Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 SIREN HAMIL


__ADS_3

"Tidak perlu bicara lagi Hubby, karena semuanya pasti kamu tahu."


Damar merasa bersimpati, dimana ia telah banyak melukai hati istrinya. Apalagi ia akan terbang ke swiss, untuk program perusahaan dengan sistem tercanggih, maka dari itu Damar ingin kesalahpahaman dengan istrinya cepat beres.


Damar menunggu Siren, dimana istrinya menutup mata, ia sadar beberapa waktu Sena datang, di saat ia tengah di bathup.


Ingatan Damar Beberapa Jam Lalu.


"Sayang..." teriak manja namun kala itu, syok Damar ketika yang masuk bukan istrinya.


"Hey apa yang kamu lakukan disini Sena, keluar sekarang!" teriak naik satu oktaf.


Damar begitu murka melihat Sena tiba tiba datang. Damar segera menjauh dan segera mengambil handuk piyama menutupi sebagian telanjangnya, bagusnya kala itu ia masih memakai boxer. Benar benar membuat harga diri wanita tak ada bukan?!


"Damar, bukankah kita juga akan menikah, kamu harus adil padaku. Aku datang untukmu, anak ini merindukanmu!" lirihnya.


Sena datang, menggoda dan memegang perutnya tanpa malu, benar benar wanita rendahan yang ingin bahagia di atas penderitaan wanita lain.


"Oh Siet, aku tidak akan pernah menyentuhmu Sena, jika kamu menginginkan pernikahan. Semua itu karena kesalahan fatal. Pastikan pernikahan yang kamu inginkan menjadi neraka bagimu, aku merasa ini permainan kebohongan belaka kau."


Damar pun mengabaikan dan mencari istrinya, di setiap sudut ruangan, bahkan Damar tak menemukan istrinya di sudut ruangan, mengusir Sena benar benar tidak tahu diri sebagai wanita.


Damar pun terpaksa menarik lengan Sena, untuk keluar dari apartement. Hingga berlalu ia bersiap ganti baju dan membawa ponselnya.


Terkejut saat Siren pergi tak membawa ponsel, tas dan apapun masih lengkap.


Damar menelepon security untuk mengusir, dan tak meminta wajah wanita bernama Sena di usir jika datang ke wilayah apartement nya. Bahkan poster zoom untuk wajah Sena di seluruh sudut, agar mudah di ingat.


"Pergi, sedikitpun aku tidak akan menyentuh dirimu, meski aku akan bertanggung jawab. Jangan pernah datang kembali." ucapan Damar yang murka, membuat hati Sena dendam pada Siren.


"Damar, kamu keterlaluan padaku."


Sena pergi dengan kesal.


"Lihat saja nanti kamu Damar, aku akan membalas perlakuan mu dan Dady mu terhadap kasar kalian, padaku."


Sena pergi dengan amarah dan memutar cara, untuk mencari hal yang tepat mencelakai Siren.


***


Disatu sudut rumah sakit.

__ADS_1


Siren berterimakasih, pada Mikha yang tepat datang. Sesaat Damar keluar mengurus administrasi, hingga kedatangan Ihsan dan Mikha penasaran apa yang terjadi pada Siren.


"Ceritakan, apa yang terjadi padamu!" ucap Ihsan.


Ihsan sendiri adalah partner perfilman Mikha, masih sepupu an Mikha, yang jelas jika dengan Siren masih saudara ipar.


Helaan nafas, Siren pun terdiam, dan ia menceritakan semua yang terjadi. Bahkan Mikha gemas kesal mendengarnya.


"Lalu Siren, apa rencana mu?" tanya Mikha.


"Aku, butuh rekaman cctv asli dan pastikan jika video itu memang benar benar palsu. Tapi jika itu asli, aku harus pastikan, jika data video itu terhapus di ponsel Sena. Rencana jahatnya yang tidak dapat suamiku, ia ingin menghancurkan perusahaan terbesar Dady Bram, ini juga menyangkut kekayaan suami mu juga bukan?"


"Astaga, liciknya wanita yang haus dan obsesi pada pria bersaldo unlimited."


"Aku prihatin padamu sayang." memeluk sahabatnya itu.


"Mikha, bisakah tinggalkan aku berdua! ada hal yang ingin aku bicarakan pada Siren." ujar Ihsan.


Mikha pun mengangguk, dan pamit karena ada project meeting dadakan. Membiarkan Ihsan dan Siren berbicara.


Tatapan, saling hening dan diam. Siren merasa tidak nyaman, Ihsan sudah menjadi saudara iparnya, meski dahulu. Ah, pikiran ku kali ini bercabang. Apalagi ketika Ihsan membopongku dan tatapan mata itu. Siren pun, hanya tertunduk ketika Ihsan berbicara mematahkan pertanyaan pertanyaan yang bukan mendukungnya, terlebih di rumah sakit meski niatnya ingin membantu masalah Siren.


Ia hanya berdua, setelah banyak bicara, meski sedikit canggung ketika Mikha pergi. Dua jam berlalu Siren hanya terdiam. Ketika Damar sudah datang, Siren menatap suaminya, bahkan Damar menatap Ihsan, begitupun sebaliknya.


"Sayang, aku sudah tahu dari Mikha. Maafkan suami yang bodoh ini karena aku .."


Melihat pemandangan buruk Ihsan pun pamit. Damar pun mengucap terimakasih telah membawa cepat istrinya.


Diluar dugaan, dari bilik pintu Siren hanya bisa memandang Damar sedang berbicara serius, rasa penasaran Siren ingin sekali menghampiri. Namun lemas sakitnya kali ini, membuatnya tetap berada di ranjang rumah sakit.


'Damar dan Ihsan bicara apa sih?' lemas sekali, andai aku bisa menguping deru batin Siren.


Sekembalinya Damar menjaga Siren, di ruangan vvip.


"Sayang, istirahatlah!"


Damar menggenggam lengan istrinya. Terus meminta maaf.


"Maafkan aku sudah, amat sudah tidak peka. Dan mengapa kamu rahasiakan berita baik ini."


Damar memeluk Siren dengan mata yang merah, dan tak terasa berlinang kebahagiaan.

__ADS_1


"Hubby, apa maksudmu. Apa yang Ihsan katakan padamu, aku tidak mengerti."


Lima belas menit, Damar masih berlalu dengan memeluk dan berlinang, bagai air keran yang bocor. Ia terus saja menciumi istrinya, dengan penuh penyesalan. Bagus ia sudah tahu detik ini, sebelum ia berangkat ke swiss memulihkan sistem magic perusahaan.


"Sayang, jangan sembunyikan kehamilan mu. Maafkan aku seharusnya aku mengantarmu, dan jangan kamu sembunyikan lagi, vitamin ibu hamil kamu tukar dengan botol supplement imun nafsu makan."


Siren, tertegun ia meminta maaf pada suaminya.


"Hubby, bagaimanapun kehamilan Sena sudah amat besar, jadi aku pikir Dady Bram dan dirimu akan lebih bahagia."


"Bagaimana kamu bisa berfikir semacam itu Sayang?"


Nada Damar tinggi, sehingga membuat Siren menunduk. Damar pun menahan emosinya dan kembali memeluk erat istrinya.


"Maafkan aku, aku takut kamu pergi! aku akan batalkan pernikahan dengan Sena, jika bayi itu benar benar anak ku, kita akan pikirkan bagaimana cara bertanggung jawab padanya. Jangan memaksa ku lagi sayang, aku tak ingin semakin menyakiti batin mu."


Siren diam dan berlinang. Ia sudah tidak tahu harus apa, pikiran sudah membuntu dan tak bisa membujuk suaminya, bibir seolah terkunci akan perkataannya.


Damar, terdiam mengecup berkali kali tangan istrinya.


"Sudah jangan kamu pikirkan, lebih baik kamu makan dan beristirahat. Aku tidak akan meninggalkanmu sedetikpun, semua ini bukan karena Ihsan."


Membuat Siren mengangguk.


Tak lama, pesanan makanan online tiba, Damar menyuruh asistennya membawanya ke ruang kamar vvip, di mana istrinya dirawat, Siren tersenyum melihat pemandangan kebahagiaan senyuman. Meski masih bertanya tanya apa semua ini karena Mikha dan Ihsan yang menceritakan semuanya.


Lama Damar, menyuapi semangkok bubur merah dengan daging, sayuran kacang polong, segelas jus kacang hijau dan vitamin serta memotong buah. Damar pun menatanya dengan rapih.


"Sayang, aku akan keluar sebentar istirahatlah!"


Damar mengecup kening istrinya, dan pergi berlalu sehingga tak terlihat.


Dalam langkah Damar kesal dan berat meninggalkan istrinya. Ketika sudah memasuki mobil, meminta supir, ke alamat Darwin.


Siren bingung, ia memutar mata kepergian suaminya membuat tanda tanya, terlebih sudah ada dua bodyguard standbay didepan ruangan kamar inap nya di rawat. Irt pun mendekat, menggantikan Damar menunggu majikannya.


"Bi, apa bibi kenal tadi Damar bilang ingin bertemu Darwin, siapa dia?"


"Aduh, non Siren, bibi tidak tahu tentang itu."


"Oh. Baiklah, makasih ya bi."

__ADS_1


Namun pikiran Siren bercabang, penuh tanya, kenapa suaminya pergi dengan beberapa pengawal, dan dirinya juga dijaga ketat sekali.


TBC


__ADS_2