
Zie tersenyum, dan melihat cahaya itu hingga silau menerangi tapi tak bisa ia raih.
"Zie kamu kenapa? sus..., suster mohon bantuan!" ucap Mikha.
Mikha terkejut, karena pucat basi Zie tubuhnya menjadi kuning, dan putih pucat. Bahkan ia tak menyangka dan kebingungan saat ini, Damar saja belum tiba, Om Bram pun sedang mengurus yang lainnya.
"Dok, tolong periksa dan sembuhkan kerabat saya! saya segera menghubungi keluarganya."
"Silahkan tunggu di luar ya bu!" ujar suster mendorong ranjang ke ruang Igd.
Hello Nar? kamu dimana bisa hubungi keluarga Zie dan Merli, aku tak punya no kontak nya!!
Mikha, ada apa kamu kok panik? jelaskan ada apa pelan pelan!!
Mikha pun menjelaskan, dan Nar segera mengabarkan keluarga Zie, yang tak lama akan menuju rumah sakit.
Sementara Di Tempat Lain.
Plaaagh .. tamparan Bram pada Sena.
"Kenapa Om menamparku, aku bisa saja membuat Om menyesal?"
"Dasar wanita tak berterimakasih kamu Sena, menyesal Om menolong kamu. Jika bukan karena kamu teman Damar, Om sudah menduga kamu berpengaruh tidak baik, sehingga saat itu, Om membiarkan Damar mempunyai hubungan dengan Arini, harusnya kalian tak berteman lama. Arini saja sudah ikhlas jika tak berjodoh kenapa obsesi tinggi mu seperti ini, melampiaskan pada yang tak bersalah?" kecam Bram.
"Om, karena perubahan Om dan Damar padaku berubah, dan memilih Siren mendampingi Damar, aku doakan Siren tidak selamat ataupun bayinya. Hahaha."
Sena pun tertawa sehingga Bram akan membuat tamparan, dan dihentikan oleh Dani.
"Om, sudahlah biarkan hukum yang melanjutkan. Soal video itu Darwin akan membantunya. Lebih baik kita kembali ke rumah sakit, atau Om pulang, biar Dani antar."
Bram pergi bersama Dani, dan menyuruh asistennya untuk kembali ke rumah, dan berjaga jaga.
"Om ga habis pikir, kenapa Siren jadi korban, kasian anak itu, selalu menimpa, kamu tahu kan Dani, saat pertama kali menjalin dengan Damar. Om tidak tahu jika ada masalah sama dengan Alex, sekarang dia harus menanggung lagi karena masa lalu Damar. Cinta itu tidak bisa dipaksa, Om juga kasihan karena ia kembali menanggung, bayi itu cucuku bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka, dulu Om tidak merestui mereka menikah, tapi Damar tahu yang terbaik untuk menjadi istrinya." jelas Bram menangis, teringat akan kisahnya dengan mendiang istrinya Elea.
Tiba dirumah sakit.
"Ada apa ini kenapa ramai?" Bram kebingungan karena keluarga Nar, datang bersama keluarga Zie, dan ada Kenan.
"Mikha ada apa ini?"
"Om, Siren kritis sedang ditangani dokter, belum lama Zie juga pingsan, dan kritis bersamaan. Di duga karena Zie mendonorkan darah untuk Siren, dalam keadaan asupan gizi makanan tak satupun."
"Apa ..., ya tuhan aku pasrahkan semuanya." Bram pun duduk lemas tak berkata.
"Mikha. Apa Zie mendonorkan belum makan, Ric bilang kalau Zie saat pertemuan di paris dia tidak teratur akan makan dan vitamin obat yang dikonsumsi selalu dilupakan, dan ia kembali ke jakarta karena tugas dr ka Titan."
__ADS_1
"Apa, memang Zie sakit Nar?"
"Tidak tahu pasti, tapi Merli memang selalu sibuk tak memperhatikan Zie, tapi tenanglah sebentar kita akan tahu apa penyebabnya." ucap Nar pada Mikha.
Beberapa Jam Kemudian.
Damar dan Rick datang, dari paris.
"Dad, bagaimana keadaan Siren?" berlari Damar dengan khawatir.
Bram pun menenangkan saat Damar tiba, dan menjelaskan jika saat ini kritis.
Mikha sebagai saksi kunci, ia jelaskan, apa yang terjadi.
"Sena bagaimana dia, aku akan menghampiri membuat perhitungan pada wanita itu."
"Damar, bersabarlah semua sudah ditangani, tenangkan lah dirimu, jangan seperti ini. Fokus kesembuhan Siren, aku paham kamu khawatir! kami pun sama Damar." ujar Mikha.
Sehingga Damar duduk diam dan menangis menutupi matanya.
Beberapa kerabat mendekat dan menyabarkan Bram, mereka pun sama sedihnya. Belum lagi Zie, dan Mikha teringat akan masa lalu, mengapa Zie tepat membantunya dan bersamaan mereka kritis.
'Apa mereka memang jodoh yang terputus, sehingga tuhan akan menyatukannya kembali.'
"Hei, Mikha kamu melamun apa?"
Tak lama Merli datang, dan tiba juga tuan Hari, adik dari Bram.
Mikha, sudah malam bisa kembali esok!! Mikha pun pamit.
"Mikha, makasih ya." ucap Damar dan Dady Bram.
"Sama-sama. Damar antarkan papamu di rumah, kasihan sudah malam."
"Tak apa, om Bram aku antarkan saja." ucap Dani, menatap Mikha serta Pria berumur itu,
sehingga berdatangan dan sekeluarga pergi bergantian.
"Dady hati- hati, Damar akan menjaga Siren.
Pak Tor sedang dijalan membawa baju dan berkas Damar ke rumah sakit, Damar akan tidur menemani Siren, Damar tidak akan melupakan tanggung jawab perusahaan sistem yang sedang menurun. Dani aku titip papaku, and terimakasih."
"Sama sama bro."
Dani pun mengiyakan dan menepuk pundak Damar agar kuat tabah.
__ADS_1
***
"Sayang, bangunlah aku sudah kembali. Bahkan aku membelikan mu sesuatu. Aku membawakan es krim coklat mint lumer dari paris, kesukaanmu, hingga kini cair, dan bangunlah kita makan bersama."
Damar memegang tangan istrinya, dan membangun segala kisah cinta mereka agar Siren terbangun dari koma.
Sayang, bangunlah demi kita, demi anak kita kamu harus bangun sayang, aku tak bisa tanpamu.
"Bagaimana keadaan Siren, Damar?" ucap Merli menghampiri.
"Merli, aku tidak tahu aku yakin sebentar Siren sembuh, aku tidak bisa seperti ini. Aku lemah jika Siren seperti ini."
"Lalu bagaimana suamimu, maafkan karena menolong Siren, ia jadi ikut kritis!"
"Sedang ditangani dokter, aku akan pulang esok kembali bersama Isa, aku titip ya di kamar sebelah."
Damar pun terdiam meng-iyakan.
"Damar apa aku boleh bertanya satu hal?"
"Apa Merli, kamu ingin bertanya apa?"
"Aku memikirkan telah lama, apa mungkin keadaan Siren dan Zie yang sama sama kritis akan tidak tertolong, mereka memang..."
"Cukup Merli! Siren sudah berjodoh denganku. Doakan saja suamimu jangan mengungkit masa lalu, aku tidak ingin berfikir demikian, Siren akan sembuh dia tak boleh meninggalkanku."
Damar yang rapuh, ia menangis, memohon mencium Siren. Sementara Merli keponakan Damar sedikit cemas. Ia memang berharap itu tidak terjadi, andai Zie memperlakukan ku sama seperti yang Siren alami.
'Oh, kamu begitu banyak dicintai pria setulus Damar dan Zie, Siren.' batin Merli.
Sehingga Merli melangkah dan pergi. Terlihat Nar, mengantar Merli dan pulang, tak lama Ric datang menjemput mengantar.
Sepekan Kemudian.
"Sayang, bangunlah jangan seperti ini. Jika kamu tidak bangun, jangan buat aku berfikir kamu akan meninggalkanku dan kamu benar benar berjodoh dengan Zie. Bangun Siren, bangun sayang, kamu sudah tertidur satu minggu bangunlah."
Dani pun menepuk pundak Damar untuk menguatkan.
"Jangan bersikap seperti ini Damar, ayo kita ke musholla kita doakan agar Siren dan Zie pun segera sadar dan pulih!"
Sudah sepekan Siren masih dalam koma, tak sedikitpun dokter memberikan cairan agar kandungan Siren tetap kuat selama dalam koma.
Tlith.
Dering ponsel Damar, dimana ia juga kesal kala paman Alex memintanya kembali ke paris, demi sistem pemulihan versi terbaru segera rilis dengan kehadirannya, tapi Damar mengabaikan karena istrinya belum sadar.
__ADS_1
TBC.