
Saat itu, Elea memakaikan topi kupluk dan masker pada Bram. Bram, duduk disamping Elea dibangku paling depan, berpura pura membaca buku, dan Bram memakaikan earphone. Aslinya, mereka mendengarkan tiga teman kampus Elea yang sedang membicarakan akun asli Bram, yang sedang bermasalah.
Di luar dugaan, bagai sebuah jejak bukti Bram dan Elea saling mencari tahu, masih membicarakan tiga pria yang kini berkata dengan lantang.
Semua murid yang sedang membahas siapa pemilik akun bernama 'Elang One' itu pun seketika dibuat tercengang seketika, anak berkacamata itu lalu melanjutkan.
"Iya. Aku tahu siapa pemilik akun bernama 'Elang One' itu!" jelas lelaki berkacamata dengan percaya diri, bernama Indra.
"Indra, yang sedang kamu katakan itu benar?" Andi menjawab dengan ragu-ragu sejenak. Lalu menambahkan.
"Bagaimana kamu bisa tahu siapa pemilik akun bernama 'Elang One' itu?" ujar Seyndi.
"Tentu saja benar, buat apa aku berbohong pada kalian semua." lanjut Indra, lelaki berkacamata dengan rambut panjang yang di ikat.
"Jelaslah aku mengetahui semua dari yang kalian semua tidak ketahui." jawab Indra lagi dengan percaya diri sambil tersenyum nakal.
"Katakan, siapa ...?"
Beberapa murid pun seketika terdiam setelah mendengar ucapan Indra barusan.
Indra adalah seorang anak berkacamata dengan rambut panjang sebahu yang diikat menggunakan pengikat rambut. Tampang nya lumayan, kulit putih bersih, dengan penampilan yang sangat modis. Latar belakang keluarganya terbilang cukup berada dan keluarganya mempunyai beberapa cafe di kota Surabaya.
"Memang siapa pemilik akun bernama 'Elang One' itu ndra?" Jehan berbicara seraya menanggapi pembicaraan Indra barusan.
"Kalian pasti penasaran, kan. Dengan pemilik akun bernama 'Elang One'? Sebenarnya tadi aku juga tidak percaya jika aku tidak melihat dengan kepala mataku sendiri. Tetapi, setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku langsung percaya bahwa dia adalah pemilik akun bernama 'Elang One.' itu. Dan dia juga memperlihatkan isi pesan percakapannya pada pembawa acara siaran langsung yang bernama 'Kristal'."
"Cepat, lanjutkan siapa nama pemilik akun bernama 'Elang One' itu?!" seru Andi dengan tidak sabar.
"Iya, pemilik bernama 'Elang One' itu adakah kakak kelas kita yang bernama Bram Hartanto, Dia sekarang sudah lulus tahun lalu di saat reunian semester 6, kita bertemu." jawab Indra dengan lantang.
Mendengar jawaban Indra, beberapa murid pun mulai percaya pada Indra. Informasi dari Indra memang tidak selalu semuanya benar, tetapi beberapa juga terkadang benar adanya. Biarpun begitu, beberapa murid juga sangat mempercayai akan informasi yang diberikan Indra ini.
"Wah...kapan ya aku bisa diberikan hadiah sama anak konglomerat saat melakukan siaran langsung" sahut Seyndi.
"Sepertinya bisa, jika kamu tidak menggunakan apa pun saat melakukan siaran langsung, pasti banyak yang memberi hadiah, 'kan?" Jehan menimpali sambil terkekeh.
__ADS_1
"Brengsek, pergi kamu dari sini!" jawab Seyndi dengan marah pada Jehan.
"Kriingggg!"
Sedetik kemudian, bel masuk pun terdengar, dan para murid pun segera duduk di kursinya masing-masing.
Saat berada di dalam kelas pun Elea tidak bisa fokus dengan pelajaran dan terus memikirkan yang sedang terjadi pada akun kekasihnya. Dia pun memulai memikirkan siapa yang berpura-pura menjadi diri Bram.
Namun, jika yang dikatakan Indra barusan semuanya benar! maka bisa gawat.
Sebelumnya, Bram hanya berpikir kalau dia cuma lupa kata sandinya saja sebelum mendengar informasi dari Indra.
Sebenarnya, Bram sempat merasa ragu sesaat mendengar informasi dari Indra. Tetapi Indra juga menjelaskan bahwa dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jika sudah seperti ini maka Bram, yakin bahwa akunnya telah dibajak oleh seseorang.
Sesaat kemudian. Setelah jam kuliah Elea telah selesai, Bram pun beranjak dari tempat duduknya dan segera bergegas untuk pulang kerumah. Namun, Jehan dan Andi pun menahan Elea dibelakang tubuh Bram yang lebih dulu, lalu berkata,
"El, mau kemana kamu? Kenapa buru-buru sekali, ikut kami makan yuk di kantin" seru Andi sambil menahannya keluar kelas.
"Iya El, kenapa akhir-akhir ini sepertinya kamu selalu pulang lebih awal? Memang apa yang sedang terjadi?" Jehan ikut menimpali dengan wajah penuh kebingungan.
Elea seketika terdiam sesaat mendengar perkataan dari kedua temannya. Lalu ia mengejar Bram, yang telah keluar kelas lebih dulu, agar wajahnya tak dikenali jika ia bukan murid kelas itu.
"Oh seperti itu El, jadi kamu tidak mau ikut kami ke kantin El?" lanjut Jehan.
"Hehe iya, maaf ya Jeh. Lain waktu aku pasti ikut Jeh." jawab Elea dengan terkekeh sambil menggaruk kepalanya.
"Hmm...baiklah." jawab Jehan menimpali.
Elea pun langsung bergegas meninggalkan Jehan dan Andi berdua yang masih di dalam kelas.
"Jeh, akhir-akhir ini Elea sepertinya telihat agak aneh ya? Terus kenapa dia sejajar dengan pria kupluk dan masker, dia anak baru kuliah kelas kita ya?" Andi bertanya dengan wajah bingung.
"Menurutku juga begitu. Eh, apa itu teman kelas baru kita. Kok, Elea bisa pergi kaya diam diam gitu ya."
"Apa jangan-jangan ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Elea, dari kita berdua ya, Jeh?" lanjut Andi dengan wajah kebingungan.
__ADS_1
"Entahlah, Aku juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Elea, belakangan ini." jawab Jehan dengan nada suara santai lalu melanjutkan,
"Ya sudah, ayo kita segera ke kantin, aku sudah lapar sekali!"
"Ayo!" sahut Andi dengan cepat.
Sesampainya di luar kampus Bram pun memberhentikan sebuah taksi dan hendak pulang kerumahnya, bersama Elea yang mengejarnya. Hari ini pun, Elea tak memakai mobil mewah Bram.
"Bram, apa aku boleh menyimpulkan?"
"Apa El, katakan saja."
"Siapa orang terakhir yang bermasalah denganmu, bukankah temanku bilang, pernah siaran dengan Kristal. Apa .. Jangan jangan dia adalah Mr. Taylor, atau orangnya yang ingin merebut dengan cara IT."
"Owh .. Tidak, kenapa aku tidak berfikir sampai sana ya." menatap dalam, karena Elea telah memecahkan masalahnya.
Beberapa Jam Kemudian.
Setibanya di rumah, Bram langsung membuka aplikasinya, dia berusaha mencoba mendapatkan akunnya kembali. Namun, kata sandi dan nomer telponnya sudah diubah oleh si pembajak akun tersebut.
Bram menghubungi Kristal, sehingga dalam empat kali tetap tidak tersambung.
"Gimana, belum bisa dihubungi ya?" tanya Elea, membelai pundak Bram agar tetap tenang.
"Belum ..."
Tlith!
[ Bram, temui aku di bar Second Saga! Akunmu sudah dipulihkan, dalam 12 jam kedepan. Aku sudah menemukan siapa orangnya, ingat hati hati, ku rasa dia adalah orang dari mafia yang dibantu system. Dia adalah musuh dari segala system! ] pesan.
Elea ikut membaca, sehingga saat itu ia melihat Bram yang berganti pakaian kilat, serba hitam dengan jaket kulit yang tidak tembus peluru atau sobekan benda tajam.
"Aku ikut Bram.."
"El, bantu aku dari sini. Pulihkan ip name dan sandiku, pantau aku dengan ini, aku meminta bantuanmu memanggil polisi setelah tombol merah terlihat dari komputer ini. System ini bisa pulih, jika kamu membantuku dari sini." lirihnya, membuat tatapan Elea ketakutan memeluk Bram.
__ADS_1
"Berhati hatilah, meski kamu tak punya segalanya. Aku ingin kamu baik baik saja! Andai aku bisa ikut." lirih Elea bergetar, dan Bram membelai rambut Elea dengan halus.
Tbc.