
Sekembali Kenan, bertemu Bram. Ia harus mempelajari bicara yang mulus, bertemu tuan Tjandra.
Klek
"Jangan melangkah, pakai sendal di pintu kamar mandi dulu, Jingga! Terus kita berangkat."
"Sepatuku?"
"Kakimu terluka tadi, pakai sendal aja sih!"
'Keren perhatiannya! Hihi!' ada senyum di bibir Kenan, sejuk sangat ketika dia melihat Kenan menaruh tas jinjingannya di gagang koper sambil bicara tadi.
'Fokus Jingga, fokus, fokus, fokus! dia hanya asisten Bram.' Jingga memerintahkan dirinya sudah seperti film Masha and the Bear, sebelum dia bicara.
"Kau hanya membawa itu saja?" tanya Jingga melihat hanya satu tas jinjing yang tidak penuh juga isinya yang sudah dirapikan oleh Kenan. Sengaja di taruh pria itu di atas koper Jingga.
"Iya cuman ini aja!" jawab Kenan lagi yang memang tak punya banyak barang dengan back pack tentu saja yang berisi laptop, tapi dipakai tak di punggung, justru di bagian depan tubuhnya
"Sudah telat nih! Kita berangkat sekarang, ya?" tanya Kenan lagi, sudah ketar ketir melihat jamnya, takut tuan Bram telah menunggu lama.
"Oh iya aku sudah siap!"
"Dan pakai ini, topi, kacamata, juga masker supaya ga ada yang mengenalimu, Jingga!"
'Haduh, dia kok baik banget dan perhatian banget sih! Dia gendong aku, bawa tasku, dan dia keren, melangkah kayak ga keberatan sama tubuhku, hihihi!' di balik wajahnya yang tertutup itu, Jingga sungguh bahagia. 'Meski dia ga sama sekali mencintaiku atau punya feeling, tetep aja ini keliatan romantis, hahaha! Mikir apa aku? fokus Jingga!' serunya tak ingin berpikir makin ngaco.
"Kau tidak mengembalikan kuncinya?" tanya Jingga mengalihkan pikirannya sekaligus penasaran karena tak lihat Bram yang berjalan meninggalkan cottage-nya sambil mengantongi kunci pintu dan tak dihampiri penjaga cottage, apalagi hanya Kenan saja kali ini.
“Oh, Tuan Bram menyewa tempat ini selama setahun. Jadi aku tidak perlu mengembalikannya sekarang! Aku cuma pergi beberapa hari, kan?”
"Iya sih." Jingga pun mengganggukan kepalanya, masih berapa bulan lagi habis?"
"Aku baru perpanjang beberapa hari lalu, masih cukup untuk setahun ke depan!"
“Perpanjang? Jadi kau sudah tinggal di sini beberapa tahun?"
Kepo, maklumlah Jingga banyak ingin tahu sehingga membuat Kenan, menghela napas sebentar sebelum menjawab.
'Cewek ni, ga tahu apa tubuhnya berat? Sudah digendong masih juga harus membuatku lelah dengan menjawab pertanyaannya! Tau gitu aku biarin dia jalan di pasir! eh, tapi nanti aku juga yang repot kalau dia infeksi kakinya! Haaah!' serba salah untuk Kenan yang pikirannya lurus-lurus saja dan jauh berpikir ke depan bukan seperti Jingga yang hanya sebatas ujung galah.
"Tiga tahun kurang lebih,” Kenan akhirnya menyahut.
__ADS_1
“Lama juga ya!" Jingga mengomentari dan lalu pekerjaanmu--" Jingga tak melanjutkan pertanyaannya.
Justru berbisik lirih di belakang Kenan ketakutan
"Tenang, ga usah liatin mereka. Para pencari berita itu ga tau yang dibelakangku, asal kau tak aneh-aneh!" Kenan berbisik, setelah ia mempelajari semua hal kata kata Tuan Bram.
'Benarkah?'
Jingga tak yakin, tapi dia menurut. Jingga mengeratkan pegangannya pada Kenan.
"Bersandar di punggungku, palingkan wajahmu seakan kau memang menikmati aku gendong, seperti kekasihku!" seru Kenan lagi mengingatkan, tentu saja membuat Jingga melakukannya dengan senang hati
dag dug dag dug!
'Huh, kenapa detak jantungmu membuatku nyaman, Ken? Bunyinya menentramkan jiwa!' seru hati Jingga yang sedikit terbuai. Dia menikmati itu, sungguh hatinya terasa adem.
"Ben, antarkan kami cepat!" titah Ken.
Tanpa sadar, mereka sudah di Jetty Port. Bram berjalan cukup cepat dan melihat Kenan menggendong Jingga.
'Wajar dia sudah bertahun-tahun. Pantas dia punya kenalan!' pikir Jingga, di saat Kenan memanggil nama seorang pria asli pulau Boracay dan menuju ke boat-nya.
"Kau menyuruhku menunggu untuk mengantarkan kalian?"
"Ya! Cepat Ben! aku ga mau ketinggalan pesawat. Urgent!"
"Kenan, apa pria tadi, si Benjie kekasihmu?" tanya Jingga saat mereka sudah turun dari boat dan menuju ke airport pertama.
"Bukan." Kenan menjawab singkat sambil satu tangannya mendorong koper dan satunya menyanggah tubuh Jingga di belakangnya.
"Dia menyukaimu?" Jingga masih mengejar saat dirinya didudukan Kenan, di kendaraan shuttle ke airport.
"Mungkin!"
"Jadi dia tahu kau suka--"
“Tahu, kami mengobrol!" Kenan jawab singkat-singkat saja, semoga dengan begitu Jingga tidak pecicilan lagi. Pantas saja tuan Bram menolak mentah mentah, rupanya Jingga mirip seperti Via.
"Lalu apa dia juga--"
"Kau mau menjadi reporter kah, Jingga?"
__ADS_1
"Hehehe ...,” Jingga tak melanjutkan. Pria itu nampaknya terganggu dengan kecerewetannya. Maka Jingga memilih memalingkan wajahnya menikmati alam.
"Jing, udah check in kan?"
"Jingga, lengkap dong panggil nama aku. Oh, i-iya udah Ken."
Jingga gelagapan dan menunjukkan check in elektroniknya, dengan matanya dari samping memperhatikan Kenan.
'Fuuh, ngapain dia dari tadi curi pandang terus? Ish, gini ga sukanya aku ma cewek! cerewet, ga jelas!' seru Kenan tanpa berpikir kalau dulu dia pun cerewet tak ada hentinya saat bersama.
‘Sayang saja Bram dan asistennya tidak menyukai Wanita.' sama halnya dengan Jingga, dia juga mengomentari sikap Bram di hatinya.
'Padahal si Kenan ini sikapnya begitu manis. Bahkan dia rela menggendongku kaya gini lagi di bandara. Dan tadi saat ada di dalam boat dia juga menjagaku supaya terpaan ombak tidak mengenaiku, menyuruhku duduk agak di dalam! Memberikan selimut untukku dan dia cool banget.' Jingga mulai membayangkan
'Turun dari boat dia juga menggendongku. Bahkan untuk boatnya sendiri aku tidak bayar, dia tadi yang membayarnya. Dia yang charter. Hihihi …,’ ucap Jingga di dalam hati, karena memang sikap Kenan ini menarik untuk Jingga. Dia tidak terlalu perhitungan pada Jingga. Membawakan barang Jingga dan saat di airport pun dia membuat hati Jingga jungkir balik, lupa sesaat kalau Kenan tak ada hati dengan wanita. Rasanya melihat Kenan, tidak seseram Bram yang tidak mudah di suruh, gumam Jingga.
"Kenapa kau melihatku begitu? Dari tadi loh?"
Sesaat sebelum Kenan menghempaskan tubuhnya di jok pesawat, pertanyaan itu diberikan olehnya untuk Jingga. Dia sudah lelah sekali, punggungnya juga pegal. Tapi Kenan jadi tak bisa beristirahat saat menangkap di balik kacamata Jingga, gadis itu menyorotnya.
"Apa kau yakin kalau kau benar benar mau menolongku Ken?" bisik Jingga yang membuat Kenan menengok padanya
"Harus berapa kali aku ulang? semua karena Tuan Bram." malas-malasan Kenan menjawab.
"Gimana kalau aku membantumu?"
"Hah?" Kenan tak paham.
"Membuatmu suka wanita lagi! aku rasa, kau terkontaminasi sang bos, yang bernama Bram Hartanto gila kerja, kekayaan dan tak butuh seorang wanita." senyum Jingga.
Mata Jingga sudah sparkling menawarkan ini. Tapi apakah Kenan setuju?
"Kenan, kenapa buka seatbelt? Kita udah mau terbang loh!" seru Jingga mencegah tangan Kenan membuka seatbelt
"Aku mau turun, tak jadi membantumu!" marah Kenan, yang kala itu melihat sekitar dimana keberadaan tuannya.
"Tu-tunggu Ken." teriak Jingga.
'Dimana Tuan Bram?' batin Kenan frustasi.
TBC.
__ADS_1