
Mikha yang menyimpulkan karyawan dan asisten suaminya itu punya hubungan, ia memberikan sebuah pesan, dimana ia akan ke kantor, dan meminta Osin ke ruangan suaminya untuk curhat, dimana para suami pastinya akan sibuk dengan banyak meeting.
Hingga sampailah Osin mengetuk ruangan big bos, dimana para bos dan manager semua sedang meeting. Hingga mereka berbicara banyak hal di mansion besarnya.
"Osin, gak bisa kaya gini. Lo ga bisa bicara sepihak kala Eri benar benar seperti itu, sudah sampai mana hubungan kalian?"
"Trus, Mikha gue harus apa. Lo tahu kan, gue juga mau punya suami yang benar benar komitmen untuk setia. Meski gue sadar, gue bukan wanita baik yang gaya menjalin suatu hubungan penuh lurus."
"Osin, gak gitu."
Mikha meminta maaf, lalu memeluk Osin. Kala benar, saat ini mereka memang sedang mempunyai waktu dan bertukar masalah. Mikha memang tahu akan cinta Osin dahulu, ketika saling jatuh ke lubang asmara. Tapi ia menatap Eri benar benar terlihat serius.
"Mikha, gue harus apa?"
"Osin, gimana dengan Ryo. Apa dia kembali hubungi kamu, jadi yang kamu sukai itu Eri atau Ryo?"
Osin menggeleng, lalu ia merasa sedih dan menyesal karena telah terlihat seperti wanita murahan. Osin menjelaskan kala dirinya jijik dengan Eri. Eri yang sering menuntaskan dengan wanita lain, ia tak habis pikir kala ia kembali mengantar berkas. Namun Eri membawanya ke ruang gudang, dan melakukan itu dengan sangat membuat ia tak bisa berontak. Bukan karena ia merasakan ikut senang, tapi tangan yang di ikat, membuat lengan membekas, sampai ia harus memakai baju ketat berlengan panjang. Bagusnya saat itu tak terjadi sesuatu yang lebih.
Mikha yang mendengarkan kala Osin menjelaskan tentang Eri. Namun tak bisa di salahkan, jika Osin juga ingin mempunyai seorang ayah dari pria yang baik kelak untuk anaknya, tapi ia merasa Eri tidak benar benar serius seolah mengulur waktu.
Jika Ryo memang sangat terlihat sopan, dengan seorang pria yang tumbuh tanpa seorang ayah. Ia memiliki ibu yang berkuasa, apa Osin tahu jika klien dari CX adalah salah satu rekan bisnis Eri. Meski jabatan hanya seorang manager, dan Ryo hanya memiliki usaha minuman Star Coffe termahal. Tapi ia cukup terkenal, di kalangan pengusaha. Tapi Ryo dan Osin melakukan hal terlarang, setelahnya Ryo bicara jika malam itu hanya biasa saja, tak ada cinta dan serius hanya saling ingin, tapi anehnya Osin melakukan kesalahan juga dengan Eri atas dasar cinta.
Deg!
Hancur hati Osin, kala ia membenci Eri dan menyukai Ryo, tapi diabaikan Ryo. Hingga Osin makin membenci Eri, karena ia sadar Eri lah yang setia, tapi Osin menghindar karena malu dirinya yang sudah bermalam dengan Ryo, membuat Osin terlihat dibenci Eri.
"Mikha, kok lo bengong sih. Denger ga sih gue ngomong?"
"Hah, ia benar. Gue cuma bingung, besok kan gue check up ke dokter Hara. Lo ikut juga dan periksa ya?"
"Mikha, gue yakin ga hamil kok lagian gue sama Eri itu kesalahan dan yakin ga akan jadi."
"Tapi lo bilang belum datang bulan semenjak kejadian itu kan? Udah beli tespek?" tajam Mikha menatap ingin tahu, jika Osin sempat dihamili Eri, ia akan bicara pada mas Hari untuk menikahkan asistennya itu.
__ADS_1
"Gue, gue udah beli. Tapi takut Mikha, lagian gue cuma telat sebulan. Gue yakin, bentar lagi juga gue bakal datang bulan. Mending kita minum soda yuks Mikha?" tawa Osin merekah.
"Ga waras lo ajak gue dengan minuman kaya gitu. Dengan perut gue buncit gede gini. Terus kalau lo beneran isi gimana, lo mau gugurin tuh kandungan lo?"
Osin terdiam, ia sebenarnya bingung akan kenyataan jika ia hamil. Ryo yang ia dapati seperti sosok mirip mantannya dulu, harus pergi ke luar negeri tanpa bicara satu patah katapun. Karena sebuah lift yang saat mengambil mantel dan menatap Eri, Ryo menjadi salah paham jika ia hanya cinta pada Ryo, padahal hanya sebatas mirip masa lalunya saja.
"Mikha, gue punya masalah dengan Ryo. Sebaiknya gue harus apa, gue temuin diri Ryo yang terdalam." memohon titik masalahnya.
"Osin, cerita sama gue. Semuanya!! gue tahu lo. Dan lo tahu gue kaya gimana kan?" mensuport.
Osin menceritakan soal Ryo yang menjemput di loby parkir belakang. Tak sengaja kala itu Eri memang mengejarnya dan masuk kedalam lift. Lalu melihat pertengkaran mereka, mantel jatuh ia mengambil, lalu Eri memegang tangannya. Seolah yang terlihat Ryo dengannya adalah mereka sedang menjalin suatu hubungan serius.
"Menurut lo, apa Ryo merasa gue khianati dia?"
"Osin, gimana pun lo harus temui Ryo. Biar semua jelas, mau di bawa kemana. Menurut semua yang lo jelasin." Mikha sedikit terdiam dan menghela nafas.
Osin semakin mendekatkan wajahnya, dan bertanya ada apa dengan wajah Mikha yang cemas.
"Kenapa Mikha. Jawab gue jangan bikin penasaran?"
"Mikha, penjelasan lo ga masuk akal. Please katakan sama gue yang sebenarnya! tapi bukannya lo sama Ryo sebelum di angkat jadi anak angkat tuan Bram, satu sekolah ya sama lo?"
"Tapi kita beda kelas, dan yang disukai Ryo itu kakak kelas." membuat Osin terdiam.
"Osin, Ryo sangat lembut namun menurut gue hatinya mudah labil, gak bisa menyelesaikan suatu masalah dengan bijak. Hanya bisa menghindar dan melupakan ga baik dan sehat buat lo yang terus ingin melanjutkan pernikahan."
"Maksud lo Mikha, Ryo mudah labil ga baik."
"Heum, masih kayaknya sampai saat ini."
Mendengar hal itu, Osin tak percaya. Lagi lagi ia mencintai sosok yang ia sukai seperti sang mantan. Tapi berakhir dengan di tinggalkan. Mikha hanya bisa memeluk dan menyabarkan Osin saat ini. Lalu menoleh dan meminta asisten membawakan jus untuknya dan Osin.
"Bi, panggil bapak ya. Sekalian, masih ada di ruang tamu dengan Eri kan?" tanya Mikha.
__ADS_1
"Bapak, dengan pak Eri udah pergi dari tadi Nyah. Satu jam lalu, udah gak ada." jelas asisten rumah itu.
"Apa, pergi. Kemana bi, bapak bilang gak? katanya mau meeting di ruangan khusus?"
Pembantu rumah itu menggeleng, ia gugup lalu permisi tak ingin membuat Nyonya berpikir aneh, kala ia mendengar tadi saat menaruh teh. Meminta Eri mengantarnya ke sebuah club.
"Permisi nyah, saya akan segera antar jus nya!"
Asisten itu, tak bisa menjawab apa yang ia dengar. Ia tahu, jika majikannya sedang hamil besar. Tak boleh mendengar hal aneh dan beresiko stres. Tapi ia juga stres jika tak bicara tuannya pergi ke sebuah Club. Apalagi kesehatan majikan pria itu belum stabil dalam kesehatan akibat kecelakaan parah. Alhasil bibi itu bercerita sembunyi pada majikannya, atas apa yang ia dengar beberapa jam lalu.
***
DI CLUB.
"Bos, Eehm. Pak Hari hentikan, anda tidak boleh minum sebanyak ini!" Eri menghentikan gelas yang akan di teguk.
"Hahaha, santai saja. Tinggal bilang kita rapat penting dadakan. Atau apalah, kau lebih takut bos wanita di banding aku memecatmu Eri?"
Gleuuuk!!
"Bos, kesehatan anda tidak baik. Apa yang harus saya lakukan jika Nyonya bertanya?"
Uhuuuuk. Uhuuuk!!
Hari terdiam meminta Eri menuangkan segelas, lalu meminta Eri untuk minum juga. Tapi Eri menolak, kala dirinya harus menyetir. Namun tiba saja, benda pipih dari saku jasnya terlihat nama dengan dering sebuah nama Bu bos.
"Astaga, apa yang harus aku jawab ini?" menjauh dan menerima panggilan.
Meski Eri mengabaikan panggilan, tapi ia akan lebih takut jika Mikha, istri dari bosnya itu teriak dan murka. Baginya wanita, orangtua dan ibu hamil adalah hal menakutkan jika berbicara.
ERI BAWA PULANG BAPAK!! JIKA TIDAK, AKAN AKU TUTUP CLUB ITU, DAN KU POTONG BAGIAN SENSITIF KALIAN!
20 MENIT CEPAT BAWA BAPAK SAMPAI. JIKA TIDAK ... !!! TERIAK PESAN SUARA MIKHA DALAM PONSEL.
__ADS_1
"Ya, bu kami sedang di jalan." ketakutan Eri, membalas pesan suara. Ia lalu membopong tuan Hari yang sudah pingsan.
Tbc.