang sepanjang berapa meter itu terlihat mengerikan bagai jalan tikus.
"Kau yakin ini jalan tidak bahaya?"
"Cepatlah! aku sudah mengeceknya, dalam tiga puluh menit markas ini akan meledak."
Deuuugh!!
"Baiklah, aku segera menuju penjara wanita itu."
Bram tak sangka, ketika Olive hilang. Nyatanya ia sedang menjalankan siasat, membawa seluruh anggota kampak merah terkepung, dan Boom .. lenyap begitu saja!! Bram membuka satu persatu pada penjara lain, yang di rasa ia adalah orang pribumi dengan kondisi tubuh kurus memprihatinkan.
"Kalian cepat pergi keluar, jangan berisik! kalian akan bebas, markas ini akan meledak." seraya Bram menunjuk, dan beberapa orang merasa sedih bahagia, karena mereka bisa menghirup udara luar.
Hingga empat penjara, di rasa Bram telah membukanya. Bram segera menunjuk jalan pada dua belas orang untuk berjalan hati hati, dan menunggu Bram di luar terowongan!
Dan kini Bram menuju penjara terakhir, yang di rasa itu adalah wanita cantik yang diminta Carry si pria kerdil, tapi ia ketua tertinggi menjaganya. Maka Bram mendekati dan semoga wanita itu mau ikut keluar, mempercayainya jika ia tidaklah jahat, benar benar menolong para tahanan yang Bram saat ini lihat.
Biarpun pertemuannya belum ada satu jam, tetapi Bram sudah begitu mempercayai wanita itu. Sebegitu kesepian dirinya, hingga orang asing tanpa asal usulnya itu langsung dipercayainya?
Wanita itu tidak menjawab. Ia meraba-raba tempat duduknya mencari suatu, yang akhirnya berhasil memantik rasa penasaran Bram.
"Apa yang sedang kamu cari?" tanyanya yang ikut mencari-cari, meski tidak tahu apa yang sedang dicari.
"Aku sedang mencari tongkatku. Apa Kau melihat tongkatku?"
"Tongkat?"
Bram menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Keningnya mengerut, memperlihatkan dirinya lebih tua beberapa tahun.
Bram sedikit menjauh dari penjara itu, bergesek sedikit ke kanan, dilihatnya belakang gadis itu. "Itu, tongkatmu ada di pojok, geser tanganmu ke belakang!"
Bukan hanya sekedar memberitahu, tapi Bram juga mengarahkan wanita itu untuk menemukan tongkatnya.
Wanita itu mengikuti arahan dari Bram. Sekarang ia masih meraba-raba belakangnya.
"Apa dia buta?" batin Bram.
__ADS_1
Melihat wanita yang dikira sehat dan seperti tidak memiliki kekurangan itu, ternyata ia buta. Benar kala Bram melambai tangan nya, akan tetapi wanita itu tak berkedip masih mode pandangan lurus, meski tenang.
Wanita yang diwajibkan untuk dijaga itu, rupa-rupanya seorang tuna netra.
"Jika ia buta, itu artinya tidak mungkin ia bisa keluar tanpa diketahui, kecuali ..."
Bram menjeda kalimatnya, lamunannya langsung terpecah saat wanita itu berteriak. Ia merutuki dirinya yang masih belum bisa menemukan tongkatnya.
"Aaaarkh! dimana tongkatku.."
"Itu ada di sana! Kamu hampir mendapatkannya. Kamu hanya perlu bergerak agak ke atas sedikit saja." teriak Bram.
Wanita itu mengangguk. Biarpun matanya tidak dapat berfungsi normal layaknya manusia pada umumnya, tapi ia masih memiliki indra lainnya yang masih dapat digunakan.
Ia telah menggunakan indra pendengarannya untuk mengikuti setiap arahan pria itu.
Setelah pendengaran, maka indra peraba yang harus bekerja. "Ketemu!" teriaknya kegirangan saat berhasil menemukan tongkatnya yang berharga itu.
Saking senangnya ia sampai mengecup dan mengelus tongkat itu. Bram yang memperhatikan dari kejauhan, sedikit menebak bahwasanya tongkat itu begitu berarti.
Wanita itu menggunakan tongkatnya sebagai penunjuk jalan.
"Aku masih di sini!" serunya sengaja meninggikan suaranya agar wanita itu dapat mendengarnya jelas.
"Tuan." Wanita itu sumringah saat bisa mendengar suara Bram kembali.
"Panggil aku Bram. Aku bukan Tuan, hanya anggota biasa saja," aku Bram mundur beberapa langkah lagi, seraya melipat kedua tangannya.
"Hem, maaf B-R-A-M," balas wanita itu mengeja nama pemuda yang telah membantunya sebelum ini.
Wanita itu mengikuti dan memegang tangan Bram refleks, setelah Bram membuka pintu besi penjara. Suara riuh beberapa dari arah lain terdengar riuh ramai, Olive berbisik pada Bram agar segera cepat keluar! Mengingat sengatan bawah tanah, Olive kekurangan oksigen dan muncul sebagai asap tak terlihat. Bram yang menurut, bukan waktunya berdebat ia segera menuntun wanita cantik dengan tidak lengkap di bagian matanya, padahal matanya terlihat indah sesaat cahaya masuk dalam gua.
Perlu waktu lima belas menit, Bram pelan menyusuri goa itu, hingga sampai sebuah cahaya yang di rasa itu adalah dunia.
Akhirnya Bram senyum kala mereka telah keluar dari sarang markas, yang pintu depannya saja Bram tidak tahu lewat mana. Semua karena Olive yang menariknya hingga ia sampai mati, jika saja tidak banyak orang maka Bram sudah merogoh wajah Olive saat itu juga, agar ia tidak semena mena mengacaukan kegiatannya.
"Hore ... !! Kita selamat .." ujar pria kurus yang mendekat ke arah Bram, ia berterimakasih karena mereka sudah bisa keluar dari markas neraka.
__ADS_1
Tliing!
Olive pun muncul di belakang para pria yang di penjara tadi, mengagetkan kala Olive yang menyambar balas pria itu berterimakasih.
"Sama sama pak, saya hanya jembatan yang kebetulan terjebak, sebentar lagi mobil polisi datang dan tenaga medis. Kalian akan di Data dan pulang dengan selemat, keluarga kalian pasti sudah menunggu!
Oliver!! lirih Bram.
lagi lagi Bram kesal, si utusan langit itu tiba saja datang dengan wujud dirinya, kenapa di dalam goa dia tidak terlihat?! Meski para pria dipenjara itu sedikit kebingungan, karena di dalam goa ia hanya melihat pria bernama Bram.
Niiuuuu... Niiuuuu
( mobil ambulance )
Beberapa saat pun, seluruh pria yang diselamatkan dan wanita tak bisa melihat itu di antar oleh Olive, menuju mobil medis dan sudah ada pengawal polisi yang datang. Sehingga meninggalkan Bram yang Diam begitu saja.
"Kau boleh pulang! Sisanya aku akan menangani nya. Sebentar lagi Kekasihmu menjemput." ujar Olive, yang saat itu Bram mendengus kesal dan menyilang kan alisnya.
"Baiklah, terserah anda saja Tuan Langit ..." cetus Bram, yang kala itu duduk jongkok, nada lemas.
Tak lupa para pria yang di tolong tadi oleh Bram dan seorang wanita tuna netra tadi, mengucap terimakasih pada Bram, meski wanita itu tak melihat wajah Bram seperti apa. Akan tetapi ada rasa bahagia ketika Bram sudah menolong mereka semua.
Hingga dijalan, Bram mendengus kesal karena rencana pulang cepat hari ini gagal sudah. Rupanya keberuntungan yang dimiliki masih belum berubah. Dia melihat ke arah jalan besar, yang sudah berubah warna sedikit gersang. Dia menghela napas dalam kemudian. Terpaksa dia harus bersabar jalan kaki dulu, sampai Elea menyusulnya.
“Kenapa harus di persimpangan ini sih?” keluh Bram, kesal. Karena jalan itu mirip gurun pasir, bisa bisanya Olive tak ajak Bram untuk pulang juga.
Di persimpangan ini memang terkenal dengan lampu hijaunya sangat pendek, sedangkan lampu merahnya sangat lama sekali. Bram menjauh menunggu Elea di persimpangan, kala Mobil Olive, polisi dan medis telah hilang dari pandangan Bram.
Kemudian mata Bram menatap jauh ke depan. Lalu beberapa detik kemudian, dia melihat sebuah pintu mirip gorong gorong tadi, yang ia lewati bergoyang tanahnya bergerak semakin kencang! Bram pun menunduk tiarap, sambil memperhatikan.
BOOM ...
BOOM ...
DUAAAR ...
Bram melihat markas itu meledak, dalam beberapa saat Bram ikut lemas. Karena baru kali ini ia melihat sebuah gudang bawah tanah meledak seperti gunung yang mengeluarkan lahar ke atas langit.
__ADS_1
TBC.