
"Sudah selesai, Jadi bagaimana?" ujar Hari, mendekat.
“Aku ingin membalas mereka." Bram, singkat. Karena memang itulah satu-satunya yang muncul di kepala Bram, setelah mendengar pertanyaan Hari.
“Benarkah? Kalau begitu bagaimana bila sebagai awalan, kau ikut denganku?" Hari, dengan segera tersenyum.
“Kemana?" Bram, menaruh curiga.
“Reuni, sekolah kita mengadakan reuni tahun ini. Tahun sebelumnya kau tidak datang, jadi bagaimana bila kau ikut denganku tahun ini sebagai perayaan kelulusan kita setelah dua tahun?" Ajak Hari, berharap Bram, mau menerima ajakannya.
“Kenapa? Apa kau tidak rindu sama sekali dengan teman-teman sekolah kita dahulu?" Hari, setelah menyadari bila Bram hanya terdiam.
“Tidak, mereka bukan temanku." Bram, teringat kembali dengan bagaimana hari-harinya di sekolah dahulu berlalu.
Sendiri, sepi, dingin juga ketidakpedulian. Itulah yang pertama teringat oleh Bram, terkait masa sekolahnya, karena memang Bram rasa, ada atau tidaknya dirinya di sekolah tidak akan mempengaruhi apapun.
“Hey, jangan bicara seperti itu. Apakah kau tidak ingat bagaimana dahulu kau begitu mengagumi teman sebangkumu? Siapa namanya? Oh benar, Lena." Hari, mencoba membujuk Bram, untuk mau menemaninya.
“Hey, itu dahulu. Sekarang sudah jauh berbeda." Bram dengan segera, setelah Hari membahas seorang wanita yang dahulu sempat Bram, taruh hati padanya.
Tetapi sekali lagi, Bram dahulu merupakan seseorang tanpa teman. Membuat dapat dekat dengan Lena yang sempat Hari singgung, di mana Lena merupakan gadis yang begitu populer di sekolah karena kecantikannya, sehingga terasa mustahil bagi Bram, saat itu untuk dapat dekat dengannya.
“Hey, jangan sembarangan. Aku bahkan rela tidak mendekatinya karena tau kau menyukainya, jujur saja aku cukup menyesal melakukan itu bila kau bertingkah seperti ini sekarang. Meski aku adik kelas." Hari, pada Bram.
Bram, sendiri hanya terdiam setelah Hari mengatakan hal tersebut, karena memang apa yang dikatakan Hari saat itu benar.
Padahal mudah saja bagi Hari untuk mendapatkan Lena semasa sekolah, melihat betapa populer serta betapa tampannya Hari membuat hampir setiap murid wanita di sekolah tergila-gila.
__ADS_1
Mendapatkan Lena tentu seperti membalikan telapak tangan bagi Hari, meski tidak Hari lakukan hal tersebut sesuai apa yang dikatakannya.
“Jadi bagaimana? Apa kau tidak ingin melihat betapa berubah dirinya? Jujur tahun kemarin dirinya telah bertambah cantik bahkan hingga dapat membuat diriku terpukau, apa kau tidak penasaran?" Hari, membujuk Bram.
“Baik, tetapi aku melakukan ini karena aku ingin. Bukan karena apapun." Bram, memilih menyerah saat itu. Berpikir Hari bahkan mau mengantarnya sampai rumah meski tau apa konsekuensinya, membuat Bram akan terlihat begitu tidak tau terimakasih bila menolak ajakan Hari saat itu.
“Apapun alasannya, kau ikut saja aku sudah senang." Hari, sebelum menjalankan kembali game yang sempat dirinya jeda untuk berbicara pada Bram.
Baru beberapa saat game kembali di mulai, sebuah ketukan dari pintu kamar serta suara yang terdengar setelahnya dengan segera menghancurkan suasana hati Hari? yang telah mulai berangsur membaik.
“Tuan muda, Nyonya meminta dirimu membawa tuan Hari, untuk datang menemuinya di bawah."
Sebuah perkataan yang seolah seperti bata besar, terlempar. Menghantam kepala Hari begitu kencang, sehingga rasa sakit tiba-tiba muncul tepat di kepala Hari. Hanya karena sebuah ucapan berisi informasi, dari kepala pelayan di kediaman Bram.
Bram, terdiam dan bicara, jika ia akan pergi untuk mengantar orderan. Sementara Hari, dengan lemas sudah tahu apa yang ingin di maksud sang mama.
"Misi, aplikasi menguntungkan aku harus segera mengantarnya." jelas Bram.
"Tunggu! Kak, apa papa memberikanmu ...?"
"Heuuumph!" Bram, segera mungkin memperlihatkan sebuah cek yang membuat Hari, memegang dan menatap bulat bulat.
"Kau tidak ingin bertemu mama, sudah lama bukan. Ayolah! Kau ikut denganku."
"Jangan alibi, anggap saja angin lewat. Jadi temuilah nyonya inggrid!" bisiknya dan berlalu pergi, seolah meledek.
Kau! Nyonya Inggrid itu mamamu juga kak! Gerutu Hari, ia sudah tahu apa yang akan dihadapinya adalah sebuah perang ketika bertemu sang mama. Menatap Bram, telah menjauh.
__ADS_1
***
Bram pulang dengan bus, ia segera ke rumah yang kini ia tinggali di kediaman Qi Ruslan. Dengan bantuan system dan aplikasi ip name, ia segera menyiapkan Timun Emas seberat 40kg.
"Perumahan Madang Ora Madang ?"
Gleuuk!
"Baru kali ini aku temui alamat serumit ini, apa tidak ada nomor dan patokan yang lengkap?" berfikir Bram.
Kala itu, ia memproses paket untuk ia antarkan. Dengan google maps, ia segera mencari alamat itu dalam waktu dua jam. Bram berputar putar, karena tidak ada perumahan madang ora madang, di plang daerah setempat.
Gang Sempit! Plang yang terlihat alu lalang orang lewat.
"Mas, tau perumahan madang ora madang? Hehe, maaf! Bukan maksud mencela, saya sedang mencarinya. Atas nama Mr cangkuel."
"Oh, Mr Cang di ujung kiri, paling pojok dekat kali kecil. Sebelahnya empang, depannya pemancingan. Itu perumahan yang anda cari!" ujar pria kurus bagai lidi, dengan tinggi sekitar 170cm, pergi setelah menjelaskan.
Braaagh!! Menoleh Bram sedikit penat.
Bram yang tadinya semangat mengantar, ia tertegun karena ia sulit untuk membawa roda duanya, karena gangnya amat sempit.
"Seriuskah, benarkan ini alamat yang memesan?" bingung Bram, berfikir keras.
Karena ia harus memanggul timun emas seberat 40kg, dan membiarkan motornya di jalan.
Tbc.
__ADS_1