Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
TERSEDAK MINUMAN


__ADS_3

Pegangan dalam hidup yang paling sulit didapatkan, namun paling mudah dihancurkan adalah kepercayaan.


Sekali kepercayaan itu hilang, jangankan mendapat kesempatan. Masih dibiarkan dekat itu pun sudah sebuah keberuntungan.


Bram, benci dengan orang yang mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain.


Berada dalam dunia bisnis, jelas Bram akan menemui manusia-manusia penjilat berwajah dua.


Karena, dia sendiri juga demikian. Hanya saja, jika sebuah kepercayaan diberikan kepadanya. Dia akan menjaga kepercayaan itu dengan sepenuh hati, sebab baik buruk perbuatan yang kamu lakukan. Pada akhirnya akan kembali pada dirimu sendiri juga.


Bram berusaha menyembunyikan seringai sinis di wajahnya.


Dia ingin melihat, alasan apa yang akan digunakan oleh mandor bangunan itu.


"Tentu saja, Pak. Tidak masalah, aku justru senang jika mendapat privilege dari anda."


Entah mendapat kepercayaan diri dari mana pria tersebut, sampai keangkuhannya kembali.


Tidak habis akal, Bram mengangguk tanpa ragu."Bagus. Saya suka dengan keyakinan anda."


Menautkan kedua tangannya di punggung, Bram mengamati kerangka bangunan sekali lagi.


"Menggunakan bahan material tipe tiga, kualitas besi standar. Campuran cor yang tidak seimbang, berapa banyak uang yang sudah masuk ke dalam rekening pribadi anda, Pak Wirawan?"


Bram mendekati kerangka bangunan yang terlihat ringkih tersebut, di sisi lain Kenan was-was jika terjadi sesuatu.


Para pekerja proyek pun ketar-ketir, jika sampai ada masalah. Pasti mereka akan ikut terseret, apalagi jika yang menjadi korban adalah CEO S Konstruksi.


Wirawan sendiri sudah memperhitungkan, kecerobohan Bram, tentu sangat menguntungkan baginya. Jika Bangunan tersebut runtuh, dia bisa mengatakan jika itu kecelakaan kerja.


"Pak Wirawan sini." Bram melambaikan tangan dengan riang, seolah mengajak temannya bermain.


Mendekat dengan hati-hati sambil melirik ke atas berkali-kali, dalam hati Wirawan berdoa semoga bangunan tersebut tidak runtuh dalam waktu dekat.


"Bagaimana jika aku menghancurkan pondasi kerangka bangunan ini, satu saja." Bram memberi kode pada salah satu pekerja proyek, agar memberinya palu besi.


"Pak, ini bahaya," ucap Prio yang memberikan palu besi pada Bram.


Tidak perduli, Bram mengangkat palu tersebut tinggi-tinggi.


"Tunggu-tunggu, Pak. Saya mohon jangan." Wirawan menangkupkan kedua tangannya.


"Kenapa?" tanya Bram dengan nada datar.


"Anda mengatakan jika anda mau tinggal di gedung ini bukan? Jadi tidak masalah jika saya menghancurkan salah satu pondasi bangunan ini. Jika memang bangunan tersebut kuat," desisnya.

__ADS_1


Wirawan tidak bisa menjawab pertanyaan Bram, sebab dia telah menyelewengkan dana yang harus digunakan untuk pembangunan gedung tersebut.


Biasanya, dia tidak pernah mengalami yang seperti ini. Baru kali ini dia ketahuan saat menilap dana dari kantor.


"Saya bisa menuntut anda, karena anda telah melakukan penipuan dan pencucian uang. Tapi, karena saya masih berbaik hati. Mungkin saja keluarga anda sedang menanti anda di rumah, maka, anda saya pecat," putus Bram tanpa basa-basi.


"Kalian semua, hancurkan gedung ini dan bangun ulang! Pak Prio, saya percayakan pembangunan gedung ini di tangan anda. Saya harap anda tidak merusak kepercayaan saya." Setelah melihat watak dan sikap Prio yang setia kepada kawannya. Bram mencoba untuk percaya kepada orang asing kembali, meski sangat sulit baginya.


"Maksud bapak, saya?"


"Kau Prio, tidak dengar. Itu artinya kau gantikan jadi mandor Wirawan. Ingat, kepercayaan dan kejujuran pak Bram inginkan." cetus Kenan, mengekor Bram.


"Terimakasih pak." berkaca kaca Prio.


"Cepat ke dalam kantor, kita urus semuanya!" ujar Kenan, meminta seluruh pekerja dan Prio hadir, meninggalkan Wirawan yang menyesal dan sibuk menghubungi seseorang, atau sekedar mencari pembelaan.


Beberapa Jam Kemudian :


Setelah orang yang dia anggap sangat dekat, ternyata malah merusaknya begitu parah. Bram meninggalkan lokasi proyek, setelah memastikan Prio menerima pengalihan kontrak kerja darinya.


Begitu mobil yang ditumpangi Bram berlalu dari sana, Wirawan mengeluarkan ponselnya. Sambil berjalan menjauhi lokasi proyek, dia menelfon seseorang.


"Selamat sore, Pak ...." ujar Prio, dan pekerja lainnya setelah mendapat tugas dari Bram, kini bos mereka adalah Bram, atau Kenan ketika Bram tidak bisa hadir, yang harus mereka patuhi.


Para pekerja pun amat senang, menerima bonus untuk mengulang proyek dari awal, sekaligus pembayaran gaji tiga minggu mereka yang belum dibayarkan tunai di berikan pada Bram tadi melalui sebuah cek, agar Prio urus esok pagi.


Resto Sushi.


Sepanjang perjalanan kembali dari lokasi proyek, Bram menjadi pendiam. Ditambah Damar, yang masih lelap dalam pelukannya.


"Daddy," igau Damar sambil menyurukkan kepalanya di bahu Bram.


Mau tak mau, Bram keluar dari lamunannya dan memposisikan Damar, agar tidur dengan nyaman dalam pelukannya.


"Daddy lapar," bisik Damar yang sudah terbangun tapi enggan membuka mata. Dia lebih memilih mengeratkan pelukannya pada sang ayah.


"Oh. Anak Daddy sudah bangun?"


"Belum, Damar masih tidur," jawabnya.


"Ah. Masih tidur rupanya, baiklah kita langsung pulang saja Ken," titah Bram menggoda putranya.


"No no! Damar sudah bangun oke." Dengan sigap Damar, menegakkan punggungnya dengan mata yang dia paksa terbuka.


Tawa kecil Bram keluar begitu melihat putranya, yang sangat menggemaskan. Kenan sendiri menghela nafas lega, saat Bram sudah kembali nampak ceria. Tidak muram seperti sebelumnya, dia merasa seolah atasannya itu tidak cocok untuk bersedih.

__ADS_1


"Mau sushi?" Sushi adalah makanan favorit Elea ketika dia hamil, tapi Damar tidak terlalu suka. Bukan tidak mau, hanya saja dia memiliki alasannya sendiri.


"No."


"Why Boy?" Bram pura-pura tidak tahu perihal alasan putranya yang tidak menyukai sushi.


"Damar nggak bisa pakai sumpit, Daddy," rajuk bocah itu dengan bibir mencebik.


"Oke. Nanti Daddy suapi Damar," bujuk Bram setelah terkekeh. Menggoda Damar, akan selalu memperbaiki mood-nya.


"Good. Tapi nanti minta sama koki-nya, suruh potong sushi-nya tipis-tipis."


"Oke-oke, bibirmu terlalu mungil untuk sushi yang besar," ejek Bram pada Damar.


"Baiklah, Damar tidak bisa menyangkal itu." Menerima kekalahannya dengan sportif, Damar, memilih memalingkan wajah.


Kenan yang sejatinya datar, sampai tersenyum lebar melihat tingkah dan celotehan Damar yang menggemaskan. Membuatnya ingin memiliki satu yang seperti bocah itu.


Sampai di kedai sushi, dengan semangat Damar memesan sendiri sushi yang dia inginkan.


Persis seperti pesanannya, sushi-nya dipotong tipis-tipis. Sehingga memudahkan dirinya untuk melahap makanan tersebut.


Kenan agak sungkan duduk se meja dengan atasannya, namun tidak bisa berbuat banyak, saat Bram mengkode agar dia turut duduk bersamanya dan Damar.


"Bagaimana perkembangan PT Gold Corp Miror, Ken?" tanya Bram, ketika dia selesai menyuapi Damar. Sekarang bocah itu sedang berkutat dengan menu-menu yang bisa dia ambil dengan tangan.


"Perkembangannya cukup bagus, Tuan. Penerimaan market juga bagus, apalagi Tuan memperkerjakan orang-orang yang profesional dan teliti. Beberapa review dari klien menyatakan jika mereka puas dengan kinerja HARI, upah petani dan warga sudah di atasi Hari, ada satu pekerja yang tidak membayarkan karena dirinya terpaksa memakai uang upah, alasannya membayar hutangnya pada seorang rentenir," papar Kenan mengaduk-aduk lemon tea pesanannya.


"Bagus. Apa ada yang tahu siapa yang memegang kendali, Kalau begitu kita tidak perlu datang jika Hari sudah handle bukan?"


"Sejauh ini tidak ada, kinerja Hari benar-benar detail dan terperinci. Sehingga tidak ada yang bisa mengulik informasi mengenai Corp Miror."


Kenan tidak bisa tidak memuji Hari, sebab temannya adalah di bantu Alex, pemuda tanggung itu benar-benar sangat berbakat di bidang software. Sehingga system kantor corp miror teratasi, dan Hari bisa fokus memantau saja, sementara Alex diperkerjakan agar system komputer situs semakin canggih, dan menarik peminat prodak yang Bram miliki, untuk membeli atau sekelas memakai jasa perusahaannya.


Bram fokus ke S kohtruksi, setelah timun emas di pabrik gold Corp miror baik baik saja saat ini, ia tahu dengan jelas, jika ada beberapa dewan direksi yang tidak menyukai keberadaannya di S Konstruksi.


Dia membuat rencana cadangan, supaya tidak keteteran ketika ditendang dari perusahaan tersebut.


Meski dia menantu dari Handaru, bukan tidak mungkin. Anggota dewan direksi mendepaknya dari kantor, hanya dengan sedikit masalah lalu fitnah semua bisa dilakukan. Apalagi jika uang yang sudah berbicara, masalah yang paling rumit pun bisa selesai seketika begitu juga sebaliknya.


"Daddy, kapan aku punya mommy lagi?"


Bram tersedak oleh pertanyaan Damar, ketika dirinya sedang fokus berbicara soal perusahaan dan pabrik.


Wuuuuargh! tersedak Bram.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2