
Peninggalan orang tercinta.
"Daddy," panggil Damar, begitu Bram sampai di rumah.
"Hai Boy, bagaimana di playground?"
"Baik Daddy. Teman-teman Damar baik, miss-nya juga baik," cerita Damar.
"Bagus. Di mana kakek?" tanya Bram pada putranya yang fokus bermain bongkar pasang bersama penjaganya.
"Aku di sini, Bram," sahut Reksa berjalan menuju ke arahnya.
"Ayo ikut Kakek. Damar main sendiri dulu ya," kata Reksa dengan lembut pada cucunya setelah meminta Bram mengikuti dirinya.
Kenan sebagai asisten Bram tentu mengekor meski tanpa diminta.
Begitu mereka duduk di ruang keluarga, Reksa menyerahkan beberapa dokumen dan sebuah laptop pada Bram.
"Ini peninggalan ibumu, maaf menjadi egois dengan memintamu mengontrol perusahaan papa dan ditambah S Kontruksi milik mertuamu, lagi pula itu adalah aset mamamu juga. Sekarang kontrol S Konstruksi sudah benar-benar ada di tangamu, jadi papa bisa memberikan hakmu dengan lega. Kau tahu Bram, Elea sudah tiada. Papa khawatir jika nanti perusahaan yang di bangun dengan Hari dari nol. Jatuh ke tangan orang yang salah ...."
Menghela nafasnya, Reksa menjeda kata-katanya.
"Kau tahu sendiri, kinerja dewan direksi seperti apa. Orang-orang yang papa pilih memiliki kualitas dan kuantitas yang bagus. Sehingga mereka bisa saja mengontrol perusahaan dengan usaha dan keegoisan mereka."
Bram mendengarkan dengan seksama, dia juga paham persaingan dalam diam antar direksi. Jika saja dirinya tidak meminta agar kepemimpinan masih atas nama Handaru Sutomo. Tentu sudah sejak awal mereka menjegal jalan Bram.
"Sekarang kamu bisa mengontrol S Konstruksi, sekaligus menjadi dewan direksi di BI Production. Ibumu menanam saham untuk rumah produksi tersebut, saat ini mungkin PH itu masih kecil. Tapi, papa yakin. Melihat peluang pasar saat ini. BI pasti akan menjadi besar dan berjaya di tanganmu, Bram" Reksa menatap bangga pada putranya itu.
__ADS_1
"Dan ini flashdisk, sebuah kecelakaan sang mama, saat bersama paman Armanto. Tetap selidiki, papa juga rasanya tak sanggup siapa dalang aslinya." jelas Reksa Hartanto.
Dengan tatapan tidak percaya, Bram meraih dokumen tersebut dengan tangan gemetar.
Ternyata masih ada yang ditinggalkan sang ibu untuknya.
Mengusap perlahan berkas tersebut, air mata Bram hendak tumpah namun dia tahan. Sebagai lelaki, dia harus tegar dan kuat. Beban di pundaknya harus dia pikul sekuat tenaga, demi nama leluhurnya.
"Kamu bisa melihatnya besok," ucap Reksa. Terharu, melihat betapa Bram sangat menghargai milik ibunya meski itu hanya hal kecil.
"Terimakasih Pah." Bram menatap Reksa dengan senyum tulus.
"Selanjutnya setelah kamu bisa menghandle seluruh usahamu, cobalah cari pasangan. Kamu membutuhkan istri, Bram. Supaya Damar tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ibu." Perkataan Reksa membuat Bram terdiam.
Menunduk sesaat, Bram tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa nyaman dengan keadaan saat ini, kasih sayangnya hanya terfokus pada Damar saja. Lagipula jika dia menikah kembali, apakah istrinya nanti bisa menyayangi Damar sama besar seperti dirinya menyayangi bocah menggemaskan itu. Terlebih bayangan Elea sulit Bram lupakan karena rasa cintanya begitu besar.
"BI Production. Setahu saya rumah produksi itu sudah berdiri cukup lama, Tuan. Hanya saja, mereka belum terlalu terkenal. Baru-baru ini mereka memiliki banyak artis pendatang baru yang mampu mendobrak pangsa pasar," komentar Kenan ketika Reksa mengajak Damar berkebun di taman belakang.
"Sebegitu sukanya mama dengan dunia entertaimen, dulu mamaku seorang seniman Kenan. Hanya saja aku terlalu sibuk menarik perhatian, sampai tidak memperhatikan mama," sesal Bram.
Mau tidak mau, air matanya menetes juga. Rasanya Bram seperti anak durhaka yang salah mengharap perhatian, tapi semuanya sudah terlambat bukan?
"Ayo kita lihat BI Production ini Kenan. Kita lihat semenarik apa dunia entertaimen."
Mengenakan setelan jas semiformal, Bram mendandani Damar serupa dengan dirinya.
"Kau yakin membawa Damar ke sana?" tanya Reksa, memperhatikan kesibukan Bram mengemas keperluan putranya.
__ADS_1
"Iya Pah. Damar pasti suka bertemu dengan banyak orang," tutur Bram. Kini keduanya menatap Damar yang sedang berusaha memakai sepatunya sendiri.
Kemudian mereka bertepuk tangan riang, saat bocah itu berhasil menggunakan sepatu. Sayangnya Damar, memakainya dengan terbalik.
"Boy, itu kamu pakai terbalik," terang Bram.
"No. Ini sudah benar, yang depan ada di depan tidak di belakang Daddy," sanggah Damar, memperhatikan sepatunya yang terpasang dengan benar menurutnya.
"Bukan seperti itu Damar, itu yang kamu pakai untuk kaki kiri sayang," sahut Bram menahan kekehan geli.
"Benarkah? Sepertinya sama saja." Dahi bocah itu berkerut menatap sepatu yang menurutnya sama bentuknya.
"Sini, biar Daddy yang pasangkan." Bram mendekati putranya, tapi Damar menolak.
"No. Kata miss Rein, Damar harus belajar memasang sepatu sendiri." Melepas sepatunya yang sudah terpasang dengan rapi, Damar mengatur ulang letak sepatunya.
Damar begitu serius memperhatikan letak sepatunya, dahinya sampai berkerut dengan bibir yang mencebik.
Setelah dia perhatikan dengan benar, letaknya memang sedikit ganjil. Jadi dia membalik posisi sepatu tadi, barulah dia merasa jika letaknya sudah benar.
"Apa seperti itu?" tanyanya sambil menunjuk sepatu di hadapannya.
Bram dan Reksa kompak mengangguk, mereka bangga pada kecerdasan Damar.
TBC
Sambil tunggu Up! Yuks mampir ke temen litersi Author.
__ADS_1