
Elea meminta Kristal datang! ke rumah sakit saat ini juga, ia benar benar amat bersedih. Sehingga kala itu Kristal yang mendapat telepon dari Elea. Meminta tenang, ia juga tak berniat mengabarkan pada Hari dan ibu Inggrid. Terlebih jika benar benar Bram, hilang ingatan.
Elea menurut, sehingga kala itu menutup ponselnya. Meraih sebuah foto kenangan mereka dulu. Hati Elea remuk terpecah, bisa bisanya takdir mempermainkannya. Ketika bertemu, malah di halau badai dengan tidak mengingatnya.
'Bram, aku harus apa? Kenapa kamu amnesia. Seperti inikah cara kita tak berjodoh?' batin Elea, ia duduk membungkuk dengan menutupi wajahnya, di ruang tunggu.
***
Sementara Di Kamar Pasien :
"Apa kau senang?" tanya Olive santai membuka pembicaraan mereka.
Bram mengangguk, "Sangat ... Aku sangat senang sekali karena telah mengembalikan senyuman semua orang, ya walaupun mereka masih harus menjalani perawatan, tapi aku senang."
"Bagus kalau kau merasa senang. Sebagai Utusan Langit yang biasa bertemu dengan pemilik Takdir Langit sepertimu, baru kali ini diriku merasa tersentuh," akui Olive gamblang pada Bram.
"Sungguh?" Bram, tak mau percaya secepat itu.
"Apa kau meragukan kesungguhanku?" tanya balik Olive.
Bram terkekeh. Lalu, Olive melanjutkan kalimat selanjutnya. "Aku selalu bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku ini memberikanmu hadiah."
Olive pun memunculkan sebuah kotak berukuran sedang yang sudah dipakaikan kertas kado berserta pita ungu itu.
"Hadiah? Kenapa pitanya Ungu, aku bukan duda." gerutu Bram, sempat tidak percaya kalau Olive akan memberikannya sebuah hadiah, tapi setelah kotak hadiah itu dimunculkan, barulah Bram percaya.
"Buka sajalah, untukmu." Olive, memberikan hadiahnya.
Bram pun menerimanya dengan perasaan tak menduga. "Seriusan ini untuk aku? Anda pasti bercanda. Jangan-jangan Kau hanya lelucon saja dan kotak ini ga ada sisinya sama sekali. Benar bukan?"
"Jangan asal menuduh sembarangan. Lebih baik kau buka saja hadiahnya, setelah itu barulah berkomentar."
Olive tak menunjukkan ekspresi apa-apa, datar-datar saja seperti aspal jalanan.
Bram mengerutkan keningnya, menaruh curiga. Lantaran tidak seperti biasanya Olive baik.
"Ini benar ada isinya, tapi kenapa aku tidak yakin ya?" lirih bram.
Bram, mengecilkan pandangannya, menatap penuh selidik pria di depannya. Si utusan langit pun menghela napas panjang, sambil bergerutu.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Kembalikan saja hadiahnya, tidak sulit bukan?"
__ADS_1
Tangan Olive sudah ingin mengambil kotak hadiah itu kembali, tapi Bram buru-buru menghentikannya.
"Eh, tunggu! Barang yang sudah diberikan tak bisa dikembalikan lagi. Anda kan sudah memberikan ini untukku, maka hadiah ini milikku."
Bram, mendekap kotak hadiah tersebut dan Olive hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah Bram yang diberikan kesempatan hidup, menjalani misinya. Dianggap ia berbohong ketika memberikan sesuatu.
"Aku akan buka hadiahnya."
Sebelum hadiahnya dibuka, Bram terlihat sedang begetar bibir, melafalkan mantra agar terlindung dari segala marabahaya. Atau sebuah bom pencabut nyawa.
Kalau bukan saja pemilik Takdir Langit, Olive sudah pergi meninggalkannya atau tidak memasukkannya kembali ke liang kubur.
Bram membuka hadiah tersebut. Dirobeknya kertas kado yang membungkus kotak tersebut. Setelah terbuka, ekspresinya terlihat datar-datar saja.
"Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanya Olive.
Bram mendongak, "Ponsel Seri Terbaru?" sebutnya respect.
Olive mengangguk, "Ya, telepon genggam, model terbaru. Belum ada yang memilikinya. Aku membelinya langsung di tempat produksinya."
"Apa?"
Bram sampai melompat dari tempat duduknya saking terkejutnya dia.
"Jika tidak percaya, kau bisa ke pabriknya. Hongkong saat ini juga."
Demi memastikan kejiwaan pria dihadapannya, Bram meletakkan tangannya di kening Olive.
"Ga panas, dingin juga enggak."
"Singkirkan tanganmu dari kepalaku!" Dia menepis tangan Bram, yang telah lancang menyentuhnya tanpa izin.
"Hem, pemarah banget. Aku hanya memeriksa saja, apakah Anda sehat atau sakit. Tidak mungkin membeli telepon genggam langsung di tempat produksinya, sementara anda selalu denganku. Aku tidak percaya."
"Kalau tidak percaya, maka kembalikan ponsel pintarnya. Aku akan kembalikan ke tempat produksinya dengan begitu masalah beres bukan?"
Tangan Olive mengulur ke depan, meminta benda pipih lipat itu dikembalikan. Bram pun cengengesan.
"Hihihi ... Jangan ambil lagi, ya," pintanya yang sebenarnya tidak rela melepaskan ponsel tersebut.
"Aku percaya kalau Anda, bisa mendapatkan ponsel model terbaru ini langsung dari tempat produksinya, secara Anda adalah Utusan Langit. Jadi, tidak sulit untuk mendapatkan ponsel ini bukan? Tapi, apa anda mencuri gambar dan dijadikan ponsel sebelum rilis dikota ini?"
__ADS_1
Olive memalingkan pandangannya, menghela napas malas, "Aku sengaja membelikannya karena tahu dirimu tidak memiliki ponsel. Mungkin kau memilikinya, tapi itu pada kehidupan pertamamu. Dirimu telah berhasil menyelesaikan satu misi, maka itu hadiah atas keberhasilanmu. Ingat! Sudah ada banyak isi khusus untuk kehidupan keduamu, ponsel ini berbeda isinya, bukan saja uang yang ada disana!" unjuk Olive, pada ponsel yang ia berikan.
Biarpun dialihkan perhatiannya ke sudut lain, lirikan matanya tetap mengarah pada Bram. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat Bram senang.
"Baiklah, terimakasih..."
Sebagai bentuk bahagianya, Bram hendak memeluk, tapi Olive langsung mencegahnya.
"Cukup! Jangan berlebihan. Aku sangat tidak menyukai hal yang berlebihan," tegasnya menolak.
Bram, termangu sebentar, sebelum akhirnya dia memeluk Olive meski mendapat penolakan. Baru kali ini, Bram berfikir utusan langit sama saja seperti pria normal, tak suka di peluk sesama jenis.
Olive akhirnya luluh juga dan membiarkan Bram, memeluknya.
"Apa kau sudah selesai?" Olive melepaskan pelukannya setelah merasa cukup.
Bram terlihat sumringah. Dirinya yang terlihat garang dan kejam saat bertarung, kini pantas disebut anak-anak yang bahagia saat dibelikan permen.
"Memang Anda ingin mengatakan apa lagi?" tanya Bram, asal tebak.
"Karena kau terus bertanya, maka aku akan menjalankannya."
Olive, memunculkan buku bercover coklat yang sering disebut Buku Takdir itu.
"Bram Hartanto. Kau telah berhasil menyelesaikan tugas pertamamu," kata Olive menerangkan apa yang tertulis di buku itu.
Bram pun menyimak tanpa berkomentar. Olive melanjutkan kalimatnya lagi, "Dalam tugas kali ini kau berhasil membunuh hampir delapan puluh orang. Satu orang yang terbunuh, maka kau akan mendapatkan satu Poin Kemenangan. Dengan begitu kau memiliki delapan puluh Poin Kemenangan," terang Olive sejelas mungkin.
Bram, mengerjapkan matanya sambil berkata.
"Lalu ... ?"
"Selama satu pekan, kau bisa kembali pada pabrik delivery mu! Temui Elea, dan kembali lagi pada kantor keduamu!" ujar Olive, menutup buku. Ia pun pergi hilang begitu saja.
Tling ...
Sehingga Bram menghela nafas, ia sudah terbiasa melihat Olive yang sering menghilang, merubah dirinya menjadi pria botak sebagai kepala sekolah. Entah mungkin, di saat ia akan menemui Elea bersamanya sepekan. Apakah Olive akan menyamar menjadi pria jangkung orang eropa, atau orang korea yang sering disebut Fans, kekasihnya sukai. Demi terus mengintai kegiatan Bram.
Bram pun segera membuka pintu, ia menatap terkejut ketika pandangannya melihat Elea duduk menutupi wajahnya, sementara di genggamannya terlihat sebuah foto dirinya dan Elea di kampus, dipegang erat! Lengkap dengan suara kesedihan.
Tbc.
__ADS_1
Masih Ada Satu Bab Lagi! Semoga Lolos Reviewnya Cepat.
--- Happy reading All ---