Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
DI BANTU OLIVE


__ADS_3

"Cepat serang, ... !" teriak Alex memerintahkan.


Bram terkejut, ketika tiga pria melewati tubuh Olive, Olive hanya menyeringai senyum dan berkata agar Bram, fokus melawan mereka. Sehingga kekuatan Olive akan di transfer ke Bram, dan bisa melawan semua orang yang ada di markas ini tanpa tersisa.


Bram pun menurut, ia berharap ini adalah yang terakhir, Olive menempati janjinya. Bahkan ia juga kebingungan, dengan udara yang pengap tanpa ventilasi, setiap orang di adu bagai hewan. Yang kuat dialah yang hidup sejahtera selamanya. Mustahil, hidup selamanya sejahtera jika tanpa berusaha.


"Lawan pertama, silahkan maju!" pinta pria itu.


Salah satu anggota Genk Merah itu maju beberapa langkah. Pun dengan Bram, yang kala itu Olive menubruk badannya, sehingga Bram mirip orang yang kejang, dan beberapa saat Bram tak melihat Olive.


"Kenapa dia ..?" ujar pria yang ingin memukul Bram.


"Serang!" membuyarkan pertanyaan Anggota genk merah, karena di rasa Bram hanya cari akal.


Pandangannya dengan lawan tandingnya itu saling bertemu. Bram memasang tatapan tajam dan ekspresi datar-datar saja.


Sementara, lawannya menunjukkan otot-otot tangannya yang kekar. Olive berbisik di diri Bram, sehingga pikiran Bram juga ikut bingung kala utusan langit itu menempel di dalam tubuhnya.


Bram menyunggingkan bibirnya, "Inilah tanda-tanda pemula," batinnya terkekeh.


Pria yang bertindak sebagai wasit itu segera memberi aba-aba untuk Bram dan lawannya bersiap-siap. Bram pun siap, karena di dalam tubuhnya ada Olive yang menyatu, membantu nya melawan mereka semua.


Pada hitungan ketiga, Bram pun langsung menyerang.


BRUK ..


Kemungkinan keras pukulan Bram, mendarat tepat di wajah pria itu. Saking kencangnya pukulan sampai membuat tulang hidungnya retak dan darah segar mengalir deras dari sana.


Bram tersenyum tipis. Perlawanannya tidak sampai di situ saja. Sebelum pria itu bersiap untuk menyerang, maka Bram mengambil inisiatif untuk memukul duluan.


BRUK ..

__ADS_1


Tinjuan keras mendarat tepat di wajah lawannya. Pukulan yang mengandung tenaga dalam sangat tinggi itu mampu membuat lawannya tersungkur di tanah hanya dalam hitungan detik saja.


Bram, berteriak untuk meminta lawannya itu agar berdiri dan memberinya perlawanan yang berarti.


Pria itu naik pitam. Wajahnya sudah dua kali menerima pukulan keras sampai mengeluarkan darah segar. Ia tidak bisa memberikan anggota baru itu menang tanpa mendapatkan perlawanan.


Yaaaachhh!!!


Sang lawan berteriak sangat keras sambil mengangkat tangannya hendak mengeluarkan tinjuan. Namun, Bram dengan mudahnya menangkap tangan itu dengan sebelah tangannya. Beberapa orang melihat akan Bram, seolah tidak seperti biasanya. Mereka kira, Bram yang lemah entah mengapa berubah jadi super.


Pria itu melongo. Pun dengan orang-orang yang nantinya akan melawan Bram. Penonton yang menyaksikannya pun bersorak-sorai.


Belum pernah mereka melihat pertarungan yang tidak seimbang ini, apa lagi lawannya hanya pemuda kurus dan diakui tampan, sangat tidak pantas disebut anggota Genk kampak merah, yang rata-rata memiliki wajah garang, kulit hitam, gemuk dan botak. Apalagi tinggi seberat SUMO.


Melihat lawannya yang bengong, Bram tak membuang waktunya untuk segera mengakhiri putaran pertama ini.


BRUK ..


"Bram menang!"


Pria yang bertindak sebagai wasit itu, mengangkat tangan kanan Bram dan mengumumkan kemenangan pertamanya.


Bram tersenyum penuh kemenangan. Dengan keluar sebagai pemenang dalam putaran pertama, semakin membuatnya percaya diri untuk bisa mengalahkan mereka dalam waktu singkat dan bertemu Ketua Tertinggi secepatnya.


"Mari, kita mulai duel berikutnya!" Pria itu memberi aba-aba. Namun, sebelum itu Bram berkata.


"Maaf Bos. Bisakah yang duel kali ini ada lima belas orang? Rasanya jika duel satu persatu, akan membuang waktu percuma. Jadi, aku ingin lima belas orang langsung menyerang ku. Apa bisa, Bos?"


Pria yang dipanggil Bos itu mengelus dagunya, lalu menjatuhkan pandangannya pada anggota Genk Merah yang masih tersisa sembilan belas orang itu.


"Semuanya juga tak apa, kemarilah;" celoteh Bram.

__ADS_1


"Bagaimana, apa kalian ingin menyerangnya beramai-ramai?" tanyanya lebih dulu, sebelum menjatuhkan keputusan karena tidak pernah dalam catatan, duel ini dilakukan secara berkelompok.


Para petarung yang tersisa saling berpandangan satu sama lain. Mereka bisa melihat bagaimana Bram mengalahkan rekan mereka hanya dengan tiga pukulan saja. Itu artinya, Bram bukanlah lawan yang harus dianggap remeh. Apa lagi Bram mengalahkan lawan mereka tanpa berkedip, artinya Bram bukanlah orang sembarangan.


"Baiklah. Akan ada lima orang dari kami yang akan menyerang dia!" tunjuk pria itu tegas, yang menjadi juru bicara.


Bram, mengangguk, merasa puas dengan apa yang didengarnya. Dengan begitu waktu untuk duel ini akan cepat selesai.


"Kalau begitu lima orang pertama silahkan maju," pinta si wasit itu.


Lima anggota Genk Kampak Merah pun maju beberapa langkah. Suara tepuk tangan penonton semakin kencang karena duel kali ini sangatlah menarik dan sayang untuk dilewatkan.


Wasit pun mulai menghitung mundur dan pada hitungan pertama duel pun dimulai.


Bram langsung menajamkan pandangannya, lantaran kelima pria ini mengepungnya dari segala sisi.


Bram tidak merasa takut. Situasi seperti ini pernah dirinya alami pada kehidupan pertamanya, saat melawan Naga Buaya di markasnya. Lalu, pertarungan terakhirnya dengan anggota Kura-kura Merah pun mengharuskan dirinya berada dalam situasi yang sama. Dan kali ini ia menghadapi Genk kampak merah.


"Maju kalian semua!" tegasnya menantang.


Mereka pun tanpa aba-aba lagi langsung menyerang, seperti sedang melahap. Bram pun merunduk, kedua tangannya dijadikan sebagai penahan semua serangan yang datang.


Yaaachhh!!!


Di waktu bersamaan, dia mendorong tangan-tangan itu dengan seluruh tenaga dalamnya. Alhasil, kelima pria itu terpental beberapa langkah ke belakang.


Mereka yang masih menepi pun melongo melihat Bram, berhasil keluar dari kepungan tersebut. Apalagi Bram melompat bagai terbang, membuat semua yang melihat terkesima.


Penonton pun semakin semangat bertepuk tangan. Baru kali ini duel yang tersaji begitu memanjakan mata mereka.


Sebelum-sebelumnya, tidak ada petarung yang mampu lolos dari tiga puluh orang Anggota Genk Kampak Merah semua memar dan tanpa terluka, bahkan ada yang patah tulang apalagi kehilangan giginya. Matanya bengap dan berteriak kesakitan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2