Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PELAKUNYA BUKAN SAGA


__ADS_3

Kristal dan Bram, selama dua jam mereka berpisah. Hal itu membuat Bram bertemu Saga! Dan Saga menjelaskan apa yang dilakukan bukan olehnya, atau ayah angkatnya. Melainkan mafia kelas kakap yang ingin merebut lahan Bram seratus persen.


"Hai, namaku Saga Taylor. Orang-orang acap kali menyebutku Mafia Kelas Kakap. Mungkin karena aku yang belum mahir dalam bela diri, tapi hari ini akan kubuktikan bahwasanya, aku bukanlah Mafia seperti yang mereka pikirkan. Ada dalang dibalik rencana liciknya."


Saga membawa Bram, ia memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman sebuah gedung yang jika dilihat dari fisiknya, sudah seperti bangunan lama yang terbengkalai.


Bangunan yang hanya memiliki tiga lantai itu sudah dipenuhi jaring laba-laba, serta warna cat yang telah memudar. Tidak tahu warnanya putih atau abu-abu lantaran sudah tertutup debu yang sangat tebal.


Pemuda yang baru saja merayakan ulang tahun itu, membanting pintu mobilnya hingga menciptakan suara keras dan terkesan dramatis, layaknya film action yang ditayangkan di televisi.


Tak lupa benda kecil, imut, tapi mematikan itu dibawanya. Bentuknya memiliki gagang kayu pada pegangannya dan tajam di sisi berbeda. Sedikit saja digoreskan pada kulit, maka akan mengeluarkan darah dan mampu membunuh satu hingga lima ekor ikan dalam satu waktu.


"Masuklah kedalam, aku hanya membantumu sampai sini, dia adalah orang berpengaruh setelah ayah angkatku!" ujar Saga, menunggu dibalik pintu.


Sementara Bram, ia segera masuk ke dalam seorang diri dengan satu helaan nafas.


Setelah masuk, Bram mengepalkan kedua tangannya erat-erat layaknya tahu bulat yang digoreng dadakan. Bram membawa langkah beratnya menuju pintu di ujung sana. Dari balik pintu itu, akan ada hal yang bisa mengubah nasib seseorang, termasuk pemuda, pemilik nama tersebut.


"Siapa kau?" ujar pria lain terusik dari kandangnya.


Saking kerasnya Bram mendobrak, pintu itu sampai kehilangan satu bautnya. Ketika pintu telah terbuka, Bram langsung saja dihadapkan dengan masalah yang telah dinantinya sejak beberapa tahun belakangan. Lima pria dewasa, postur tubuh lebih besar darinya, membawa celurit dan benda tajam lainnya. Beberapa bagian wajah dipenuhi bekas jahitan, Bram pun menelan ludahnya berat-berat.


"Oh, rupanya ada tikus kecil yang salah masuk tempat sepertinya?" Salah satu pria berujar, menganggap kehadiran Bram bukanlah perkara yang harus ditakutkan.


Tampak pria yang lebih tinggi dari kelimanya menyunggingkan bibir, memandang Bram dari ujung rambut sampai ujung kaki, "Kayaknya dia mau cari mati di sini?"


"Atau jangan-jangan, dia mengira tempat ini taman bermain kali?" seloroh pria membawa celurit, tato Naga di lengan atas kirinya, ikut menimpali.

__ADS_1


Menjadi bahan olok-olokan para pria dewasa di sana, tak serta merta membuat Bram menurunkan kewaspadaannya. Sebaliknya, dia semakin mempererat genggamannya pada belati yang selama satu tahun terakhir telah menemani hari-harinya.


"Lihat saja, bahkan dia hanya memiliki satu senjata, itupun hanya sebuah belati kecil, yang mungkin hanya bisa melukai kulit saja," cibir pria yang sebelah matanya tertutup kain hitam.


"Apa kalian sudah puas bicaranya?" Bram menautkan kedua alisnya.


Ucapannya kini telah membuat suhu ruangan memanas dalam waktu kurang dari lima detik. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak kepanasan hanya karena satu kalimat saja.


"Bedebah!" umpat kesal pria berkacamata hitam, sambil membuang puntung rokok yang hanya tersisa seujung kuku tersebut.


"Sampah ini semakin didiamkan, ternyata semakin ngelunjak!"


Bram tersenyum penuh kemenangan, saat dari mereka terusik. "Hahaha ... Ternyata orang-orang organisasi Naga hanya banyak bicara saja, kemampuannya sama sekali tidak ada," cibirnya kemudian.


Bram dengan gamblang mengangkat sebelah tangannya, lalu ibu jarinya yang diputar ke bawah, menunjukkan bahwasanya mereka itu lemah dan bukan apa-apa bagi dirinya.


Emosinya tak lagi bisa terkontrol. Namun, Bram menyukainya. Ya, inilah yang pemuda genap dua puluh tujuh tahun itu nantikan. Kedatangannya memang ingin membuat keributan, kekacauan bagi Organisasi Naga Buaya yang telah merenggut bisnisnya menjadi terhambat. Bram tidak suka, sekelas preman, mafia pun mengecoh usaha bisnisnya bagai pengemis kelas kakap meminta jatah, tanpa orang itu kerja keras.


Bram, memasang kuda-kuda yang telah dilatihnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Tidak lupa bibir disunggingkan, menautkan sebelas alisnya dan mengangkat satu tangan, menantang kelima pria dewasa di depannya untuk maju bersama-sama.


Tak akan menjadi masalah bagi Bram, jikalau memang mereka ingin mengeroyok, menyerang dalam satu waktu. Cepat atau lambat dirinya memang harus menghadapi kelima pria, yang dilihat dari postur tubuhnya saja sudah jauh berbeda. Alangkah baiknya, mereka maju bersama-sama karena akan menghemat waktu yang ada, tapi tenaga yang diperlukan pun lebih besar daripada menghadapi satu orang saja.


"Sialan banget ini Bocah! Benar-benar mau cari mati, ternyata!" Pria yang lebih tinggi dari kelimanya terus-menerus mengumpat, berdengus kesal, lantaran Bram semakin bertingkah.


"Hajar saja langsung, Bos. Tidak usah beri dia waktu lama-lama untuk bernapas. Langsung saja kita sikat dia, Bos," hasut pria yang sebelah matanya tertutup kain mirip celemek dapur.


Bukan hanya ia saja yang kesal, emosi dan dongkol, tapi penghuni lainnya pun ikut menyuarakan hal sama. Kehadiran Bram layak untuk ditindaklanjuti. Pemuda yang jelas-jelas tidak mereka kenal itu patut untuk diberitahu, bahwasanya ia telah salah masuk kandang.

__ADS_1


"Aku tidak salah masuk kandang, seperti yang kalian bayangkan!" seru Bram, tanpa menurunkan sedikitpun kewaspadaannya. Bibirnya tersungging, menunjukkan senyuman penuh kemenangan.


Kuda-kuda yang sudah terpasang kokoh, belati di tangan kanan telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi sesaat lagi. Bram telah menyiapkan mental dan fisiknya selama beberapa tahun belakangan. Waktu yang cukup lama baginya untuk meningkatkan kemampuannya.


"Bedebah!" teriak pria paling tinggi, yang diketahui ialah pemimpin kelompok kecil tersebut.


Bram menarik napasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya mengambil langkah cepat yang disertai teriakan keras untuk memacu semua orang di sana agar menyerangnya bersama-sama.


Lawannya itu mengeluarkan pisau yang jelas-jelas ukurannya lebih besar dari milik Bram. Bukannya ia tidak memiliki senjata yang lebih hebat dari pisau. Akan tetapi, ia ingin melihat sejauh mana kehebatan pemuda yang berani menantang Organisasi Naga Buaya itu.


CLANG ....


Sreeeeth!!


"Kau cari mati, siapa kau tadi...?" ucap pria jangkung itu.


"Bram Hartanto, aku tidak akan membiarkan kalian mencuri lahan bisnisku lagi, terbukti kau hancurkan club light milik papaku juga. Jadi aku ingin kalian berhenti merusak lahan desa S atau kalian akan mati saat ini juga!" ungkap Bram.


Haahahaha!!


Serius, coba buktikan!!


Pedang mereka tak dapat menembus tangan Bram, ia yang telah banyak asam garam. Dihina, bahkan saat ini cukup bela diri saat digunung emas, melawan Kristal demi mencapai bukit pesanan 100kg emas. Telah Bram lewati, jadi saat ini melawan mafia palsu akan Bram hentikan demi mereka tidak berulah lagi. Melawan manusia jadi jadian saja, Bram bisa taklukan! apalagi mafia palsu seperti mereka yang ingin kaya hanya dengan meminta jatah.


Tlith!!


[ Bram, kode xxx0091. Majulah ke arah selatan, cari tombol kode naga, pencet kode agar tersambung ruangan bantuan polisi terdekat! Misi rekam cctv otomatis untuk bukti mereka bersalah. ] pesan system, membuat Bram teringat.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2