Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
DI BUTIK HILANG


__ADS_3

Di saat Bram sampai rumah, terlihat Elea datang! sehingga membuat Bram senyum bahagia.


"Kamu sepagi ini ...?"


"Iya.. surprise ... Bram, aku dapat telepon dari Pamer. Aku bahagia dan saat ini langsung menemui mu." bisik Elea, membuat telinga Bram geli.


"Pamer .. apa itu?"


"Papa mertua, mereka akan tiba tiga hari lagi. Coba kamu lihat pesan! papa meminta kita ke Butik, untuk gaun pernikahan." senyum malu Elea.


"Papaku menelpon mu. Wah! sangat keterlaluan, bahkan ia tidak hubungi anaknya sudah lama. Tidak angkat telepon aku, tapi dia meneleponmu Elea. No Good! aku bukan anaknya, sehingga kamu di nomor satukan." cercah Bram sedikit galau.


Elea tertawa kala Bram merajuk, ia segera video call, tersambung pada nomor luar negri yakni pak Hartanto. Bram pun ikut menyaksikan kala itu, saat kekasihnya sedang menghubungi papanya.


Cukup Alot, ketika mereka menghubungi Hartanto. Sehingga dalam lima belas menit, akhirnya tampilan suatu face to face di ponsel dari beda Negera, terjadi. Percakapan mereka amat bahagia, Bram yang ikut bahagia kala sang papa memaafkan istri keduanya, dan Hari yang antusias bertemu kekasihnya di Jepang, meminta bantuan Bram jika Bram menikah nanti, maka ia ingin menyusul juga.


Sehingga beberapa jam mereka selesai, Bram pun bersiap mandi kala Elea menunggunya di ruang tamu. Elea ke dapur menyiapkan sarapan! ia begitu berharap planing pernikahan mereka berjalan dengan lancar, Bram dan Elea selalu disatukan dengan kebahagiaan dan kemakmuran tidak terbatas.


"Bram ayolah! Sarapan dulu, aku udah buat spahageti keju, kesukaan mu. Dan susu hangat." manja Elea memanggil.


Bram menurut, sehingga saat Elea melihat Bram yang sarapan dengan rambut basah, ia menutup mata karena malu.


"Kenapa ... ?"


"Bram, tidak kah kamu mengering kan rambutmu sebelum kemeja makan, memakai kaos. A- aku ..." gugup Elea.


Bram yang suka melihat wajah Elea malu, apalagi ia hanya mengenakan handuk dan langsung menuju meja makan, mencicipi sarapan yang Elea buat. Rambut basah, memang apa salahnya. Sehingga Bram meledek Elea, kala ia merapatkan duduk dan menatap Elea dalam.


"Kamu mau apa ..?" Bram melilitkan tangannya ke pinggang Elea.


"Hanya sarapan .. Apakah kita bisa ...?"


"Bram ayolah! lekas sarapan, dan jangan kotor." ujar Elea yang berdiri dengan gemetar malu.


"Hahaha, memang siapa yang mau kotor setelah mandi, aku kan belum selesai bicara. Kita mau ke butik sekarang kan?!" senyum jahat Bram.


"Jadi .. Aaaach! Bram, kamu selalu goda aku. Baiklah ayo kita lanjutkan sarapan, lalu kita ..."


Cccuuuup! Kilat Bram, yang menyentuh bibir tipis Elea, lalu ia kabur menuju kamar dengan tanpa berdosa.


Braaam ... teriak Elea, menyentuh bibirnya.

__ADS_1


"Sepuluh menit, aku akan bersiap El." balas Bram, lalu menutup pintu kamar.


***


Beberapa jam kemudian, Elea yang akan di fitting gaun. Ia juga melihat aksi Bram yang akan mencoba sebuah jas, di berbeda tempat.


"Aku di sebelah ya El."


"Heuuumph! Jangan lama lama ya, aku menunggu kamu disini." Elea dengan senyumannya.


Bram menuju ke toilet dulu, sehingga saat Bram sampai toilet ia mendapati Olive berada di sana.


Utusan Langit ...?! Tanpa bla.. blaa .. Olive segera meraih tangan Bram! Lalu ia telah berada disuatu di tempat.


"Hei, Tuan! Tunggu!" Bram, berteriak, niat hati ingin mengejar. Namun, langkahnya tak pernah sebanding dengan kemampuan pria itu.


Bram mengacak-acak rambutnya kasar. Dia ingin sekali menghancurkan benda besar di dekatnya, tetapi tidak ada satupun benda yang dapat dijadikan sebagai pelampiasan kemarahannya. Bagaimana tidak ia kini berpindah di sebuah markas mengerikan.


Dirinya mengatur pernapasan sebagai langkah awal mengendalikan emosi yang tengah naik-naik ya itu.


"Tuan Olive, awas! Setelah semua ini selesai, maka aku akan membuat perhitungan dengan dirimu!" Dia mengerang, menggerakkan gigi-giginya sambil terus ngedumel.


Setelah meluapkan segala kekesalan yang ada, Bram langsung memutar otak, mencari cara untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada nantinya.


"Siapa kamu?" tanya salah satu pria sambil menodongkan Kampak pada Bram.


"Sa-ya ..." Dirinya tergagap-gagap, seraya membaca sampai di mana kemampuan yang dimiliki para lawannya itu.


"Katakan, siapa kamu?" gertak pria itu kembali sambil terus menodongkan Kampak pada Bram


"Saya anggota baru di sini," cerocosnya begitu saja. Kalimat itu muncul begitu saja di pikiran Bram.


"Anggota baru?" tanya ulang pria itu kembali.


Bram mengangguk ragu-ragu, "Ya. Saya datang untuk menjadi anggota di sini."


Pria itu memutar bola matanya ke atas dan bawah, lalu bergumam pelan. "Baiklah. Bawa dia ke dalam!" perintahnya kemudian.


Seketika empat pria lainnya langsung memegangi kedua tangan Bram. "Kalian ingin membawa ku kemana?" tanyanya sedikit meninggikan suara.


"Kau diam saja. Kami akan membawamu menemui Ketua!" tegas pria itu kembali.

__ADS_1


Bram diam, "Ketua?" batinnya yang langsung ingat ucapan terakhirnya Olive sebelum benar-benar pergi.


Bram termangu, Isi kepalanya mulai melalang buana memikirkan segala kemungkinan yang ada di depan sana.


"Cepat, tutup matanya!" perintah pria itu kembali.


Bram celingak-celinguk lantaran belum bisa menelaah ini semua dengan sempurna. Namun, daya pikirnya hari ini agak lama menangkap segala situasinya.


Salah satu pria itu memasangkan kain hitam di mata Bram sehingga pemuda dua puluh delapan tahun itu sulit melihat.


"Hei, kalian! Apa yang kalian lakukan padaku?! Kenapa mataku harus ditutup?" Dia memberontak, berteriak. Namun, tidak ada satu pun yang menggubrisnya.


Dalam keadaan seperti ini, dirinya merindukan kehadiran Olive, si utusan langit yang kadang menampilkan kekuatannya. Bahkan sengatan tangan listrik Bram saja, saat di hadapkan kritis tidak muncul.


"Kami akan membawamu menemui ketua!" perintah si pria yang sepertinya ketua dalam kelompok tersebut.


"Baik!" jawab serentak keempat pria berkepala plontos itu.


Ya, kelima pria tersebut tidak memiliki rambut, alias plontos. Wajah mereka juga begitu bengis dan tato yang menghias di sekujur tangan.


Keempatnya segera menarik-narik Bram, Pemuda itu tidak bisa memberontak, dia pasrah karena tidak dapat melihat jalan. Selama itu juga, isi kepala Bram terus merancang rencana yang akan dirinya ambil nanti.


Ayo, jalan!" seru pria yang memegangi tangan kanan Bram.


Pemuda itu menoleh ke kanan karena matanya yang tertutup, dirinya tidak bisa melihat pria itu. Namun, dalam hatinya dia mengumpat kesal.


Bram pun mengikuti arahan dari para pria itu, meskipun harus tertatih-tatih lantaran matanya tertutup kain.


"Hei, kalian! Sebenarnya kalian ingin membawaku kemana?"


"Diam dan ikuti saja!" teriak pria yang mengekor di belakang. Hanya ia yang berjalan sendiri tanpa memegangi pemuda itu.


Bram diam. Indra penciumannya seketika bereaksi saat aroma busuk menyeruak seisi ruangan. Hidungnya yang sensitif seketika mendorong lambungnya untuk memuntahkan isi perutnya kembali.


"Ayo, cepat bawa dia masuk!" perintah pria itu.


Keempat pria lainnya mendorong Bram untuk masuk ke ruangan yang di dalamnya sudah ada beberapa pria lainnya yang juga berkepala plontos, tato sepasang kapak di lengan kanan dan pelipis mata.


'Bahkan, saat aku berada di butik. Mereka semua menggagalkan acara dua keluarga!tidak bisa dibiarkan, aku harus mengalahkan mereka dan tidak ada lagi penjahat tinggi beda level.' batin Bram! ia juga meyakini jika anggota berseragam ikut andil dalam kejahatan ini.


Bram tak habis pikir, si Olive menariknya kemari, di saat ia meninggalkan Elea di butik.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2