
Satu jam berlalu terlihat, bibi Yani menunggu bersama Siren saling memeluk.
Paman Alex dampingi Damar saat itu pun menatap Siren dengan sedih. Terlebih Damar yang ikut sakit hatinya, merasakan apa yang di alami sang kekasih.
"Bagaimana dengan Papa saya dok?"
Siren menatap wajah dokter yang tak sedap, ia mencerna jika papa nya akan sembuh dan baik baik saja.
"Mohon maaf kami sudah membantu sebaik mungkin, saya turut berduka akan meninggalnya Tjin Tjandra" sang Dokter pun pamit meninggalkan ruangan, dan terlihat suster membantu mempersilahkan keluarga pasien masuk.
Tangis Siren pecah, ia memeluk erat bibi Yani yang sama sedihnya, terlebih ia menatap sang keponakan menjadi yatim piatu, bahkan keinginannya untuk melihat putri semata wayang nya menikah belum tercapai.
Alex pun ikut sedih di bangku depan ruang kamar pasien. Ia menyuruh Damar untuk menghibur menguatkan Siren, ia tak menyangka jika pertemuan awal adalah pertemuan akhirnya setelah sekian lama tidak pulang bertemu keluarga.
Flashback dua jam lalu.
"Jadi Damar dekat denganmu Alex?"
"Ya benar paman Tjin, aku tidak menyangka akan berakhir bertemu seperti ini. Paman aku kenal Damar, meski aku bekerja di keluarga Hartanto."
"Jika kamu menjenguk ku, meski kamu hadir kamu terlambat Alex. Paman tidak akan merestui hubungan anak ku dengan dia yang notabane hanya mementingkan ego sendiri, kecuali jika aku telah mati."
"Paman anda tidak bisa memaksa kebahagian anak yang saling cinta?" tutur Alex.
__ADS_1
"Cinta atas dasar apa Alex, aku pernah cinta pada seorang tapi ia lebih memilih pergi dengan pria asing yang kini mungkin mengecewakanmu bukan, ada baiknya dia menikah dengan yang telah dijodohkan?" balas Tjin.
"Cukup Tjin, kesampingkan masalah masa lalu keluarga Tjandra, bukankah keluarga kita yang dulu menghancurkan keluarga Tjandra. Generasi tidak perlu dilanjut bermusuhan."
"Tidak akan pernah, aku sudah memutuskan Siren, anak ku akan menikahi dengan Daru, aku banyak hutang budi pada papa Daru yang bernama Herda. Dia sahabat kakek kita juga, apa kamu ingat Alex?" kesepakatan telah tertulis dan sudah saling bertemu, jadi aku harap Damar tidak pernah lagi menemui putriku!"
"Paman benar benar keras kepala, kau rela balas dendam karena masa lalu, Mengorbankan kebahagian anakmu demi egomu, bahkan kau rela berbesan dengan Herda bejad itu. Baiklah jika mau paman seperti itu, tapi Alex pasti akan mendukung Siren dengan Damar."
Saat Alex berbalik arah ia menyemprotkan aroma pekik di dalam bubur yang disediakan oleh rumah sakit. Ketika pria paruh baya membalikkan wajahnya tak ingin melihat, ia pun berpura pura jatuh akan sapu tangan dan menutupi botol kecil itu ke saku baju nya.
Itulah kenapa, Alex yang tidak banyak yang tahu jika ia adalah paman Siren, masih keluarga Tjandra. Jika Siren menikah dengan Damar, hidup kekayaan bisa ia handle karena Bram, Damar selalu mempercayai seluruh asetnya. Ketimbang dendam dimasa dulu, lebih baik berdamai dengan banyak harta.
Pemakaman Cimestery.
Siren yang masih dalam berduka dengan balutan hitam ditemani bibi. Alex dan Damar ikut menaburkan bunga terakhir kalinya.
"Tolong handle, pertemuan nanti paman."
Alex sebagai paman memberikan baju hangat dan secangkir teh pada Siren. Ia memegang bahu Siren amat erat dan tersenyum penuh maaf, ia melakukan ini semua, karena tau siapa keluarga Daru, ia yakin jika Siren akan bahagia bersama Damar. Sebagai penebus kesalahan dirinya yang meninggalkan keluarga Tjandra di pihak keluarga Hartanto, pada saat itu juga keluarganya terancam di penjara dan menebus kerugian. Maka hidup sulit itu pahit, jadi selama keluarga Hartanto masih di sejajar kaya maka ia akan setia mengabdi.
'Maafkan rahasia ini, paman akan simpan padamu nak, bahkan Damar pun tak mengetahuinya, cukup aku yang tau dan tuhan yang tau tindakanku yang salah ini.' deru batin Alex menatap Siren dan tak lama Damar datang, membawakan beberapa makanan.
"Siren! ayo makan sedikit!" ujar Damar membuat Siren terdiam.
__ADS_1
Sementara setelah beberapa jam, ponsel Damar berdering. Di saat yang bersamaan Damar ikut syok! Ketika kakek Reksa Hartanto pun meninggal dan akan dimakamkan di belanda.
"Apa! Dady, itu bohongkan?" ujar Damar, lemas di sangga Alex.
"Kenapa Damar?" tanya Siren ikut berdiri.
"Kakek ku yang sedang koma, dinyatakan meninggal. A-aku .."
"Pulanglah dulu kamu Damar! aku tidak apa apa disini ada bibi juga."
"Maafkan aku Siren." lirih Damar memeluk Siren refleks.
"Aku akan bicara pada paman Alex untuk melindungi mu dari Daru, aku pergi dulu." di anggukan Siren.
Alex turut berduka, hingga ia mengantar Damar sampai bandara, membuat Siren terdiam sedih entah bagaimana harus apa mereka sama sama berduka saat ini.
Damar yang di dalam mobil, meminta paman Alex, menunggu Siren saja di rumahnya. Karena firasat Damar tidak enak saat itu.
"Paman, aku mohon jaga Siren dan keluarganya. Setelah pemakaman selesai, Damar akan kembali."
"Hati hati tuan Muda, doa saya dan titipkan berduka saya pada ayah anda. Saya akan membujuk Siren dan bibi mengunjungi belanda jika Daru, datang."
"Terimakasih paman."
__ADS_1
Sepergi nya Damar, ia teringat kisah cinta yang benar benar terhalang tembok. Beberapa kali Damar ingin dekat Siren, seolah halangan benar benar membatasi hidupnya begitu saja. Entah Damar tidak percaya mitos, tapi ia sangat berharap kehidupannya bisa sesuai apa yang ia inginkan.
TBC.