
Kehadiran Elea berkat bantuan system, sebenarnya cukup menarik perhatian orang-orang terutama anggota inti keluarga Reksa.
Tapi karena kehadiran itu adalah atas undangan secara langsung oleh Bram, maka mereka hanya mampu mengikuti kemauan si mempelai saja.
"Bram, aku hanya bisa hadir dimalam hari, hanya dua jam saja. Apa kau yakin mengajakku ke mari, aku akan menjadi debu kelak."
"Sabarlah El! kamu tetap harus ada di dalam pelukanku, aku tidak akan lama. Dengan begitu, tidak ada yang mengharapkan aku lagi kelak dimata wanita lain."
Bram pun dan Elea hadir pada sebuah pesta peresmian, dandanan Elea pun saat itu berbeda sehingga tak dikenali. Yang media pikir Bram membawa gandengan wanita baru sebagai calon istri.
Hingga seseorang pun lewat begitu saja, Bram tak habis pikir dengan pria yang melewatinya.
Dalam hati berpikir, kenapa anak muda dengan wajah malaikat seperti ini, pernah berbuat sangat keji dimasa lalu?
Bram masih duduk ditempatnya tadi, tidak berniat bergabung dengan kelompok Hari dan yang lain.
la tahu, ia tak akan diterima disana, bisa-bisa acara pernikahan Bram dan Elea yang masih dicintainya itu, akan berantakan jika ia menghampiri mereka.
Dilihatnya anak kecil yang tadi membantunya, tampak sedang berbincang dengan seorang wanita cantik.
Mungkin itu ibunya.
Terlihat bocah itu menunjuk padanya, membuat Elea, menebak-nebak apa yang dibicarakan oleh kedua orang didepan sana.
Tak lama bocah itu kembali menghampirinya.
"Paman, kata Mommy ayo bergabung disana, pamankan tamunya Jae uncle dan Winnie," ucap Anastasya, bocah perempuan itu terdengar sangat riang.
Bram terkekeh geli mendengar cara bocah ini memanggil para pamannya, ada uncle, ada pula Oppa. Sepertinya bocah ini tidak terpaku pada aturan baku tentang tata krama, dalam memanggil anggota keluarga di Korea, mungkin karena pengaruh dua kebudayaan yang dianutnya.
"Tapi sebaiknya Oppa atau paman disini saja!" ucap Bram sangat pelan, karena ia tidak bisa meninggalkan Elea yang bukan manusia asli.
"Jangan Oppa, kau tampak mengkhawatirkan jika sendirian disini, ayo kutemani,"
Tanpa menunggu jawaban Bram, lagi-lagi bocah manis nan cantik, sudah mendorong kursi Bram mendekat pada ibunya serta yang lain.
Bram tak berani menatap wajah siapapun disana.
Pukkk.
Pundak Bram ditepuk seseorang.
__ADS_1
Wajah tampan seorang pria blasteran itu juga hadir dipenglihatannya.
"Putriku tidak gampang dekat dengan seseorang, apalagi orang asing, sepertinya dia menyukaimu pak Bram!" ucap pria itu, Bram menatap bingung pada pria blasteran disampingnya ini.
Mata Bram menatap interaksi dua bocah didepan sana.
Bocah yang tadi mendorong kursi rodanya dan juga seorang bocah remaja yang diketahuinya adalah pasangan dari teman Hari Hartanto.
Keduanya tampak asyik berbincang sambil sesekali tertawa terbahak-bahak, entah apa yang mereka bicarakan.
"Namanya Anastasya, Anastasya Xander, nah ya aku Alexander, suami dari kim Nina, putri sulung keluarga Kim,"
Alexander mengulurkan tangannya pada Bram, yang terperangah, setelah pria bule ini memperkenalkan dirinya dan putrinya.
Bram menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya erat.
"Saya pernah mendengar tentang anda langsung, senang bertemu dengan anda," ucap Bram, yang sangat tulus. Menghadiri pertemuan perusahaan diberbagai negara itu.
Alexander hanya tersenyum menangapi.
"Tentang putri anda, dia anak yang manis nan cantik dan baik, anda dan istri anda mendidiknya dengan sangat baik," ucap Bram.
Entah kenapa Elea yang di samping Bram, menemaninya itu, hatinya merasa sangat nyaman, saat pria tampan yang berusia lebih tua darinya ini, mengatakan jika putri rekan klien itu menyukai diri Bram! memang wajar jika Bram disukai banyak kalangan.
Kim Jae seorang ahli piano di pesta itu berdiri dengan memegang microphone ditangannya. Menatap empat puluh meter kedepan.
Diatas karpet merah yang digelar diatas rumput hijau, dihiasi taburan jutaan kelopak mawar merah.
Bram pun melihat kearah Elea yang sebentar lagi menjadi istrinya dari kejauhan, sempat terpaku melihat kecantikan yang dipancarkan Elea hari ini. Bram masih tidak menyangka bisa mendapatkan Elea untuk menjadi istri sahnya lagi, meski hanya sebuah bantuan system ia bisa melihat dan bersama lagi dengan Elea.
Sedangkan Elea yang melihat Bram yang sebentar lagi menjadi suami sahnya, sempat tersipu malu melihat ketampanan dari sang calon suaminya itu, apa lagi pipi Elea bersemu merah disaat Bram menatapnya seintens itu.
Tiga puluh meter didepan sana.
Elea berjalan sembari tersenyum manis.
Pria tampan yang akan menjadi pendamping hidupnya, sedang menyanyikan sebuah lagu penuh cinta dengan lembut untuknya. Meski Elea tidak yakin, kehidupannya dengan bantuan system tidak bertahan lama.
Jika seandainya seluruh bunga diseluruh dunia ini dikumpulkan, keindahannya masih tak mampu menandingi indahnya perasaan seorang Elea saat ini.
Bram masih melanjutkan nyanyian yang begitu merdu ditelinga para tamu, Elea yang mendengar suara dari Bram, sempat dibuat melting.
__ADS_1
Bram menatap lembut wanita cantik, yang berjarak dua puluh meter didepan sana. Pada sepasang mata indah tersebut. Pada kedipan lucunya. Pada senyum polos dan tawa lugunya.
Inilah pendamping hidupnya, hari ini adalah hari yang spesial, dimana Bram akan memulai hidup yang barunya segera dimulai, hidup bersama wanita cantik pemilik hatinya ini telah kembali.
Bram masih melanjutkan nyanyian yang begitu merdu, ditelinga Elea maupun para tamu hadirin.
Bram akan selalu menjaganya, hidup untuk membahagiakannya, remaja cantik yang saat ini berdiri didepannya, lima meter disana.
Akan terus mencintainya sampai hembusan nafas terakhirnya.
Bram mengulurkan tangan Elea yang cantik didepannya.
Raut lega terpancar diwajah pria paruh baya tersebut.
Lega karena telah melepaskan putri kesayangannya kepada orang yang tepat.
Alunan musik diruangan itu masih mengalun sangat indah dan romantis, membuat Hari yang mendengarnya tersenyum kearah depan, dimana Bram dan Elea sebentar lagi akan menjadi suami istri yang sah, setelah sekian lama berpisah.
Elea menyambut uluran tangan pria tampan itu.
Cinta pertama dimasa remajanya.
Cinta sejati didalam hidupnya.
Tes.
Tes.
Setetes air mata menetes disudut mata indahnya itu, Elea sesak akan kebahagiaan hari ini, Elea masih tidak menyangka dengan ini semuanya.
Bram sangat meyakini cintanya pada Elea manis ini, Elea adalah jawaban dari doa-doanya, ketika ia meminta seseorang pendamping yang sanggup mengimbanginya.
Pendamping yang akan selalu bersamanya dalam segala hal.
Pendamping yang selalu ada sampai maut memisahkan mereka berdua.
Bagi Elea sendiri. Bram adalah mimpi indahnya yang menjadi kenyataan.
Sementara Hari, ia merasa bahagia ketika sang kakak bisa mendapatkan pendamping lagi, di pesta perusahaan meriah ini. Entah kenapa Hari merasa, sosok itu benar benar mirip Elea kakak iparnya yang bangkit lagi.
"Kau lihat apa Hari?" tanya Kenan.
__ADS_1
"Bram, dan wanita itu seperti kak Elea asli. Apakah aku mimpi?" tanya Hari.
TBC.