Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 MERAJUK SUAMIKU


__ADS_3

Mimpi. Itu adalah hati Siren saat ini. Semoga, dengan penuh harap mimpi itu tidaklah benar benar nyata, dimana Siren takut jika Damar terjadi sesuatu. Hingga beberapa saat, terdengar suara Damar, dimana ia sudah kembali, sesaat akan masuk ke ruangan istrinya, namun tercegah.


Di luar Damar, menerima telepon, dan selesai seorang dokter Dava menghampiri.


"Dengan tuan Damar, suami nyonya Siren?" tanya dokter Dava.


"Iya, saya suaminya dok." balas Damar.


"Baik, bisa ikut keruangan saya!"


Hingga Damar berlalu mengikuti ke ruang dokter.


Di satu ruangan dokter Dava menjelaskan, jika kandungan kehamilan Siren sedikit lemah jika ada beban pikiran yang berat, usahakan agar hati dan pikirannya tenang bahagia.


Meminta di berikan kegiatan pasien yang memulai rileks dan aman. Jangan biarkan kegiatan padat di usia kehamilan muda. Serta usahakan tiga bulan ke depan tidak terlalu lelah. Di tambah vitamin seperti biasa, hanya ditambah dosis untuk perkembangan janin dan pembentukan otak bagi bayi dalam kandungan.


"Ini, resepnya. Segera tebus di apotek seperti biasa!"


"Apa istrinya saya rutin check up dok?"


"Iya dua minggu sekali rutin, terkadang dalam dua minggu sudah 4x. Hanya saja saya baru bertatap kali ini dengan suami pasien." ucap dr Dava.


"Apa kehamilan masih muda, bisa melakukan kegiatan suami istri dok?" ucap Damar, tanpa rasa malu.


"Boleh saja, asalkan kondisi pasien tidak lelah dan sebisa mungkin untuk dilakukan hati hati perlahan. Tapi mungkin dalam waktu dua minggu ke depan saya berikan Supplement imun ibu hamil. Di usahakan tuan puasa dulu, agar Janin kuat." ucap sang dokter.


"Baiklah, terimakasih."


Baru tersenyum, sudah terdiam. Tak lama Damar kembali duduk dan menanyakan kembali.


"Dok. Istri saya rutin kontrol dengan siapa?" tanya Damar.


Sesekali dengan teman seleb nya, tapi lebih sering sendiri, sebentar saya lihat buku tamu kunjungan, hingga lima menit berlalu.


"Nyonya Siren sudah 6x berkunjung sendiri.


dan satu kali ditemani teman selebnya, tuan Damar. Apa ada lagi yang ditanyakan, tuan?"


"Oke, baiklah sudah cukup terimakasih."

__ADS_1


Damar pun berjabat tangan. Dan berlalu dengan menebus obat resep yang dokter berikan.


Pantas saja, Siren aman aman saja jika check up. Dokter Dava sangat terlihat muda, entah kenapa aku mulai cemburu jika ada yang mendekat dengan istriku, meski iya sudah jadi istriku. Kenapa Siren selalu dekat dengan laki laki tampan diatas ku. Aku merasa tidak pede dengan postur badannya yang lebih kekar seperti gorila, aku takut istriku berpaling, kemarin lalu Daru sekarang dokter Dava, aku benci dengan awalan huruf D. Deru batin Damar yang mengacau.


***


Beberapa Hari Kemudian.


Hingga tiba Siren, sudah kembali ke mansion dady Bram, terlihat Damar mengambil koper bawaan baju dari apartemen. Sedang Dady Bram, menghampiri menantunya, dan menggandeng dengan erat.


Damar menatap ayahnya.


"Aduhai, dady jika ada Siren, aku anak kandungnya di abaikan, hingga melewati lebih dulu jalan sambil membawa koper dengan cepat."


Sehingga Siren tersenyum dan Dady Bram menggelengkan kepalanya.


"Dasar, bayi besar sudah dewasa masih saja cemburu ga karuan." ucap Dady Bram.


"Gak apa apa Dady, mungkin Damar masih sebal aku yang hamil, kenapa Damar yang sering uring uringan ya Dad, terlebih tadi dia bahas soal dokter Dava. Katanya aku disuruh ganti dokter perempuan kalau bisa check ke dokter Kara, sahabat aku di brunai." jelas Siren, mengadu pada papa mertuanya itu.


"Lho, bukannya sahabat kamu itu dokter Jantung?" spontan Bram.


Hahaha.


"Dasar bocah aneh."


Dady Bram pun semakin tertawa puas. Kelakuan putranya di bidang proyek, bisnis dan program sistem, tak pernah kalah dan tersaingi. Tapi soal cinta, amat amat takut tersaingi.


"Mungkin suamimu yang ngidam sayang, ya sudah istirahatlah kalau ada apa apa kasih tahu Dady. Orang Dady banyak menjaga, ketika Damar dan Dady tidak ada di mansion. Tinggal bilang ya!"


"Iya Dad, makasih."


"Terus kamu dampingi, Damar bujuk dia jangan sampai wajah di tekuk menerus, bisa bisa klien di kantor kabur, kalau wajahnya kaya gitu terus, kaya belum ambil jatah beras saja itu muka, sepet di lihat." lirih Bram, pergi lebih dulu ke lantai tiga dengan lift.


Siren dan Dady pun tertawa tak karuan. Sementara Damar masih memicik bibir miring kesal dari kejauhan, karena ia sudah tahu jika Dady nya pasti sedang ghibah tentangnya.


Di Kamar.


"Hubby."

__ADS_1


Siren yang sudah mandi, begitu juga dengan Damar yang sudah wangi, dengan piyama membuka kancing terekspose, yang duduk serius membaca koran.


Siren menghampiri memulai pembicaraan tapi lama tak dijawab.


"Hubby kamu masih merajuk, apa yang kamu khawatirkan?" tanya Siren.


Tak lama ia lupa dengan ponsel lalu begitu terkejut, ia mendengar pesan suara dari sahabatnya Mikha.


Siren pun berlalu meninggalkan Damar, tanpa pamit karena suaminya yang serius. Siren menuju gorden dan membuka jendela dan berdiri ditengah balkon.


Damar, segera berhenti membaca koran.


"Istriku, papaku. Hah, sama sama membuat kesal, sekarang aku diabaikan lagi."


Damar pun menuju keluar kamar dan membuat kopi vietnam. Ia berharap pikiran yang kacau entah apa merasa sering kesal dan merajuk. Semoga kopi vietnam hasil karyaku ini tidak salah buat, dan meracik dengan benar meski pikiranku kacau.


"Aku juga tak ingin tiba tiba tak bernyawa dan mengeluarkan busa setelah meminum kopi racikan ku sendiri, bisa senang Siren jadi janda kaya." cetus Damar begitu saja.


Ting nong!


Suara bel berbunyi. Damar melirik dan kesal, tadi sampai dimana ya. "Ah siapa lagi malam malam datang."


"Hubby."


Damar menoleh ketika akan melangkah, ia berusaha ingin membuka siapa yang datang. Tapi istrinya lebih dulu menggantikan posisinya.


"Baguslah, baik sayang bukalah. Asisten jam segini sudah istirahat pasti." sahut Damar.


Tak lama Siren tersenyum, karena menatap suaminya masih saja penuh tanya merajuk, jika aku tak sedang hamil, mungkin aku sudah tinggalkan kau berlibur hubby. Gerutu batin Siren menuju pintu, melihat siapa yang datang.


Cekrek.


Siren membuka dan berteriak kencang.


"Ah, hubby .. hubby tolong!" teriakan Siren membuyarkan Damar kala itu, yang tangannya bergetar dahsyat menumpahkan segelas kopi yang sudah hampir selesai.


Damar pun segera berlalu, meninggalkan kopi yang sudah kacau dan tak indah. Lalu menghampiri istrinya dengan cepat, apa yang terjadi di sana, hingga istrinya berteriak keras.


TBC.

__ADS_1


Happy Reading All.


__ADS_2