Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
WARISAN SYSTEM


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, dimana terlihat jelas Mikha di bawa oleh Hari, sambil menggendong bayi mungilnya itu ke halaman belakang rumah, yang amat luas dengan dekor dan beberapa bangku telah tersedia disana, bagai prasmanan. Dimana beberapa asisten dan penjaga rumah meramaikan.


"Ini apa?" tanya Mikha heran sambil menerima kertas yang ada di tangan .


"Kamu baca saja sayang!" ujar Hari.


Mikha menghela nafas berat, kemudian mulai membaca pesan yang ada di satu lembar kertas tersebut.


Betapa terkejutnya ia, saat membaca surat tersebut. Ternyata itu adalah surat dari mama Inggrid yang mengatakan kalau perusahaan Market Sun Timun emas, yang diberikan Bram dan anak-anak perusahaan lainnya mulai saat itu dibawah kepemimpinan Hari. Dan semua kepemilikan harta atas nama Hari, seperti sebuah rumah mewah yang terletak di pinggir jalan utama termasuk rumah reot yang berdampingan dengan rumah mewah tersebut akan dibuat nama Hari, maka akan jatuh pada Alex Hartanto pewaris, sebagian harta Hari, 35% milik Mikha dan keuntungan setiap bulan berjalan untuk Mikha sebagai menantu Hartanto. Dan warisan itu jatuh pada Alex Hartanto si bayi mungil, ketika Hari telah tiada.


Setelah membaca surat tersebut, Mikha memandang ke arah Hari dengan tajam. Ia baru tahu, jika sebagian atas nama Hari, lalu setengahnya lagi di pimpin milik Bram, ia akan mendapat bagian juga.


"Apa ini tidak berlebihan?"


"Untukmu, ini tidak berlebihan."


Hari saja terdiam mendengar pernyataan Mikha yang merasa kaget, dan mungkin tidak menyangka jika istri kecil yang masih muda, tidak terlalu gila harta seperti Lena, mantan istrinya itu.


"Aku merasa ini terlalu berlebihan, aku dicintai saja sudah cukup, mas Hari apakah kamu akan pergi jauh lagi?"


"Tidak sayang, kemanapun aku akan membawamu. Dan aset ini adalah bentuk hadiah dan pewaris bagi Alex, dan dirimu yang selalu menemaniku. Jadi aset perusahaan Sun System, Sun Timun emas, dan anak anak perusahaan lainnya, kamu harus mengetahuinya. Bagian ku jelas ada di ibu kota ini, sementara induknya tetap milik kak Bram yang jatuh pada Damar, aku hanya ingin kamu tahu kelak." jelas Hari, dengan memeluk Mikha.


Dimana saat itu sang bayi berada dalam pengasuh. Mikha dan Hari, jadi ingat pertama kali mereka bertemu, hingga akhirnya Hari melamar Mikha.


Kenangan dulu Mikha di tinggal kekasihnya dahulu, dan ia teramat kagum pada pria berumur bernama Hari Hartanto. Dan inilah awal pertemuan mereka hingga saling menikah saat itu.


Butir Air Mata, entah sampai kapan.


Mikha, aku datang kembali, Apa kamu mengharapkan aku kembali. Aku sudah datang sayang.


Seseorang berbicara, suara yang tak asing. Hal itu membuat Mikha menoleh dan berdiri tegap. Bahkan ia terkejut apa yang ia lihat adalah benar nyata. Mikha pun memeluk erat kekasih yang ia sangat rindukan.


'Kenapa kau begitu lama pergi. Kamu jahat, jahat ... sekali, meninggalkan aku sendiri Dani.'


Mikha memukul bidak depan tubuh prianya. Lalu ia merangkul pundak amat erat, yang ia inginkan adalah kembali bersama dan memulai hidup janji menikah bersama di cintai, tapi apa boleh buat takdir tak memihak mereka, sehingga Mikha bertemu dengan Hari Hartanto.


Mikha pun merunduk, ia ternyata mimpi. Sudah amat bahagia ketika benar ia bertemu Dani. Tapi benar saja ia membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi. Sudahlah Mikha, dia tidak akan kembali.


Dani kamu tahu, aku akan menikah dengan mas Hari, karena aku terlanjur patah hati, dan sosok mengayomi ada pada dirinya, jika kamu tidak kembali. Dan rasanya kosong dan hampa. Meski kedua orangtua kita sepakat dan membenarkan jika kau sudah pergi jauh, menggantikan pertunangan yang telah tersebar.


Ketika kehilanganmu aku terasa sadar, begitu sangat mencintaimu.

__ADS_1


"Sayang, kok melamun?"


"Hah, ya .. nyawaku masih belum kumpul mas Hari."


Mereka pun tertawa setelah banyak bicara, dan Hari menatap saling memandang.


"Masuklah ke kamar, besok hari bahagia kita. Tidak ada proses pingitan, Mulai lah belajar saling mencintai dengan tulus Mikha, aku tahu di hati gadis belia sepertimu, akan kesulitan mendampingku.


"Mas Hari .. jangan bicara begitu, aku.. "


Mikha terhenti bicara karena bingung apa yang akan ia katakan, lalu ia memeluk berharap di sisa hidupnya adalah membahagiakan orang yang begitu benar mencintainya dan tak akan menyianyiakan karena Mikha hanya kagum saat itu.


"Tenanglah mas Hari, jika hari bahagia itu ada. Aku yakin kita memang telah di takdirkan!"


"Syukurlah, aku bahagia kamu mengatakannya Mikha."


Menjelang malam hari, Mikha masih memandang gaun yang bertabur kerlip payet nan indah. Ia menatap bintang, esok pagi aku telah menjadi istri seorang Hari Hartanto, yang pernah menikah secara private tak banyak orang tahu.


"Aku ikhlas, dan menerima semuanya!"


Mikha menangis di kursi panjang, ditepi balkon. Tapi dia tidak melihat seseorang yang menatap dan memperhatikannya, dibalik celah atap balkon seseorang sedang tersenyum lebar dan bahagia.


Mikha berjalan di taman, ia menghirup udara. Namun di balik semak pohon air mancur, ia melihat seseorang berjas hitam. Mikha menghampiri sekedar ingin tahu, tapi nahas Hari memanggilnya.


"Mas Hari, aku .. tadi disana."


"Ada apa, disana ada siapa?"


"Sepertinya aku salah lihat." balas Mikha.


Tiba saja Mikha tak melihat seorang pun, sehingga ia melupakan dan mengajak Hari untuk masuk kedalam rumah. Kesehatan Hari menjelang akad nikah tidaklah baik di luar karena angin kencang.


Beberapa saat, Hari mengantar Mikha menepi di ujung tangga. Sedangkan Hari pamit dan mencari sesuatu untuk membuat kejutan. Ia meminta seseorang membelikan bucket indah untuk esok pagi.


Pagi hari, akad pernikahan.


Di depan penghulu, Mikha yang dibalut kebaya putih gold berpayet emas. Ia menatap sang ibu dan ayah.


Bahkan tak menyangka akan secepat ini, ia tak menyangka hari bahagia itu tiba. Tapi disampingnya adalah Hari, pria yang ia kagumi atas mantan nya yang meninggalkan Mikha. Kini orang yang ia cintai. Kenapa begitu pahit, ia telah bersusah payah membuka hati pada pria keluarga yang dikenal aneh akan kekayaan yang tidak pada umumnya.


Saya terima nikah dan kawinnya, Mikha Sugandi binti Aeron dengan seperangkat alat shalat dan cincin berlian 18 karat dibayar tunai.

__ADS_1


"Bagaimana saksi Sah?"


"Sah."


Bulir air mata pecah, Mikha menangis haru. Kini ia telah menjadi istri dari Hari Hartanto yang pernah gagal menikah.


"Terimakasih Mikha sayang?"


Mikha tersenyum menatap Hari, lalu mereka sungkeman kepada keluarga dan kedua orangtua mereka.


Ayah dan ibu mengucapkan selamat, kedua pengantin pun antusias tersenyum bahagia telah direstui, dan acara ijab private itu pun berjalan semestinya dengan lancar.


Menjelang sore, semua tamu telah tiada. Mikha dan Hari berpamitan masuk kedalam mobil yang telah di sediakan, ia bergegas langsung ke sebuah hotel berbintang. Hari menggenggam tangan Mikha, meski hati kecilnya ingin sekali menolak. Tapi ia telah menjadi sah nyonya Hari Hartanto.


Mikha makan malam, sebelum kembali masuk kedalam kamar. Hari memperlakukan Mikha bagai peri yang di manja. Beribu kali ia mengucapkan terimakasih pada Mikha, karena telah masuk kedalam kebahagiaannya di saat hati yang patah, Mikha hadir.


"Mikha, setidaknya jika aku tak berumur panjang. Aku telah memilikimu!"


"Mas Hari, jangan lagi katakan itu. Jangan membuat pertanyaan, ucapan hal yang aku ga ingin dengar. Kita akan selalu bersama dan aku akan menemani mas Hari sampai kapan pun."


Hari mencium jemari Mikha. Setelah selesai mereka kembali ke kamar pengantin dalam hotel. Tak lama seorang pelayan memberikan minuman untuk Hari.


"Tuan, ini adalah minuman jamu yang telah disediakan oleh nyonya Ingrid,"


Hari, tersenyum dan melirik Mikha.


"Mama, menyediakan dan menyiapkan semuanya sayang."


Mikha pun tersenyum. Lalu mengekor kemana langkah Hari.


Di dalam kamar, Mikha membuka resleting gaun. Sementara Hari membersihkan dirinya ke kamar mandi. Tapi ada hal yang tak biasa, ia terkejut melihat cermin Sun System terlihat seolah merekam dirinya.


"Kamu lihat apa sayang?"


"Apa ini mas Hari?"


"Salah satu perabotan sun system, dimana harganya fantastis tapi tidak semua orang membelinya dengan mudah, hanya akan dilihat dan ada bagi orang kejujuran tinggi."


Hari menceritakan beberapa hal perusahaan keluarga Hartanto, dan itulah ingatan mereka saat ini pertama kali menikah dengan bahagia, meski banyak rintangan.


Mikha pun menatap suaminya, ia berterimakasih pada suaminya telah membuatkan banyak kebahagiaan materi dan kasih sayang untuknya, dan Mikha berjanji akan menjaga Hari sampai maut memisahkan. Terlebih ia ingin bersama mendampingi suaminya kemanapun pergi bersama Alex, putra tunggal Hari Hartanto.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2