
Menstarter motornya, Hari, segera berlalu dari depan rumah tersebut, karena ada Bram yang berusaha mengejarnya. Hari pun kembali ke rumah mang Jaya. Sudah hampir malam, dia tidak mau membuat ayah angkatnya itu khawatir.
Sesampainya di rumah, Hari tidak terkejut saat mendapati satu motor antik di depan rumah mang Jaya.
"Hari pulang." Akan menjadi kebiasaannya tiap kali pulang pergi untuk menyatakan kehadirannya seperti demikian.
"Nah ini anaknya, sini Nak! Ini teman kamu ya? Siapa namanya tadi?" tanya Jaya ramah.
"Robi, Pak."
"Nah iya itu, tadi Bapak masak. Tumis buncis sama daging semur, ayo makan bareng," ajak Jaya.
Mereka bertiga menikmati makan malam sambil lesehan, di ruang depan yang juga berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang keluarga.
"Gue beliin lo ponsel, siapa tahu lo butuh. Maaf harganya mungkin tidak seberapa dibanding punya lo yang dulu, dan ini sisanya setelah gue potong sewa tempat dan cicilan motor," ujar Robi.
Inilah yang Hari, suka ketika kerjasama dengan Robi, pria itu membayarnya berdasarkan kerja kerasnya. Bukan berdasarkan rasa iba, setelah bertahan beberapa saat.
Robi pamit usai menyerahkan jadwal balapan yang baru saja dia dapat, akhir tahun menjadi waktu yang bagus untuk mengadakan balapan.
Sehingga banyak sekali event yang tentu saja ilegal.
"Pak, Hari dapat uang sedikit buat bantu-bantu uang belanja." Dia menyerahkan tiga juta kala itu.
"Dapat darimana? Bukan hasil maling kan?" tuduh Jaya. Dia tidak mau saat dalam asuhannya. Hari, menjadi anak yang tidak baik.
"Nggak kok, Pak. Hari nggak maling, itu hasil kerja Hari." Bukannya marah dituduh maling, Hari malah senang mendapati kekhawatiran sang ayah angkat.
"Kerja boleh. Tapi tetap fokus kuliahmu, sebentar lagi semester akhir. Mama kamu dulu ingin sekali supaya kamu menjadi pembisnis yang handal. Jadi jangan kecewakan beliau ya," pesan Jaya pada putra angkatnya.
Tanpa sepengetahuan Jaya, Hari sering mengikuti ajang balap liar. Itu dia lakukan untuk mengumpulkan uang agar dia bisa kuliah di luar negeri sesuai dengan keinginan sang ibu.
Bahkan beberapa kali dia juga mengikuti ajang MMA.
Pulang dalam keadaan babak belur, Hari beralasan jika dia jatuh saat berada di sekolah. Atau beralasan sedang berlatih karate di sekolah, padahal sejak kecil dia sudah pandai bertarung.
__ADS_1
Kehidupan Hari setelah diusir oleh Reksa cukup sulit, dia harus mampu membagi waktu dan fokusnya. Untuk belajar dan mencari uang, berusaha menahan kantuk saat mengikuti mata kuliah, apalagi beberapa saat bertemu Bram. Hari sudah malas, menerima bantuan dari Bram yang jelas dirinya oranglain bagi Bram Hartanto.
Meminjam buku-buku dari perpustakaan untuk dia baca, sesaat sebelum balapan atau sebelum naik ke arena MMA.
Bahkan sebelum tidur dan setelah bangun tidur, dia menyempatkan diri untuk membaca buku.
Tubuhnya yang kurus semakin kurus karena terlalu sering bergadang.
***
ESOK HARINYA.
"Apa tabunganmu masih belum cukup Hari?" tanya Robi, menatap miris sahabatnya yang kini berkawan dengan nikotin. Tidak apa asal Hari tidak merusak tubuhnya dengan minuman keras.
Sayang sekali, bocah itu justru merusak tubuhnya dengan bekerja keras mengumpulkan pundi rupiah, demi mengamankan masa depannya kelak. Dan ia bisa sukses melewati Bram Hartanto, ia juga ingin dunia melihatnya menjadi pria miliader dengan jerihnya sendiri.
"Ini yang terakhir Rob," janji Hari, setelah mengenakan helm full face andalannya.
Besok pengumuman mata kuliah akhir, Hari juga sudah mendaftarkan diri di sebuah universitas terkenal di luar negeri.
Bersamaan dengan tubuh ringkihnya yang terlempar dari motor, sorakan kemenangan bercampur dengan teriakan ngeri dan raungan sirine ambulan.
Hari kecelakaan!!
Roby segera menghubungi mang Jaya, dan mang Jaya menghubungi Bram, yang saat itu Bram dan Elea segera menuju rumah sakit, berbicara melalui sambungam teleponnya.
Operasi masih berlangsung saat Jaya tergopoh-gopoh menuju ruang gawat darurat.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?" tanya Jaya pada Robi, yang pakaian dan tubuhnya terkena darah Hari.
"Ini salah saya, Pak." Air mata Robi, tidak terbendung, jika saja dia lebih kuat melarang Hari. Tentu bocah malang itu tengah tidur sambil menanti pengumuman semester akhirnya dan penerimaan sebagai mahasiswa baru S2 nya.
Bukannya terbaring di meja operasi menanti ajal menjemput.
Jaya yang mendengar cerita Robi, ia bersandar lemas pada tembok rumah sakit. Dia merasa sudah gagal menjaga anak dari majikannya yang bagaikan anaknya sendiri.
__ADS_1
"Apa lukanya parah?" tanya Jaya.
"Semoga saja tidak, Pak. Yang aku tahu, darah Hari banyak sekali," gumam Robi, tidak fokus.
"Keluarga pasien?" Seorang dokter keluar dari ruang operasi, wajahnya terlihat lelah.
"Saya Dok." Jaya segera bangkit dan mengajukan diri. Disusul Robi, yang juga ikut berdiri hendak menyimak penjelasan sang dokter.
"Pasien kehilangan banyak darah dan ada dua tulang rusuknya yang patah, untung saja patahan tulang itu tidak menusuk paru-paru. Jadi nyawa korban masih bisa diselamatkan," kata sang dokter membuat Jaya mampu sedikit bernafas lega.
"Untuk darah, kebetulan ada seseorang yang rutin mendonorkan darahnya. Sebab darah pasien cukup sulit untuk didapatkan. Saya permisi ya Pak, kami akan menghubungi pendonor darah tersebut. Kebetulan ini jadwal beliau mendonorkan darahnya," pamit sang dokter.
Baik Jaya maupun Robi, masih belum diizinkan untuk menjenguk Hari, bahkan masih ada beberapa dokter yang mengawasi perkembangannya pasca operasi.
**
Di lain tempat, Bram yang masih mengenakan seragam kantor kurir delivery Gold Miror. Tergopoh-gopoh menuju rumah sakit sambil menggenggam kalung pemberian sang ibu.
Tidak memperdulikan orang yang berlalu-lalang, dia segera menuju ruangan tempat dokternya berada.
"Selamat siang Dok," sapanya dengan nafas terengah-engah.
"Kamu tidak harus datang seperti ini, kan rumah sakit masih punya stok dua kantong darah dengan golongan yang sama," ujar dokter tersebut dengan lembut.
"Ya kan kasian yang kecelakaan, siapa tahu darahku sangat berharga buat dia kan, meski kurang setetes." ketus Bram. Dokter pun hanya menghela nafas.
Di Luar kala itu, Elea menunggu di luar setelah Bram masuk. Dan tanpa sadar, mang Jaya menatap nyonya Elea duduk raut sedihnya.
"Nyonya El, kenapa di ruang ini?"
"Eh, mang Jaya. Bram sedang donor darahnya untuk Hari, kapanpun Hari membutuhkan sesuatu. Mang Jaya infokan ke kami ya, Hari saat ini masih salah paham pada Bram. Bagaimanapun aku berharap semua bisa berkumpul, papi Reksa sedang berduka dengan kesedihan mendalam, jadi tolong dimaklumi ya! Elea minta, mang Jaya dampingi Hari, sama seperti mang Jaya dampingi Bram, waktu kecil."
"Iy, baik nyonya El. Itu sudah tugas saya, sebenarnya mang Jaya pikir, tuan Reksa harus lebih lembut. Karena den Hari, sudah terbiasa di manja. Jadi semuanya begitu cepat berubah."
"Kita doakan kesembuhan Hari, dan papi Reksa menurunkan Ego ya mang!" titah Elea, penuh harap.
__ADS_1
TBC.