Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
CINTA SYSTEM


__ADS_3

Kisah cinta orang kaya tidaklah semudah dibayangkan, atau yang di perlihatkan. Di mana mirip ketika Bram dahulu hidup sulit setelah sang papa Hartanto menikah lagi dengan ibunya bernama Inggrid, Hari tidak pernah membela sang kakak atau sang ibu, ia selalu menengahi dan tidak serakah seperti sang mama dahulu.


Terlihat dari cermin masa lalu Sun System, dimana hidup tidaklah mudah bagi Bram yang menjadi pelayan, sehingga ia menjadi bos besar mempekerjakan ribuan karyawan, baik dari kota, hingga luar eropa perusahaan Sun System yang terdiri dari elektronik, lahan timun emas, dan pt Emas batangan murni yang di dirikan Gold Corp Miror.


Hingga banyak lagi bisnis lain tersebar, kekayaan dan usaha yang mulus, terkadang cintanya lah yang tidak mulus, dimana banyak orang mungkin bisa saja membeli wanita, tapi Hari tidak seperti itu, ia mencontoh sang kakak bernama Bram untuk selalu setia, dan hidup sehat dengan satu istri, bahwa cantik dan tampan di usia tua, ia mempunyai alat khusus sendiri bagi keluarganya, dimana usia mereka yang terpaut 50 an, bisa kembali muda menjadi umur 25 tahun, meski umur mereka tidak bisa di mundurkan. Dan itu hanya berlaku pada garis keturunan Hartanto dan isteri yang setia padanya.


Maka pusat perhatian orang orang ingin berinvestasi dan bekerja sama pada perusahaannya adalah, tidak mudah. Memiliki Sun System, dimana cahaya yang terpantul cermin, bisa merubah kecantikan dan ketampanan lebih awet muda dua puluh tahun sebelumnya.


Beberapa Hari Kemudian.


Hari, yang berada di kediaman barunya, ia meminta Eri datang! Hal itu juga, Mikha bicara pada suaminya, jika ia memanggil Osin karena ada sesuatu masalah di pantry yang ingin dibicarakan karena bagian dapur bermasalah untuk acara resmi 7 bulanan yang di adakan di mansion.


Hingga bersamaan tak disangka, mereka datang dan menunggu Mikha, mereka turun. Osin yang memang menghindar merasa kaget.


'Untuk apa Eri datang?"


Osin menarik nafas. Lalu membuang wajah dan mengambil sebuah majalah berpura pura sibuk membaca, pasalnya benci jadi cinta membuat Osin kesal bertemu asisten sang bos.


Eri yang melirik tapi seolah acuh, ia hanya bersikap biasa saja. Ingin tertawa karena majalah itu terbalik. Tak lama, bu Mikha telah datang dengan pakaian rapih seperti habis mandi.


"Osin, akhirnya jadi datang juga, sungguh waktu yang sangat tepat!" senyum Mikha, pasalnya Eri asisten bos, yang jarang ia temukan jika istri bos berpakaian sederhana dan terlihat habis mandi, jelas mereka menemui di mansion bukan di kantor.


Mikha melihat perhatian Eri terpusat ke arah Osin dan melonggarkan kewaspadaannya. Dia pun menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri dari cengkraman Eri.


Siapa sangka, tampaknya Eri juga memiliki mata di samping wajahnya. Dia menahan Osin dengan pandangannya yang penuh arti.


Mikha mengerti apa yang harus dilakukan dan berkata, "Ternyata kalian ada di sini. Kalau begitu, aku pergi dulu memanggil mas Hari ya."


"Tunggu Sebentar, bu!"


Osin memanggil Mikha. Berusaha menghindar jika sedang berdua saja dengan Eri di ruang tunggu.


"Mikha, gue numpang toilet ya." bisiknya dan Mikha mempersilahkan.


Eri melirik sinis ke arah Osin dan bergumam, "Permainan wanita penuh intrik."


Eri memandang bayangan Osin dengan perasaan tertarik. Apakah wanita ini berpikir kalau dia sangat buruk dan mengancamnya?


Hari yang dari arah samping datang, bahkan ia tersenyum tersipu dan berbisik pada istrinya.


"Wah, jarang sekali Eri bisa tertarik dengan seorang wanita. Tampaknya Osin itu lumayan, kenapa tidak kamu jodohkan saja sayang?"

__ADS_1


"Mas, Osin tidak mudah." jelasnya.


"Lalu, bagaimana agar mereka cocok?" kepo Hari.


"Mas, mari ikut aku. Biarkan kita menunggu mereka setengah jam lagi. Kita akan lihat dari cctv, apakah mereka akan cocok. Aku rasa, jika Eri menyukai. Ia akan menghampiri bukan?"


Mendengar hal itu, Hari menurut pada istrinya. Sementara Eri, ia menunggu telah dari lima belas menit, tidak tahan ia pun ikut mencari toilet tak jauh dari keberadaan Osin. Karena toilet khusus tamu memang berada di sana. Hingga di mana, Osin yang baru keluar dari pintu kamar mandi, terkejut di lorong mendapati Eri yang berjalan ke arahnya.


Satu langkah, dua langkah hingga tepat delapan langkah mereka berdiri pandangan.


"Apa yang lo inginkan dari gue Eri, hah lo menguntit?"


"Menguntit .. mustahil,"


Eri memandang wajah mungil Osin. Dia merasakan kekesalan di dalam hatinya. Osin rela melakukan apapun demi Ryo, jelas jelas ia telah membuat sinyal untuk berkomitmen?


"Bicara sekali lagi, jika aku bukan pria itu, maka aku akan mengembalikanmu padanya. Tak akan mengganggu."


"Apa .., dasar atasan sinting. Dia pikir gue apa?" lirih Osin acuh.


Osin berusaha melewati tubuh Eri, namun pria itu menyangga tangan hingga membentur halus tubuh Osin ke arah tembok, dengan berputar seolah sedang menarik.


"Ah. Lepasin gak!" sinis Osin menatap.


Eri mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum jahat, "Jangan berpura pura, jujurlah!"


"What .. halu."


Osin merasa sangat marah. Dia tidak memperdulikan semuanya dan bersiap untuk pergi. Tapi, Eri berkata dengan suara dingin.


"Kamu yakin sudah tidak mau penjelasan lusa lalu?"


Osin mengepalkan tangannya dan berhenti di tempat. Hatinya terasa sangat marah dan serba salah. Osin menolehkan kepalanya dan berkata.


"Eri, kamu sudah keterlaluan."


"Ok! Aku akan lakukan seperti yang kamu inginkan."


Osin melangkah maju satu langkah dengan cepat, Hingga menempel dan kemudian menarik dasi Eri. Melabuhkan suatu tamparan untuk Eri.


Anak kucing yang marah ini menggigit bibir Eri. Dia menggigit dan menggerogoti seperti sedang melampiaskan amarahnya.

__ADS_1


Eri tertegun sejenak. Dia tampak terkejut dengan tindakan Osin. Tapi, dia tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali fokus. Eri merangkul pinggang Osin mendekapnya, dan menempel kilat ranum dengan erat.


Mereka seperti sedang bertarung. Eri dan Osin saling menyerang satu sama lain. Tapi, dia segera menunduknya.


Paru parunya kekurangan oksigen. Dia perlahan menyandarkan diri di tembok dengan lemas. Osin sudah kehilangan tenaga untuk memberontak.


Maka Eri pun menggoda Osin dengan perlahan dan agresif. Dia menyentuh pipi, tetapi malah menemukan bahwa Osin sedang meneteskan air mata tak sengaja jatuh.


"Hey, kenapa menangis. Apa aku berlebihan menyentuhmu?" tanya Eri sok lugu.


Jangan lagi berlaga bodoh Eri! Aku membencimu. Kita tak pernah saling mengenal, ini terakhir kita bertemu!!! teriak Osin dan menjatuhkan tubuh Eri namun tertahan.


Eri begitu pias, ia merapihkan dasi dan berlalu bingung. Ingin mengekor Osin tapi ia sedikit ingin ke toilet. Menarik nafas, mencoba membuyarkan apa yang Osin katakan tak pernah terjadi. Eri lupa, jika ada cctv tak terlihat di sebuah mansion yang memperlihatkan aksi mereka berdua di halaman toilet tamu belakang, yang kini sedang di perhatikan sang atasan.


***


BERBEDA HAL DENGAN MIKHA.


"Mas, kamu masih kepo menatap layar cctv itu? Apa kamu seorang petinggi yang sibuk mencari jodoh untuk bawahannya?" tanya Mikha yang bersandar.


"Sayang, menurutmu apa mereka jatuh cinta atau mereka cinta bertolak sebelah?"


Mikha memijit kening, ia tak habis pikir. Apa sebenarnya kecelakaan itu membuat otak suaminya tergeser. Entah angin apa, Hari berusaha sekali menjodohkan Eri dan Osin, atau mas Hari merasa kasihan pada asistennya yang sudah 36 tahun masih melajang, sehingga memikirkan agar pria itu tidak berubah jadi odol beku.


"Mas, ayo kita keluar. Lupakan soal perjodohan, mereka tidak cocok!"


"Sayang, jika tidak jodoh. Maka seharusnya kita harus membuat mereka cocok." senyum melebar Hari.


"Please, Eri sudah aku anggap keluarga. Seorang bos yang baik, sudah seharusnya memperhatikan kebaikan asistennya juga."


Mikha menatap tajam, dan menggenggam tangan suaminya dengan keras.


Hal itu membuat mereka terdiam, lalu dengan spontan mereka keluar. Tetap saja saat mereka keluar, terlihat suaminya masih penasaran dan berbisik untuk bertanya.


"Sayang, aku pikir Eri telah berbeda. Dia itu tak seperti dulu, baru mencoba dan percaya akan cinta. Menurutmu, apa penyebab Osin tak menyukai Eri. Tidak membalas, apa mereka mempunyai masalah?"


Perkataan mas Hari, membuat Mikha terlihat memikirkan masalah serius. Jika Eri ingin mempertanggung jawabkan masalahnya.


"Ayo kita ke ruang tamu mas, masalah Osin ada hati, biar aku tanya nanti. Aku akan pancing, apakah sahabatku itu ada hati dengan asisten Mu."


"Good."

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2