
Bram, ia langsung duduk. Sesaat gadis kharisma itu pindah. Senyum, lalu duduk mengenalkan diri dengan menyodorkan tangannya.
"Saya Louren."
"Ah, ya saya hampir tidak tahu dan telat. Saya minta maaf, telah membuat anda menunggu terlalu lama! Dan nama saya Bram."
"Tak apa, saya mengerti!" ucapnya, sehingga satu gadis satu lagi terlihat menoel tangan kakaknya.
"Dan ini adikku. Namanya Kyle, kami datang sesaat kemari. Ingin bertemu bagaimana pemilik pohon emas yang katanya bisa meraup triple keuntungan. Bisakah saya menjadi salah satu klien yang ikut andil."
"Andil, ...?"
"Saya ada uang 12 Triliun, jika bisa bekerja sama dan dibantu memutarnya. Apa boleh ..?"
Mendengar penjelasan gadis itu, Bram lalu memberikan sebuah map coklat besar. Lalu setelahnya ia segera meraih ponsel tablet untuk menjabarkan.
"Bisa saya jelaskan?" senyum tatapan Bram, membuat dua gadis itu melesot tak berkedip.
Bram pun meminta gadis itu menyediakan tanah yang subur, jauh dari perkotaan asap. Jaraknya seribu seratus empat meter dari penduduk warga. Sehingga tatapan gadis itu begitu merumitkan.
"Begini, bagaimana jika saya hanya menyerahkan uangnya saja. Ini check di awal."
"Maaf, itu adalah persyaratan poin kedua sampai kelima ada di buku tertulis ini. Begitulah jika ingin kerja sama, bibit akan di kirim dan salah satu orang kami yang mengelola bagaimana tanaman itu berkembang. Raup keuntungannya tetap sama 60 : 40." jelas Bram, saat itu juga segera pamit.
Dua tatapan gadis itu saling diam tak berkata, bisa bisanya bos pengusaha muda tidak terpana akan salah satu kecantikan dari mereka. Padahal jelas, Louren tau dari sang ayah. Jika pengusaha yang sedang naik daun ini adalah pria yang akan berpengaruh di kemudian hari. Bahkan tampilan yang seperti tadi saja sudah tampan, sungguh disesali jika dari mereka diacuhkan.
'Kita pulang kak! Jangan lagi mencari jodoh dengan abal abal ala menanam saham. Wajah kakak memang terlihat usia 30 tahunan, tapi tetap saja usia diktp kakak. 49 tahun kurang sepuluh hari." senyum Kelly seolah meledek.
***
Sementara Bram, ia langsung menghubungi Elea. Sudah beberapa kali ia gagal bertemu dalam beberapa pekan ini. Apakah penelitian dulu yang sempat ia terjebak sudah ada informasi, apalagi saat ini mereka ingin merekrut kandidat untuk sebuah perusahaannya. Ah! Rasanya tak sabar bagi Bram, ia ingin sekali semuanya selesai dan bisa cepat menikahi kekasihnya itu.
Tlith!
[ Pt Gold Silver Artam, akan bangkrut. Ambilah tanah sebidang luas di depan pt tersebut, buatlah kantor besar dari pt itu, rekrutlah karyawan tiga ratus orang! Usahakan semua fasilitas memadai dan lengkap, ada tempat ibadah dari berbagai agama, kantin dan cafe sebagai daya tarik! Usahakan, kantor itu jauh dari kebun timun emas! ] pesan System.
__ADS_1
Huuft! Bram, menyemangati dirinya. Ia segera menghubungi Hari, sudah sampai mana ia mengelola kerja deliverynya dibantu Kristal. Bagaimanapun ia akan merekrut Hari, sebagai tangan kanannya. Setelah semuanya adiknya pahami, dan bisa ia lepas untuk bertanggung jawab salah satu perusahaannya.
Bram, menyetir. Hingga setelah di rasa itu Elea. Ya benar, Elea telah sampai dan masuk ke dalam mobilnya. Mereka berjalan dan bersapa selama empat puluh menit menuju lokasi yang akan mereka lalui saat ini.
"Itu dia, kita sudah sampai." Elea senyum, menunjukan tatapannya pada kekasihnya itu.
"Kamu mau beli rumah ini?"
"Ini kantor, my lovely." goda Elea menatap manja, memegang salah satu tangan Bram, yang membuat Bram salting jika di pegang Elea yang refleks.
Ya, saat itu bram mengekor Elea. Ia melupakan tatapan banyak orang, yang terlihat mereka adalah karyawan kantor tersebut.
Mendengar ucapan Bram ini, Elea tertegun sejenak, lalu tertawa tebahak-bahak sampai tubuhnya gemetar.
Semua pegawai di dalam kantor juga ikut tertawa seolah mereka baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia.
"Bos Bram aku tidak apa-apa. Paling-paling, aku menunjukan tempat lain. Ayo, kita cepat pergi dari sini!"
Elea membelanya seperti ini saja, Bram sudah sangat tersentuh. Namun, dia tahu jelas, mana mungkin Elea punya uang untuk membeli kantor seharga 51 miliar rupiah ini? Jadi baginya, ucapan Elea saat ini mungkin hanyalah menunjukan kelucuan, yang ia kira ini terlihat rumah.
"Sudah selesai tertawa?"
Elea berhenti tertawa. Dia menatap sekilas Bram dari atas sampai bawah, lalu berkata,
"Kamu mau beli kantor ini, 'kan? Harga kantor ini sudah harga promo. Jadi, tidak menerima pembayaran cicilan, hanya menerima pembayaran penuh. Uang mukanya 2 Miliar, dan harus di lunasi dalam waktu satu minggu. Kalau kamu mau beli, langsung aku akan membantunya."
"Uang mukanya 2 Miliar?"
Bram, tertegun sejenak mendengarnya.
"Kenapa? Tidak cukup bayar, ya?" tanya Elea sambil tersenyum manis, ia menunjukan saldo tabungannya hanya 200 juta untuk membantu Bram.
"Tidak perlu uang muka segala. Aku langsung bayar lunas 51 miliarnya."
Bram, menjawab dengan tenang.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bram ini, untuk sepersekian detik, kebingungan terlintas dalam sorot mata Elea. Karena samar-samar, dia merasakan bahwa Bram sepertinya sedang tidak bercanda.
"El, tunggu aku belum beli kantor ini, kenapa sudah mau pergi?"
Bram, bertanya dengan tenang. Lalu, dia menoleh ke arah Elea dan berkata,
"Kenapa kamu masih bengong di sini? Siapkan surat perjanjian jual belinya." cercah Bram.
"Memangnya kamu tidak baca pesan ku untuk membeli kantor ini?"
Elea bertanya pada Bram dengan nada penuh kebingungan.
Bram pun melihat, ia melupakan lagi lagi pesan dari Elea. Sakin sibuknya ia mengurus segala hal, kekasihnya itu peka dan tepat di saat ia membutuhkan mencari lokasi kantor. Lalu Bram menatap Elea dan memegang pipinya.
"Kamu sangat genius, El."
"Aku mendengar dari Kristal, tapi maaf. Aku tidak ingin membebani kamu membeli rumah untuk kita. Tapi, aku ingin kita sama sama berjuang dan berkomitmen Bram. Dimanapun kamu berada, jaga selalu hati dan dirimu hanya untukku. Lagi pula kantor ini tidak banyak perlu perbaikan, cukup jauh dari tanaman yang kamu geluti. Tanaman rahasia menjadi jutawan." bisik Elea.
Dan bisikan Elea saat itu, membuat Bram menyambar menengok ke arah Elea. Elea terkejut merona pipinya, saat hidung mancung Bram menyentuh pipinya.
"Bram.. Ini umum."
"Jangan lagi berbisik seperti tadi, Elea aku pria normal saat kamu bisikan, jenjang leher dan bulu kudukku tak tahan."
"Ooooh ..." goda Elea, ia berlari menuju mobil, sakin malu.
"Maafkan aku El! Jika aku hari ini harus lepas kendali." mengejar Elea, dan membuat dalam mobil tertawa geli, bagai pasangan yang sedang bercanda.
Dan saat Bram beradu menatap wajah Elea, di atas setengah derajat mereka memiringkan wajahnya.
Trdeeeth!! Getar ponsel dering pesan Elea.
Tlith! Tliith! Dering ponsel Bram, nada ponsel itu bersamaan berbunyi.
"Bram, ada pesan dari mama." gugup Elea, dan Bram pun meraih ponselnya sambil tersenyum miring.
__ADS_1
"El, bilang pada mamamu. Minggu depan, aku akan datang bersama keluargaku!" bisik Bram, membuat degup jantung Elea semakin cepat, menelan saliva.
Tbc.