
"Maafkan, saya salah maaf, saya harus apa, agar nyonya Siren memaafkan kecerobohan saya." ucap Hena, beringsut memohon takut.
"Ah .. sial. Hena, kamu tahu ini akan dipakai besok malam. Siren kamu gimana gak apa apa, merah gak kulit kamu iritasi?" ucap Mikha.
"Aku, a-ku akan ganti baju dulu Mik," dengan wajah datar flat mood Siren berubah, dan di ikuti Mikha keruang ganti, meninggalkan Hena yang mematung tak mendapat jawaban.
"Ada apa ini?"
Damar menatap Hena, dan menyuruh asisten Bella, agar pihak OB, membersihkan merapihkan yang berantakan.
"Hena, jika berat, mintalah bantuan dan OB untuk membantu tak apa pekerjaan mengangkat vas gucci kecil ini sepertinya tidak berat. Otak kamu di pakai, hanya perlu berhati hati, bagaimana bisa tumpah?" Damar marah saat itu dengan nada besar.
Bella memarahi Hena, di ruang istirahat karyawan. Karena ini pertama kali nya ia melihat tuan bos muda marah besar.
"Hena, kamu sedang tidak fokus? kamu tahu gaun itu penting untuk acara besok malam. Bagaimana kamu bertanggung jawab, nilai gaun itu pun 3x lipat gajimu dalam setahun." jelasnya.
"Apa, kak Bella benarkah? Lalu aku harus gimana, apa akan dipecat, dan bagaimana aku menggantinya, kak Bella aku mohon tolong Hena."
"Hena, meski kamu keponakan sahabatku, tapi ini profesional. Maaf! semua itu nanti ada di tangan nyonya Siren."
Di Beda Tempat.
"Sayang, bagaimana apa kamu baik baik saja?"
Damar menghampiri istrinya yang sedang menangis diruang kebesaran kantor Dady Bram.
"Udah dong Siren, jangan menangisi sudahi saja." tambah Mikha, dan ia menghampiri Hena memarahinya setelah Damar datang, terkait mungkin setelah Damar datang, Siren akan berhenti menangis.
Setengah jam kemudian hening. Deni dan Zei prihatin menyaksikan tragedi itu. Lalu menghampiri apa yang terjadi secara rinci dan detailnya.
Di pelukan Damar, Siren tenang.
"Sayang, ayo kita pulang atau kita pergi cari gaun lagi!"
"Hubby, itu gaun sudah aku pesan bulan lalu,
aku ingin tetap memakainya. Sudah tak ada waktu, mencari yang sama itu sulit. Bahkan gaun dan bahan itu indent, jika aku tampil resepsi seperti tamu aku akan menyesal. Acara keluarga, amat lah berarti. Aku ingin tampil sebagai seorang menantu yang baik, tak ingkar janji mengecewakan kelola butik Dady ini."
Tok .. Tok.
Kaca pintu di ketuk, Hena dan Bella menghadap meminta maaf. Bella memarahi Hena saat itu, dan Mikha, dan beberapa karyawan lain ikut menyalahkan. Sehingga Siren terdiam dan melirik Hena.
"Hena. Ya ampun hubby .. aku hampir lupa dengan dia. Kemari lah Hena!"
__ADS_1
Pertama kalinya, Damar menatap Siren marah, di pikiran Damar Siren akan memarahi karyawan magang itu.
Malu sangat ketika dihadapan temannya akan kejadian ini, namun tidak disangka perlakuan Siren tak seperti dibayangkannya.
"Bella, carikan nomor pak Dayu design busana sekarang!" ucap Siren.
"Baik nyonya Damar." jawab Bella.
Maafkan saya nyonya Damar, saya memang pantas dimaki - maki dimarahi, apa yang harus saya lakukan agar mendapat maaf!!
Hena, aku suruh kamu kemari untuk merapihkan gaunku yang terkena noda. Lalu pasangkan gaun itu di Manekin, sekarang. Jangan dibersihkan dengan air, biar saya yang lakukan sebab di cuci akan merusaknya.
"Apa saya dimaafkan?"
"Siapa yang marah denganmu, aku tak marah denganmu Hena, aku juga salah karena time tidak tepat. Aku berjalan harusnya, aku tetap berdiri di depan pintu utama itu. Sudah terjadi untuk apa aku marah, tolong kejadian seperti ini tidak di ulangi, jika gaun itu Klien, dia menuntut mu kami tidak bisa berbuat apa apa."
"Tapi harga nya itu mahal bagaimana saya ganti dengan mencicilnya?"
"Ganti rugi, siapa yang menyuruh ganti rugi Hena?"
Siren menatap Mikha kala itu, Mikha pun bersiul menatap ponselnya, sedang Damar terkejut akan sikap istrinya.
Sudahlah lanjutkan pekerjaaan kalian, aku tidak apa - apa, hubby tidak perlu di perpanjang, aku menangis karena takut gagal di acara paman saja, aku ingin tampil bukan sebagai tamu.
"Aku tidak setuju, pemborosan. Aku mau yang sudah ada."
Siren pun menatap gaun di manekin itu, membersihkan perlahan, dengan toner make up penuh hati hati, memotret berusaha merombaknya seperti apa.
Satu jam kemudian, designer om Dayu datang.
"Sayang, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku dan om Dayu akan merombaknya hubby."
Baiklah Damar, kembali memulai pekerjaan, yang belum selesai karena masalah gaun, meski begitu para pria itu sedikit melirik dan kepo juga kagum akan sikap Siren.
Hena, dan Bella, menatap Siren yang mengalungkan pengukur meteran baju berwarna kuning dilehernya, di ikuti aba aba oleh om Dayu. Bahkan ia menjepit dengan jarum pentul bagian yang dirombak. Dan yang terkena noda tak bisa hilang. Maka ia bulatkan dengan meminta om Dayu memasangkan pita bunga rose pink, sedikit gaun itu yang membelah panjang dipotong hingga diatas lutut.
Oke...,perfect om Dayu, aku tunggu besok siang!
Om Dayu pun memberi gambaran hasil rombakan, dengan sketsa yang telah dibuat.
Siren tersenyum lebar dan bahagia.
__ADS_1
masalahnya selesai.
"Siren, kamu ga marah soal gaun?" ucap Mikha.
Hena dan Bella menunduk, karena tatapan Bu Mikha tajam padanya.
"Untuk apa, aku marah?"
Terus kenapa kamu tadi menangis lama.
"Karena acara keluarga, gaun kita senada jika pesan, tidak bisa esok siang selesai. Aku ingin tampil berbeda mewah bukan sebagai tamu, aku menangis mungkin karena tadi gak kepikiran untuk merombak. Hehehe maaf ya membuat kalian khawatir." Siren menatap seluruh karyawan.
"Bagaimana tidak khawatir," ucap Bella.
Hah .. serius kamu Siren, hatimu terbuat dari salju mudah dingin, membeku tak bisa marah.
Damar, dan semua teman nya kagum akan sikap Siren yang lapang, ramah tak mudah marah.
"Sungguh beruntung kamu Damar." ucap Zei.
Damar hanya tersenyum. Karena kamu belum tahu semuanya. Jika kamu tahu, kamu akan mengejarnya hingga ke jurang Zei, aku memang pria bahagia beruntung yang mendapatkan istri secantik cerdas dan baiknya 1000 kali seperti peri.
"Hubby, lihatlah bagaimana gaun ini apa terlihat bagus, setelah di rombak?"
"Maksudmu sayang, sketsa ini nanti akan merubah gaun mu seperti ini, ini terlalu pendek sayang .. rubahlah jangan seperti ini atau kita cari gaun sekarang di mall terdekat sini mungkin ada yang cocok!"
Damar mengambil, jas dan berpamitan serta mengajak istrinya pergi dari butik. Sementara Zei tinggal bersama Mikha dan Dani kebingungan.
Kebetulan rekan lain sudah selesai dan pulang.
Hena setiap detik melihat kakak kelas idolanya itu, semakin saja membuatnya iri akan perlakuan manis pada istrinya.
'Andai nona Siren adalah aku, wah aku pasti akan bahagia.' batin Hena.
"Kalian lihat apa?"
Teriak Mikha, menatap Zei, dan Dani ke arahnya, bahkan membuyarkan lamunan Hera yang memimpikan tuan Damar.
TBC.
__ADS_1