
Tidak pernah terbayangkan, saat ini Hari Hartanto kembali dengan kondisi mengenaskan, dimana ia mendapati kabar. Jika orang dari Lena, berniat membunuh suaminya, atas dasar suaminya tidak mau menceraikan Mikha, sungguh sadis. Dimana Lena melakukan itu, agar Mikha dan Lena tidak ada yang mendapatkan cinta Hari Hartanto.
Jika Lena berfikir jernih, harusnya ia sadar, kala mas Hari tak ada, yang di untungkan adalah Mikha, jika Lena ingin kekayaan 40% milik keluarga besar ini.
"Mikha, kami turut prihatin. Tapi percayalah, dokter Ira, akan menangani di mana pergelangan tangan Hari yang putus dan mungkin penyebab putus itu, Hari tak mendapat perawatan intensif!"
Ryo meminta Mikha tetap percaya pada seluruh dokter. Yang jelas, Mikha yakin jika mas Hari dibuat mengenaskan, karena rasa cemburu Lena yang tak mendapatkan mantan suaminya yang tak mau kembali padanya.
Mikha duduk lemas, ia jatuh tersungkur dan mencoba banyak mengingat segalanya. Hal yang tak mudah bagi Mikha adalah melihat suaminya, yang ia temukan dan cari kembali hilang dari penglihatannya.
"Mas, aku harap kamu sembuh. Aku mohon mas bertahan dan berjuanglah!" Mikha menatap kaca dari bilik, yang terlihat Hari disana, penuh dengan selang infus di seluruh tubuhnya.
"Pendarahan, kami membutuhkan golong O langka, saya harap jika ada memiliki golongan itu, saya harap berjaga jaga. Karena di saat normal keadaan, kami akan menangani cukup intens dan mencoba kembali penanganan serius!"
Dokter Ira menjelaskan, jika ia akan membantu dokter terhebat untuk penyambungan tangan palsu pada Hari, meski canggih, tapi ia berharap itu bisa memulihkan kelak menjadi lebih baik.
Mikha hanya memohon, agar Hari bisa disembuhkan. Hingga di mana seluruh dokter pergi dan kembali melakukan tugas medisnya
Satu jam, tiga jam bahkan lebih. Mikha segera pergi dan menunggu. Ia juga meminta asisten rumah untuk membawa pakaian ganti untuknya. Mikha bermaksud tetap ingin menjaga menemani Hari, sampai pulih dan siuman. Hal itu membuat Mikha yakin, keberadaannya akan menjadi keajaiban. Kesembuhan sempurna bagi suaminya itu.
"Mas, aku mengkesampingkan masalah yang ada. Yang aku mau, kamu pulih dan bangun mas. Lihat aku dan anak dalam kandungan ku, aku sedang hamil. Menunggumu aku sangat bersabar dan tetap akan ada di sampingmu!" lirih Mikha.
Hingga di mana, Mikha sedikit terkejut akan seseorang yang datang. Seorang wanita yang begitu saja datang tiba tiba menghampiri. Saat menunggu di luar rumah sakit.
Mikha yang bekerja di luar rumah, sudah cukup membawa kandungannya, memenuhi mimpinya saat ini untuk bersama kembali dan mengarungi kebahagian terbesar, adalah berpetualang menaiki balon udara atau komedi putar bersama Mas Hari dan anak nya kelak. Mikha menginginkan kebahagiaan terbesar adalah memiliki keluarga bahagia dan utuh. Ia tak ingin anaknya kelak, tak mempunyai salah satu orang tua di saat pertumbuhannya berjalan.
Mikha jatuh cinta akan keindahan hidup dan balon udara yang menghiasi udara, baginya balon sebuah komedi putar menggambarkan kehidupannya yang penuh lika liku, berputar dalam banyak masalah dan perpecahan yang harus ia hadapi.
Takdir berkata lain. Mikha sempat menyaksikan keindahan tersebut sirna. Ketika Mikha harus mendengar dan melihat kecelakaan tragis Mas Hari. Mikha hanya sanggup menikmati hidup yang merana dari foto-foto yang ia temukan di dalam ponsel dan ruangan rumah ketika ia rindu. Mikha selalu menggapai foto itu, berharap mas Hari kembali datang dan menjadi pelindungnya. Bertahan dan selalu setia mengarungi rumah tangganya.
"Mas, aku mohon. Berjuanglah untuk tetap hidup!" batin Mikha.
__ADS_1
Tak lama salah satu petugas, tiba saja keluar dan panik dari ruangan mas Hari. Membuat Mikha kini ikut panik dan penuh tanya.
"Ada apa ini?"
Suster .. Suster. Cepat tolong pasien ini! Panggil segera dokter Ira dan dokter Frank."
Mikha segera berdiri, lalu dengan sadar pria medis itu menatap Mikha, untuk kembali duduk.
"Mohon, bantuannya agar ibu tetap tenang. Kami akan membantu dan menolong pasien sebaik mungkin!"
"Apa suamiku parah, katakan pada saya dok!"
"Baiklah. Bersabarlah bu, mohon tunggu di luar, kami tim medis akan menanganinya."
Sang dokter pun tiba datang. Lalu perawat di ruang ugd segera menangani dengan cepat dan tertutup.
Mikha menghubungi sahabatnya Osin, namun jelas ia sedang sibuk dan mengurus banyak hal. Mikha mengurungkan dan menghubungi seseorang.
Hingga tiba, Mikha kembali duduk dan bersandar dengan wajah semakin sedih mendalam. Tak lama, dokter Ira, kembali keluar menemui keadaan keluarga pasien.
"Apa ada keluarga dari pasien Hari Hartanto bisa saya bicara?"
"Saya, dok masih keluarganya. Saya istrinya."
"Baiklah anda istrinya?"
Mikha melirik dokter Ira, yang tiba saja keluar.
"Apa ada yang harus saya lakukan dok. Saya harus berbuat apa agar suami saya kembali pulih?" pinta Mikha.
"Maaf Bu! kami membutuhkan banyak darah O langka. Apa ada keluarga yang bisa mendonorkan, karena kehilangan darah akan berisiko padanya saat ini! Bahkan dokter Frank bicara, di rumah sakit ini tidak ada darah tersebut."
__ADS_1
"Apa golongan O. Setahuku hanya ayahnya tapi telah tiada. Apa tak masalah?"
"Maaf jika saya lancang. Donorkan darah saya saja dokter!" ungkap Eri. Hingga di mana Mikha cukup terkejut bukan main, karena Bram saja sang kakak golongan darahnya berbeda dari Hari.
"Donor kan darah saya O dok!" Eri senyum pada Mikha, berusaha untuk ia tetap tenang.
"Baiklah, ayo ikut dan tanda tangan prosedur, ada operasi jahitan yang harus dilakukan segera mungkin, jika tidak salah satu dari nya akan gagal diselamatkan."
"Eri, tapi Bram saja, belum sampai?"
"Bu Mikha, ini darurat. Kita harus bisa menyelamatkan pak Hari yang sedang urgent, tidak bisa di tunda. Agar bisa menciduk semua masalah ibu terselesaikan! maka yang utama adalah menyelamatkan, saya sudah memberitahu Ryo yang sedang menjemput tuan Bram. "
Mikha terdiam, kala itu ia melihat kembali seseorang yang membuat ia malas, dimana itu adalah nomor telepon yang membuat Mikha sangat asing, dan mencoba memperlihatkan pada Eri.
[ Pesan System, lakukanlah pendingin es sebesar 50 kg, baringkan Hari Hartanto ke dalamnya setelah operasi, dan donor selesai. Bawa ke markas! dalam peti kulkas, menunggu tuan Hari Hartanto akan terdeksi pulih, kembali siuman dan sehat dengan tangan yang sempurna. ] pesan system memverifikasi, ahli waris untuk penyembuhan tuan kami.
10 ..
20 ..
60 ..
Bleup!
Ponsel layar pesan itu mati, hal itu membuat Mikha terdiam menatap Eri, karena ia sempat juga membacanya.
"Eri, ini apa lagi?"
"Baiklah, saya akan segera proses menyiapkannya bu Mikha. Tetaplah berdoa agar semua berjalan dengan lancar." ujar Eri, pamit menuju ke ruang donor darah.
Tbc.
__ADS_1