Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MIKHA TERANCAM


__ADS_3

Mikha kini berada dalam taksi. Matanya membulat sempurna kesal, karena dirinya harus bertemu Lena. Wanita yang ia harus hindari, dari berbagai banyaknya kepenatan. Yang Mikha sadari, jika menjauh dari masa lalu suaminya, adalah hal yang tepat.


"Mungkin aku harusnya tak bertemu, agar Lena tahu. Jika aku tidak mengejar masa lalunya, padahal aku sudah hampir menyerah terkait kabar tidak sedap mantannya ingin kembali, terlebih kami jarang sekali bertemu terkait super sibuknya mas Hari. Meski dalam batinku, aku masih selalu mengingat dan masih menempel rasa sayang itu, di sini. Tapi kesabaran ku membuahkan hasil, yang membuat aku takut kehilangan mas Hari." benak Mikha.


[ Mikha, gue otw rumah sakit ya! ] pesan Osin menyertai link denah lokasi.


'Osin kok ke alamat ini ya. Apa memang mama Inggrid perhari ini udah di pindahin? Kenapa mas Hari ga bilang, kalau mas Hari bilang dan jenguk dan bawa mamanya berobat pindah, tapi bukannya mas Hari meeting ya." batin Mikha penuh tanya.


Karena setelah akhir perdebatan, mas Hari bicara kalau ia akan merawat ibunya di rumah sakit yang ia tuju agar lebih baik, dan mungkin agar ada perkembangan. Hari belum sempat mengurus karena ia sedang hadir rapat penting.


Mikha pun mencoba menghubungi suaminya dan setelahnya Osin. Tapi tak juga di angkat olehnya. Alhasil, sesuai pesan ia meminta supir ke lokasi yang di tunjukan. Sedikit bingung, kenapa Osin ganti nomor lagi.


Alhasil Mikha menuju rumah sakit, tanpa memperhatikan apakah itu benar, itu pesan dari Osin. Sehingga seiringnya berjalan, Mikha tetap mengikuti langkah sinar mobil yang melintas berlawanan. Ia menatap dan mencoba menghafal jalan, agar kelak ia tak tersesat.


Namun setelah beberapa saat, Mikha tak sadar, jika supir taksi telah memberitahunya. Jika telah sampai tujuan.


"Ini ya pak. Kita sudah sampai?"


"Ya, benar bu. Ini tempat lokasi rumah sakitnya tapi jika ibu penasaran. Tanya security aja. Yang saya tahu, rumah sakit ini mempunyai blok dua. Di depan, di balik rumah sakit ini masih satu manajemen, tapi setahu saya sudah lama tidak beroperasi. Ibu yakin ke rumah sakit ini?"


"Baiklah. Terimakasih ya pak. Sebab pesannya seperti itu, gak apa apa bapak bisa tinggalkan saya." senyum Mikha.


Mikha turun dari taksi, setelah mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Hingga di mana, ia membawa dua paperbag dan berjalan. Tetapi Mikha menatap jam, waktu yang hampir sore dan akan menjelang magrib. Ia harus cepat kembali pulang. Karena mas Hari, pasti akan ada di rumah sebelum pukul sembilan.


Tak lama, dering ponsel Mikha berbunyi. Itu adalah, pesan dari nama yang terpampang di layar ponselnya.

__ADS_1


"Mas Hari. Apa? Jadi mas Hari akan lambat pulang. Memang acara ceremony dalam klien bisa dadakan. Atau memang mas Hari juga baru tahu, lalu aku kemari tidak ada mas Hari. Ah, sudahlah. Nanti saja setelah aku sampai, aku akan bertanya pada Mas Hari, hubungi dia lagi, sebab soal rumah sakit mama Inggrid aku temui." benak Mikha.


HINGGA TAK TERASA.


Mikha pun menuju rumah sakit tua, di mana memang bangunan masih sangat alami zaman dahulu. Hanya dengan beberapa kali cat berwarna cream dan agak kusam, tak seperti rumah sakit biasanya.


Tak lama, setelah Mikha berhasil menanyakan data tersebut. Mikha cukup kesal, karena ia tak menemui rumah sakit yang ia cari dengan nama pasien Inggrid Hartanto.


"Mohon maaf bu. Tidak ada nama pasien itu, lagi pula, ini rumah sakit untuk gangguan mental. Mungkin di belakang rumah sakit kami ada. Karena data kami berbeda, tak bisa mengecek dalam sistem. Apakah ibu salah rumah sakit, bangunan ini dulunya memang untuk pasien umum, tapi sudah pindah. Dan terganti untuk RSJ."


"Apa. Hah, aku ga percaya mas Hari tega. Membawa mamanya ke rumah sakit seperti ini. Dan di belakang itu juga, untuk pasien yang stres berlebih." benak Mikha.


TEGA SEKALI KAMU MAS!!


"Tunggu, atau jangan jangan ada orang yang sengaja memindahkan mama saat ini terancam dan mas Hari tidak tahu. Aku harus hubungi mas Hari saat ini juga."


Lalu Mikha mencoba menghubungi Osin beberapakali. Tapi tak bisa tersambung.


Hingga di mana, ia mencoba kembali menghubungi Osin dan mengirim pesan. Akan tetapi begitu terkejut, Mikha baru sadar jika itu bukan nomor Osin, nomor digit yang salah. Mikha sekali lagi mencoba mengirim pesan tadi yang mengirimnya pesan, terus saja gagal.


"Apa, kok bisa kaya gini sih. Apa aku di hacker. Jangan jangan ini kerjaan Lena." deru Mikha yang amat kesal.


Mikha kembali memesan taksi. Tapi ketika beberapa menit ia mencoba menunggu, seseorang dari belakang membekapnya.


Sret.

__ADS_1


Euuum.


Mikha cukup terkaget, matanya membulat mencoba melirik ke arah siapa yang membekap dan menahan kedua tangannya. Tapi aroma pekat yang masuk ke dalam hidung, membuat nafasnya terhenti.


"Aaa .. Mas Hari, tolong aku!!!" teriak dalam gemuruh batinnya.


Hingga tak sadar, pingsan dan lemas. Seseorang itu yang membekap membawa Mikha masuk kedalam mobil tanpa sadar, Mikha menjatuhkan sebuah ponselnya dan begitu saja pergi.


Beberapa Jam Kemudian.


"Baiklah. Lo semua kerjanya bagus. Nih .. uang bayaran kalian. Inget tutup mulut!" titah Lena yang menutup masker ketika memerintahkan pada dua orang pria bayaran.


"Siap bos!"


Lena masuk ke dalam mobil, ia cukup puas kala mendengar keadaan Mikha, yang mungkin akan hancur sehancurnya. Hingga di mana, ia mencoba datang di acara ceremony mantan suaminya itu, tanpa hambatan ada Mikha disana.


"Hallo, ya honey. Aku sebentar lagi sampai, bagaimana ceremony acaranya lancar?" tanya Lena, pada seseorang.


"Benarkah, apa dia ada disana. Baiklah, aku segera sampai dengan tampilan anggun." senyum Lena seringai.


Ia sungguh sangat senang, kala rencananya berhasil. Meski Hari tak mengetahui, ia mencoba tertawa lebar. Tak sanggup untuk mendengar kabar keadaan Mikha berikutnya.


'Baiklah, tinggal wanita tua itu sekarang, siapa suruh kamu melawan diriku. Setelah memanipulasi data, aku bisa melenyapkan kamu dan Inggrid si mertua ga berguna itu kan?' batin Lena.


Lena melihat orang suruhannya melempar tubuh Mikha ke jurang! Dengan mata yang tertutup dan membungkus setengah badannya dengan karung.

__ADS_1


'Jangan lagi kembali, karena kamu ada. Aku akan lebih mudah, mudah untuk merebut Hari Hartanto, dan menguasai segala perusahaan systemnya.' gelak tawa Lena yang penuh kegirangan.


Tbc.


__ADS_2