
"Ini, untuk kamu Siren!" ujar Bram, memberikan sesuatu.
"Dady, apa ini tidak berlebihan?"
"Tidak mungkin sayang, ini pantas untukmu dan cucu keluarga ini. Oh ya .. bagaimana apa sudah di usg jenis kelamin?"
"Rencana lusa Siren, kembali jadwal ke dokter Dad, belum pasti Siren ga yakin kemungkinan laki- laki tapi dokter bilang masih samar."
"Baiklah, jika laki atau perempuan tak masalah, tapi lepas anak lahir sekitar 9 bulan.
Atau jarak dekat kalau bisa hamil lagi ya Siren, rumah ini terlalu besar tapi sepi."
"Heuuum ..tapi Dad .. terlalu dekat."
"Apa nya yang terlalu dekat sayang?" sambar Damar menyambar.
"Bukan apa-apa, Damar hanya obrolan sesama menantu dan mertua, kamu sudah berganti kostum?" tanya Bram pada putranya.
Siren hanya tersenyum, melihat Damar kebingungan. Dan jawaban Dady Bram, seolah tak perlu Damar tahu.
"Siren, akan keluar sebentar Dady mau bertemu teman Siren, kami juga ingin ke swalayan membeli buah. Apa Dady mau Siren belikan sesuatu?"
"Benarkah, kalau begitu carikan buah delima segar untuk Dady. Suruh Damar yang cari."
"Heuum, Dady delima itu susah loh, Damar harus cari dimana? apa tidak ada buah lain yang Dady inginkan?" oceh Damar.
"Tidak ada, jangan kembali sebelum kamu dapat Damar!" ancam Bram dan berlalu pergi.
"Sudahlah hubby, semua pasti dapat, nanti kita cari bersama."
"Baiklah sayang, ayo bersiap kita akan mampir dimana Mikha berada, tapi kita luangkan waktu makan bersama dan memutar jalan."
Heuum, apa tuan tampan ingin mengukur jalan?!
Damar mendekat ke tubuh istrinya, menatap dan menaikkan dagu istrinya. Lalu mendekat, hingga mendekat tatapan itu, Siren memejamkan mata seolah suaminya akan menciumnya. Sehingga Damar menatap istrinya tertawa kecil tak bersuara.
"Sayang, aku ingin menyusuri yang lain, bukan menyusuri di hadapanku ini. Untuk apa kamu memejamkan mata, apa aku akan mencium mu, bersiaplah aku akan menunggu, dan memanaskan mobil." Damar tertawa akan sikap jahilnya.
Siren membulat membuka mata, kesal, sebal.
rasanya Damar menggantung, bahkan melihat Damar tertawa kecil dan berlalu ingin rasanya menimpuk dengan kertas.
"Dasar tuan tak bertanggung jawab."
"Hei.., sayang aku mendengar sudahlah ayo bersiap! aku hanya tak ingin membuat lama." ucap Damar berteriak ketika Siren mendahului berjalan ke arah kamar, sedang dia menelusuri anak bawah tangga.
Menjadi lama apanya, hanya kecupan apa akan lama, aku pikir dia akan... ah ... Damar memang menyebalkan.
"Kenapa kamu senyum tertawa sendiri Damar? apa yang lucu memanaskan mobil?"
"Hah .. tidak Dad hanya, tidak apa - apa Dad, hanya mengingat sesuatu."
"Damar, kamu tuh aneh kamu sedang tak membuat kekacauan pada istrimu kan, ingat jika sedang hamil jangan membuatnya sulit."
"Iya, Dady sayang. Damar paham."
Tak lama, Siren sudah rapih dan pamit pada Dady Bram yang berada di teras jejeran mobil sports. Bahkan dalam perjalanan Siren terdiam, hingga Damar terus saja membujuk.
"Sayang, aku bukan tak ingin mengecup mu, hanya saja tadi akan lama jika aku menginginkan lebih, masih ada jam lain sayang."
"Hubby..., kamu tidak menginginkan ku lagi." Siren merajuk menangis kecil.
__ADS_1
Bukan begitu sayang, maaf aku tidak akan jail padamu seperti tadi, Damar pun tersadar telah mengacau, sensitifnya karena istrinya mood orang hamil memang selalu dianggap serius.
Dering ponsel Damar berbunyi, ia pun mengangkatnya melalui sambungan ponsel.
Dan handsfree ke arah telinganya. Dua puluh menit berlalu. Dan Damar kembali terdiam menyetir.
"Baiklah, kita sudah sampai sayang."
"Bukan kah ini hotel ZX sayang, untuk apa kesini?"
"Sayang, Mikha menunjukan peta sesuai disini, dan cafe itu private ada di belakang gedung ini."
"Heuuum, baiklah aku akan menghubunginya."
Saat Siren mengambil ponselnya, tak lama
chat Mikha benar saja, dia dan Kara sudah menunggu dibelakang gedung hotel ini.
"Hubby, kenapa wajahmu seperti itu, apa ada masalah?"
"Tak apa sayang, hanya masalah kantor. Paman Alex membuat janji untuk bertemu klien gabungan di eropa, tapi aku tak bisa meninggalkanmu, karena ini pasti akan sangat lama. Aku ingin membawamu tapi kehamilan mu tak baik jika berada di pesawat."
Terlihat wajah Siren yang masam, ia tak bisa jauh dalam pelukan suaminya ketika trimester awal membuatnya sedikit manja.
"Hubby, pergilah jika itu urgent, meski aku selalu rindu tak bisa jauh, ada Dady dan paman bodyguard kan yang akan menjagaku."
"Baiklah..., aku mencintaimu sayang."
"Love u to hubby."
***
Meja Resto.
Hai, Siren.
Hello, bumil.
Kara dan Mikha memeluk Siren.
"Sayang, aku akan pergi sebentar mencari pesanan Dady, jika sudah selesai kabarkan ya. Kara, Mikha titip istriku ya agar dia tidak nakal!" ucap Damar dan mencium kening istrinya, sebelum pergi.
"Haduh .. masih saja Damar mu Siren."
Dan mereka tersenyum lebar.
Ayo, kita pesan dulu Siren!!
Lama mereka bercerita bersama penuh tawa,
dan tak lama Siren menanyakan, hal apa yang ingin ditanyakan saat di group. Hingga Mikha menatap terdiam pada dua sahabatnya, yang sedang memakan es krim karamel.
Siren, berjanjilah jika kamu tidak marah padaku!
Heuumph, baiklah Mikha lebih baik kamu jujur sayang?
Kara pun serius menatap Mikha dengan tajam.
"Kenapa, matamu seram seperti itu Kara, aku tidak sedang membuat bencana, hanya kekacauan."
"Tatapan apa sih Mikha, mataku kenapa, memang terlihat aneh?"
__ADS_1
"Aneh sekali, apa menjadi dokter ahli jantung membuat orang disampingmu menjadi takut akan dicabut."
"Eh, memang aku malaikat maut Mikha."
"Sudahlah, kenapa jadi berselisih. Aku ingin mendengarkan, ayo cerita lah!" ucap Siren.
Siren, aku terjebak dalam lingkaran tuan Daru, bahkan aku tidak mengerti, kamu tahu aku dan paman Hari, aku menyukai suamiku, meski statusku selalu di sembunyikan.
Tapi Daru awalnya memintaku untuk sebuah kontrak film, saat lepas acara bali, kamu ingat ketika kita ada acara di paris bersama paman Kenan, aku terjebak tanda tangan kontrak yang tak sadar, saat itu dia memaksamu kan, nah saat itu aku bertemu tuan Taqy, membicarakan film legend movie. Tapi saat aku sadar membacanya, aku ga mau karena ada adegan hot++, kalau sekedar kecupan bayangan tak masalah.
"Terus?"
Saat jamuan aku merasa pusing aku ingat, tapi kamu tahu aku merasa bersalah karena setelah bangun aku ada di samping tuan Daru, meski ia bicara dia tak menyentuhku.
Tapi dia berjanji tak akan membocorkan kejadian itu, dan jika dia tak menginginkan membatalkan kontrak itu ada syaratnya asalkan.
"Asalkan apa Mikha?" penasaran Kara.
"Asalkan aku selalu ikut kemanapun dia pergi.. semua kontrak film aku di bayarkan pinalti, aku gak ngerti maksudnya apa Siren. Daru tak menjelaskan sepatah katapun. Di saat penting baru dia bicara, tapi selebihnya hanya diam dan menjawab dengan tatapan, senyuman atau mendekat membuat takut, Menurut kalian tingkah Daru itu padaku apa ya?"
Aku bingung baru kali ini aku di rante pria segila itu, jelas jelas saat itu dia mengejar kamu Siren.
Lama terdiam, Siren sudah habis dengan dua mangkok besar es krim, Kara menghabiskan tiga mangkok kue tart, hingga Mikha mendengus kesal.
Kalian mendengarkanku tidak sih? aku ni galau, kenapa masih makan dengan berselera.
"Aku sedang berfikir Mikha, apa dia menyukaimu, sebagai pacar. Dia punya pacar gak?"
"Menurut tuan Taqy sudah, tapi itu tunangannya yang akan menikah. Lalu kenapa dia mengekang ku Siren. Aku merasa menjadi pelakor. Jika seperti ini terus."
Siren memeluk nasib kedua sahabatnya itu. Tak menyangka kesulitan asmara mereka lebih sulit.
Mikha, Kara kamu ingat saat aku ucap sesuatu ketika putus dari seseorang.
"Heuuump, apa Siren?"
Tuhan tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, tapi ia akan memberikan yang kita butuhkan. Mungkin saja pilihan yang kalian ambil adalah yang tepat. Jadi tetaplah berdoa dan yakin hanya dalam diri kalian yang bisa memutuskan, karena kalian yang menjalani sahabatku.
Mikha, Kara pun terharu memeluk Siren.
"Janji ya kita selalu ada kapanpun!"
"Janji."
"Thanks sahabatku."
Tak lama, beberapa jam kemudian.
"Eheuuuum....," suara deheuman seseorang. Siren pun tahu suara siapa itu, hingga Kara dan Mikha ikut menoleh ke arah itu.
"Sayang, kamu membahas mantan mu, Zio suami kakak tiri ku? kalian berkumpul hanya mengenang masa lalu?" ucap Damar dengan menyelingkup kedua tangan, sehingga Siren berdiri dengan tatapan membola.
"Hubby, kamu salah paham, pasti kamu hanya mendengar hanya sepatah. Kita tadi .."
"Apa kalian sudah selesai?" ucap Damar, sebelum Siren menjelaskan sudah dipotong.
Mikha dan Kara memegang alis, mereka juga menatap jam dan bicara ada janji, pertemuan mereka memang sudah hampir empat jam, sehingga mereka pun pamit.
"Ayo sayang, kita pulang!"
'Aish, dasar suami bersaldo unlimited pecemburu akut.' batin Siren mengekor langkah suaminya. Selepas kedua temannya pamit lebih dulu.
__ADS_1
TBC.