
Setelah membuang waktu, Bram akhirnya selesai. Ia memberitahu pada papa mertuanya dan sang papa, jika semua dalang telah selesai di borgol, bahkan Reksa mengirim pengacara handal untuk mengurus seluruh akar biang korupsi kontruksi, sehingga usaha dan proyek selanjutnya mungkin akan aman.
"Baiklah Bram, berhati hatilah. Semua sudah kamu selesaikan dengan baik. Damar aman, saat ini penjaga lebih ketat dari sebelumnya."
"Baik pah."
Tak lama, Kenan datang, Bram meminta ia ke rumah sakit untuk memeriksa luka memar di wajahnya. Dan meminta ia istirahat.
"Tapi Tuan, saya harus datang ke tempat BI, pusat." tolak Kenan.
"Kau kirimkan saja alamatnya, biar saya yang datang. Lagi pula hanya pertemuan tanda tangan, dan soal s kontruksi sudah ada yang menangani. Papa Reksa dan tuan Handaru sudah kirimkan orang untuk menjaga proyek lebih ketat dan aman dari penjahat seperti mandor itu."
"Baik Tuan."
***
Menjelang malam, setelah Bram akan pulang dari kegiatan penting. Membuat Bram menganga, ketika bertemu Jingga. Wanita pertama yang tak ingin ia temui, berada di lorong gedung ketika kondisi pekerjaan sudah sepi, bahkan Bram memang paling akhir pulang karena tubuhnya sedikit sakit, dan rencana memesan taksi. Akan tetapi Jingga menariknya, dan membuat Bram terdiam ingin mendorong tapi dia wanita, belas kasihnya tak tega.
Melihat ada pria yang mengejar, Maka Bram tahan dan membawa Jingga ke dalam mobilnya dan membawa ke suatu tempat, yang pasti bukan rumahnya.
"Aku mohon, tubuhku sudah kepanasan!"
"Tapi aku tak tertarik pada wanita! Menjauh dariku Jingga, aku ini berbeda!"
Bram menghempaskan tubuh Jingga yang menghampiri ingin membuka kancing kemejanya, hingga wanita itu ambruk. Sebenarnya tak tega menyakiti wanita, apalagi mendorong seperti tadi. Sayangnya Bram tadi terlalu memaksanya. Untung saja di belakang Bram ada sofa yang lumayan empuk.
"Tidak perlu tertarik padaku, hilangkan saja panasnya, sudah cukup. Tolong Bram, tubuhku terbakar!"
"Aku sudah menolong, memberikan tempat persembunyian dari yang mengejarmu," seru Bram masih dengan posisinya berdiri dan melipat tangannya, bersedakep.
Bram menyaksikan Jingga yang memang tak lagi bisa mengontrol dirinya. Tangan Jingga bergerak menjalar pada tubuhnya sendiri seolah ingin memuaskan hasrat dan mendinginkan api membakar itu. Wajah Jingga seperti sakau, memerah karena adrenalin dan karena dia hangover juga.
"Mungkin kau harus melihat tubuhku dulu supaya kau bisa tertarik, Bram!"
"Eeeh, jangan gila, apa kau wanita seperti ini Jingga. Jangan buat kacau, sebentar lagi dokter akan tiba." ketus Bram.
Bram menjawab sekenanya. Pria bertubuh tegap berotot, tinggi, dengan paras bak artis Blasteran ternama, licin, klimis terlihat sempurna karena kulit putih manis yang dimilikinya itu, terpaksa bergerak mendekat untuk menghentikan gerakan tangan Jingga, yang berusaha melepaskan dressnya. Wanita yang baru ditolong Bram beberapa menit lalu sudah membuatnya sulit dengan permintaan untuk dipuaskan.
__ADS_1
Tapi ?!
"Ayolah aku mohon, aku udah makin terbakar. Sssh, aku ga tau harus bagaimana lagi, anggap saja aku bukan perempuan, Bram."
Bram merasa gila, apakah Jingga salah minum, ia pun menahan tangan Jingga sambil bicara, memaksa pria itu memberikan yang diinginkannya. Netra Bram sayu dan penuh rasa bergejolak. Kerongkongannya juga terasa kering dan sakit. Jingga memelas saat mata mereka bertautan dan mengarahkan tangan Bram ke dalam kain segitiga yang menutupi bagian intinya perlahan.
"A-astaga Jingga aku ga bisa! Aku ga suka perempuan dan kita itu ..," ucap Bram, di saat Jingga sudah menggerakkan satu tangan Bram yang lainnya, meringsek ke kain dalam pakaiannya, menyentuh salah satu puncak yang menjulang.
"coba dulu! Pegang, remas, gosok di bawah, apapun ayolah, Bram. Aku mohon, aku bisa mati kalau terus begini! Panas banget, Bram!" Jingga memekik semua diucapnya karena tak sabar.
"Haah, kau ini, harusnya kau tidak pergi ke Bar sendirian, Jingga. Sudah tahu kau itu wanita, banyak yang menginginkanmu, inilah akibatnya!" ketus Bram, masih belum melakukan yang diminta Jingga, meski dia belum menarik dua tangannya juga dari yang tadi diarahkan.
Jingga, gadis berdarah blasteran Indonesia- Belanda adalah seorang model papan atas yang namanya sedang naik berpijar bak meteor. Tawaran film, iklan, fashion show, bintang video klip dan endorse berbagai product brand ternama exclusive yang dibintanginya selalu sukses besar di negara asing, tapi tidak di negaranya sendiri.
Bahkan saat ini Jingga baru saja menandatangani kontrak khusus dengan production house BI, yang Bram tidak tahu jika Jingga sebagai kandidat group production milik sang mama, untuk sebuah project besar. Tapi ia adalah manusia biasa. Dia bisa mengalami kejenuhan saat semua beban hidupnya menumpuk tanpa jalan keluar.
Jingga ingin lepas dari dunia pura-pura dan menjadi dirinya sendiri. Alasan inilah yang membuatnya nekat, berusaha kabur dari masalah yang menghimpitnya dan gemerlap highlight kehidupan keluarganya yang penuh kelicikan.
Jingga pergi diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya yakni pak Tjandra, berharap bisa menemui Bram dan menjelaskan, serta memohon permintaan maaf.
Itu memang membantunya melepas semua penatnya. Sayangnya, Jingga juga kehilangan penjagaan atas dirinya sendiri. Justru dengan ceroboh, Jingga menenggak minuman yang sudah lama ditinggalkannnya tanpa pengawasan sebelum dance.
Kejadian itu terjadi sesaat ketika bar hampir tutup. karena di Boracay, pesta hanya sebatas jam sihir cinderella. Jingga baru menyadari kalau tubuhnya mendapatkan sensasi terbakar beberapa menit setelah dia menenggak minum. Sialnya, Jingga sudah di jalan sepi, dan bertemu pria yang Jingga rasa, ia orang baik.
Jingga merutuki nasibnya, karena beberapa orang menghampiri dari arah Bar dan juga penginapannya. Jingga yakin, salah satu dari mereka yang mencampurkan sesuatu pada minumannya.
Untung ia bisa sedikit bela diri sehingga dia berhasil kabur meski dengan keterbatasan tubuhnya yang semakin tersiksa oleh rasa ingin. Jingga berusaha tetap fokus berlari dan berpikir ke mana dia harus bersembunyi.
Kembali ke penginapan tak mungkin. Jingga terpaksa berlari berlawanan arah karena mereka sudah memblokade area itu. Hingga akhirnya, setelah berhasil mengecoh dan bersembunyi, ia yang sudah cukup jauh, tak sengaja melihat seorang yang berdiri santai menikmati malam di depan cottage-nya, sendirian, terlihat begitu damai.
Jingga seakan mengenalnya. Dia mengikuti instingnya memberanikan diri mendekat untuk meminta tolong. Dan beruntung karena dia adalah orang yang dikenalnya, Bram. Pria itu masih ingat juga kalau Jingga pernah membantu memperagakan busana untuk brand miliknya di show beberapa tahun silam.
Satu masalah sudah aman. Tapi sekarang, Bram punya masalah baru! Setelah berada dalam cottage, tubuhnya mengalami sensasi terbakar hebat. Ia tak bisa mengendalikan diri. Dia ingin belaian, ingin hasratnya terpuaskan, tak perduli harga dirinya turun yang Jingga harap, dia adalah pria yang selalu diharapkan.
Bram tak janji, tapi dia tetap berusaha. Tak ada pilihan lain. Wanita itu semakin terangsang dengan obat yang bereaksi hebat di tubuhnya. Dosis yang diberikan berlebih. Tanpa pelampiasan, Bram memang kesulitan.
"Begini cukup?"
__ADS_1
Sehingga Bram, yang satu tangannya ada di bagian inti Jingga mulai bergerak, memberi rasa.
Meskipun tubuh Jingga bak biola, kulitnya putih dan mulus, proporsional dengan tinggi badannya, begitupun parasnya yang juga menawan, bisa membuat semua pria pasti tertarik dengan kemolekan tubuhnya. Tapi berbeda dengan Bram.
Jingga tak sadarkan diri, panas ini menghilangkan akalnya. Tangannya sendiri sangat cepat melepaskan pakaiannya, membiarkan Bram yang kini dalam posisi setengah duduk dan ingin menahan gerakan tangan Jingga, tak lagi bisa berbuat apapun, terpaksa membiarkan netranya menatap yang menjulang menantang.
Bram pasrah!
"Tolong Bram, lakukan sesuatu, aku ga tahan, panaaaas!" Bram makin kehilangan kontrol.
"Masukkan, cepatlah, ayo tusuuuuk, Bram!" racau Jingga, membuat Bram panas dingin, rasa kesalnya pada Jingga merasa kasihan.
'Lah, dia pikir aku ni pemuas wanita apa?' gerutu Bram.
Bram sampai bergidik mendengar keinginan Jingga.
"Aku tahu itu panas, tapi meski tubuhmu mungkin menarik, aku ga tahu gimana memulainya, Jingga, aku bukan pria yang murahan, tidak bisa melakukan itu tanpa cinta dan pernikahan." seru Bram apa adanya. Dia memang tak ada sensasi apapun, memulai untuk tertariknya di mana pada Jingga.
"Apalagi yang kau pikirkan? Panas nih!"
"Ssst, diamlah! Iya sebentar, aku lagi mikirin bagaimana biar ada yang masuk, tunggu dulu!"
Bram ingat sesuatu! Dia berdiri, sesegera mungkin berlari ke dapur mencari sesuatu dalam refrigerator yang mungkin bisa membantu.
'Mungkin ini ada gunanya!' senyum Bram merekah, dia berlari ke sofa, tempat Jingga masih berusaha menggerakkan tangannya mencoba memberi rasa. Bram berusaha mengurangi burning sensation yang menyiksa jiwa dan menumpulkan akalnya.
'Siapa yang udah tega pada nya?' pemandangan yang membuat Bram merasa kasihan.
Tidak tahu rasa lelahnya, dan lebamnya yang ingin pulang sejak dari kantor polisi dan s kontruksi bermasalah.
Entah mengapa, harus terjebak menolong Jingga malam ini. Bagus saja Bram seorang diri, tidak ada Kenan yang menyaksikan dirinya saat ini, jika ada Kenan. Entah pasang muka apa yang Bram lakukan, karena sikap memalukan Jingga.
Hingga Bram mempunyai inisiatif, meminta pada pihak kantor pusat BI Production, meminta cctv sebuah tayangan orang yang mengejar Jingga beberapa jam lalu.
'Besok akan aku urus Jingga, kau istirahatlah disini!' lirih Bram, ia meraih jaket dan meninggalkan Jingga seorang diri, disebuah apartementnya.
Tbc
__ADS_1