Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
CURHATAN HARI


__ADS_3

Peresmian rumah sakit berjalan lancar, Bram yang disorot bersama Elea. Dan sang papa ikut turut menepuk bahagia. Berbagai tayangan tv swasta ikut menyeret nama Bram, dan kegigihan kesuksessannya kali ini trending, sebagai motivasi.


Reksa Hartanto segera melipir ke ruangan lain, yakni dimana matanya tertuju pada kakek tua yang mengamatinya dari jarak semakin dekat dan kini menjauh, setelah dirasa ia sadar diperhatikan sejak tadi.


Hingga sampai di sebuah lorong, tuan Reksa berteriak. "Kek, jangan menjauh! Apa yang sebenarnya kakek inginkan lagi, apa belum cukup aku sudah mengorbankan banyak orang yang aku cintai, dengan tulus?" teriak Reksa, entah pada siapa ia bagai halusinasi di dalam lorong berbicara.


Kakek tua itu mendekat Reksa, lalu hilang dengan sempurna. Jelas Reksa menahan ingatan yang tak ingin terulang lagi. Sudah cukup, ingin sekali hari tuanya bahagia bisa seperti ayah dan kakek lainnya yang dirumah dan bercanda gurau dengan keluarga. Tapi Reksa Hartanto tidak, ia akan terus menjadi orang berkuasa dan disegani, bukan pria ramah yang bahagia dengan keluarganya. Kaya tapi kesepian, untuk apa?! ujar Reksa kala itu.


***


Sementara berbeda dengan Hari, ia yang membersihkan lantas 13, entah kenapa seorang kakek tua duduk disebelahnya dan curhat membuat Hari, ikut berkomentar dan banyak tanya.


"Kau mirip sekali dengan Reksa Hartanto, hey anak muda?" senyum kakek tua.


"Selama delapan belas tahun hidup saya, saya hanya meminjam nama Hartanto tanpa ada darah dia, mengalir setetes pun dalam diri saya-- bahkan menatap muka dengan Bram, yang saya rasa ia adalah kakak kandung, musnah untuk bersua duka dan kebahagiaan. Rasanya saya malu,"


"Tunggu anak muda, sombong itu bagus. Tapi kamu juga harus tahu bagaimana meletakkan kesombonganmu itu dengan benar," sela Qi Ruslan yang sedikit paham mengenai asal usul bagaimana Reksa Hartanto akhirnya bisa menikahi Inggrid.


"Dari semua cerita yang kamu dengar, tentu kamu tidak akan pernah tahu satu rahasia yang disembunyikan dengan apik oleh Reksa dan Inggrid. Reksa dan Inggrid terlalu cerdas untuk menerima keadaan begitu saja, Nak. Ada alasan di balik itu semua."


Sudah saatnya Qi Ruslan membongkar rahasia yang dia ketahuinya, agar Hari mendapat kehidupan tanpa dendam. Supaya cucu generasinya itu tidak salah dalam melangkah.


"Seperti yang kamu tahu, tepat ketika Armanto dan Dayana mengalami kecelakaan. Saat itu ibumu tahu jika dia tengah mengandung, golongan darah ayahmu yang langka membuat kandungan ibumu bermasalah. Dia membutuhkan banyak darah untuk perkembangan janin yang dia kandung. Merupakan suatu keberuntungan bagi Reksa Hartanto, yang memiliki golongan darah yang sama dengan almarhum Armanto, mendiang ayah aslimu. Reksa adalah orang terkuat, yang harus menyembunyikan Dayana yang saat itu sedang dilantik, satu kantor beda Pt dengan Armanto. Aakh, isu dan fitnah yang akhirnya mereka sama sama kehilangan dan sepakat bersama dengan sebuah misi."


Terkejut dengan fakta yang baru saja dia ketahui, Hari mengangguk kaku menyetujui perkataan kakek tua yang ia temui kali ini.


Jadi ada darah Reksa yang mengalir di dalam tubuhnya, pikir Hari sama sekali tidak menyangka.


"Tentu saja Reksa Hartanto tidak akan membiarkan darahnya diambil secara cuma-cuma. Dia meminta sejumlah saham Fixel Corp ( FC )atas namanya, tapi Reksa juga bukan orang bodoh. Dia mengiyakan permintaan Armanto dengan syarat laki-laki itu mau menikahi Inggrid karena ayahmu tau akan pergi, apalagi belum menikahi ibumu saat itu. Sayangnya seseorang seperti Reksa yang serupa belut, memiliki seribu satu akal supaya apa yang sudah menjadi miliknya tidak bisa direbut kembali. Dia menyabotase kematian Armanto."

__ADS_1


Hari termenung mendengar nama Armanto, sebab dia sering dengar, satu Armanto. Namun, dia segera menggelengkan kepalanya berpikir jika bukan hanya satu nama itu di dunia ini melainkan ribuan.


"Kakek tidak berbohong kan?"


"Apakah berbohong itu ada untungnya? katakanlah aku adalah sahabat kakek mu, dan kamu beruntung jika bertemu denganku percayalah! tapi ingat, hentikan dendam dan rasa benci mu pada keluargamu yang telah baik!" ujar Qi Ruslan.


Hari terdiam mencerna perkataan kakek tua yang ia temui di kantor tempatnya bekerja, yang ternyata sahabat kakeknya dulu ia bilang.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Akan ada saatnya roda itu berputar, Hari. Kamu akan lanjut kuliah jurusan apa?" tanya Qi Ruslan lagi.


"Manajemen bisnis, Kek," jawab Hari, mencoba untuk tenang padahal hatinya sedang bergejolak.


"Bagus. Aku menunggu kelulusanmu, Hari. Untuk saat ini kamu memang harus memulai semua dari bawah, sesuatu yang diawali dengan usaha sendiri. Pasti akan awet dan membanggakan." Qi Ruslan menatap cucunya penuh arti, meski kali ini ia menyamar sebagai sahabat kakeknya. Mustahil kemampuan Qi Ruslan yang kasat mata dan orang tertentulah yang bisa ditemuinya.


"Tapi aku pikir, Nggak ya Kek, Hari kayaknya mau kuliah lanjutan bisnis. Aku mau kuliah desain grafis."


Hari tersedak oleh kata-katanya yang kembali dia telan, saat mendapat tatapan tajam dari Qi Ruslan. Biar bagaimanapun desain grafis tetap saja berhubungan dengan konstruksi. Jadi sampai kapan pun darah Armanto tetap mengalir deras pada diri Hari, meski dia seorang cucu.


"Nggak, soalnya di sana nggak ada teman Hari. Hari mau kuliah di universitas kota tetangga."


"Ya, rumput tetangga memang selalu lebih hijau," ucap Ruslan dengan putus asa.


Tak sangka garis keturunannya beragam, mudah down tidak tangguh seperti Bram. Sangat aneh memang, Bram yang kecilnya mandiri dan Hari yang dimanja dengan kemewahan, akan kesulitan setelah keluar dari rumah atau terusir untuk menghidupinya sendiri dan menonjolkan kemampuannya.


Hingga beberapa saat kemudian, Hari tak sadar kala masih bercerita. Kakek tua itu sudah hilang tanpa jejak, Hari terdiam mengedipkan mata dan menepuk pipinya.


Setelah berbincang dengan Kakek Ruslan tadi, Hari kembali ke lantai bawah tempat petugas kebersihan berada.


Meski banyak yang baik padanya di kantor, ada juga yang berperilaku buruk pada Hari. Dia sering sekali dijahili oleh teman-temannya. Namun selagi tidak berbahaya atau merugikan dirinya dengan parah. Dia enggan menanggapi, lebih memilih mengabaikan saja.

__ADS_1


"Hari!" panggil seseorang tepat saat dia hendak membuka pintu lobi untuk pulang.


"Oh hai Nona. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Hari dengan sopan.


"Jangan terlalu formal Hari, aku tidak suka," dengus Kristal sebal, yang saat itu ia merubah penampilannya menjadi gadis berkacamata berusia 19 tahun, sehingga Hari tak mengenali ia adalah Kristal yang berada di pusat Pertanian timun emas Bram.


"Jadi, apa yang bisa kubantu?" ulangnya sekali lagi.


"Mau berteman denganku?" tanya Kristal, mengulurkan jari kelingkingnya.


"Baiklah, tapi maaf jika temanmu hanyalah seorang office boy," ujar Hari dengan rendah diri.


"Oh ayolah. Office boy mana yang bisa kuliah di universitas ternama yang menuntut mahasiswanya mendapat nilai tinggi, Hari!" pekik Kristal dengan gemas.


"Kumohon pelankan suaramu," pinta Hari, sambil celingukan dan mengangguk sebagai tanda permintaan maaf. Selain itu dia juga tidak ingin banyak yang tahu mengenai dirinya.


"Aku ingin mampir ke tempat tinggalmu," pinta Kristal setelah keduanya melangkah keluar dari pelataran kantor konstruksi.


"Aku tinggal di asrama kampus GI." Kristal memang lebih cocok menjadi temannya, sikap gadis itu berbeda jauh dengan gadis yang dia kenali.


Tidak ada debar aneh yang selalu mengguncang jantungnya, saat gadis tersebut memanggil namanya.


"Sebenarnya aku cukup tertekan saat kakek memintaku untuk kuliah dan menetap di sini," curhat Kristal, saat mereka duduk di bangku taman kota.


"Kenapa ..?" terdiam Hari, ia menoleh mengintai wajah gadis ini yang terlihat lucu, dan manis.


'Eh, dasar bodoh kenapa dia menatapku begitu, jika bukan karena utusan langit memintaku dekat dengan keseharian Hari, ooh andai saja dia tidak lembek dan melow seperti Bram. Bisa bisa aku tidak akan pulang ke gunung emas, jika misi keduaku ini berakhir jatuh cinta dengan manusia.' gumam Kristal yang kali itu entah bergerutu pada siapa, seolah tatapan Hari kali ini membuat dirinya tidak aman.


"Kris, Kristal kok diam...?" tanya Hari, telapak tangannya menyadarkan jentik di depan wajah Kristal kala itu. Sehingga tatapan mereka amat dekat.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2