
"Cinta, itu bentuk tanggung jawab, kasih sayang, rasa ingin memiliki dan ingin membahagiakan orang yang di cintainya, termasuk melindunginya dan tak ingin yang dicintai tersakiti, tuan Tjandra!" Bram menjawab cepat yang tak diharapkan.
"Cih!" pria itu mengumpat sinis.
"Pergi kau dari sini! Tak ada tempat untukmu di sini!"
"Lalu kenapa kau ingin aku datang ke sini kalau mau mengusirku?" tanya Bram, sesuai kenyataan. Untuk apa Tjandra repot menguruskan Visa untuknya?"
"Aku ingin anakku kembali dan menunjukkan padamu, siapa calon pendamping putriku, karena pria sepertimu tidak masuk hitungan!" seru Tjandra lagi sambil melipat tangannya meremehkan Bram.
"Ayah, apapun yang kau pikirkan aku tetap akan bersama Bram!"
Dan secepat kilat Jingga menyambar. Dirinya juga sudah memeluk pinggang Bram, yang awalnya amat risih bagi Bram.
"Hah, Jingga berpikirlah sedikit! apa memang yang bisa dia berikan padamu?" sindir Tjandra mulai pengap dengan hama di teras rumahnya.
"Kebahagiaan," seru Jingga menanggapi cepat, sebelum Bram bicara.
'Duh, kenapa jadi debat kusir?' Bram tak begini yang diinginkan sebetulnya. Tapi Jingga tadi menyelaknya.
"Bahagia di tempat tidur begitu? Kau pikir hanya itu yang dibutuhkan oleh putriku?" dan saat Bram masih berpikir, Tjandra sudah menimpali lagi.
"Ayah tapi kami sudah terlanjur. Benar kan Bram?"
"Eh, apa maksudmu Jingga. Ini di luar rencana, kau .." bisik Bram, ingin marah karena Jingga bicara di luar batas kesepakatan.
Bram makin penat. Lagi-lagi Jingga secara sadar berinisiatif membuat kebohongan baru yang menambah masalah baru untuk Bram. Apalagi anggukan kepala Jingga baru saja mengukuhkan dugaan Tjandra.
Mau di bawa ke mana sandiwara ini? Bram pasrah!
"Aku tak akan menggugurkannya, ayah! Ini buah cintaku dengan Bram!"
"Jingga anak haram itu--"
"Tenanglah, Tjandra. Cucuku sedang mengandung, jangan terlalu membuatnya stress!"
"Kakek?"
Tambah lagi seseorang yang di dorong di kursi roda, keluar menghampiri mereka dengan tatapan dingin, baru saja membuat Jingga memanggil namanya.
__ADS_1
"Ayah, tapi tadi kau dengar sendiri--"
"Cukup Tjandra!" pria itu mengangkat satu tangannya tanpa melirik.
"Jadi kau sedang mengandung, Jingga?"
"I-iya kek. Makanya aku dateng Boracay buat kasih tahu Bram, kami bentar lagi punya anak."
'Hah, apes! Harusnya ga gini, dia malah bikin kacau balau!' Bram sebetulnya punya ide lain yang lebih baik. Dia sudah menyiapkannya, malah sekarang terseret pada arus sandiwara Jingga yang entah ke mana ujungnya itu. Tapi, apa mungkin Bram bisa punya kesempatan menyanggah? apalagi menghancurkan dalang kematian dan s kontruksi, kali ini soal wanita Bram lemah, berbeda dengan bisnis ia cukup lihat dan mudah.
'Aku sudah terlanjur bilang mau membantunya sampai tuntas!' Bram bergeming begini saat dia melihat Jingga kembali mengangguk.
"Kalau begitu, menikahlah dengannya!"
"Ayah!" Tjandra tak setuju, dia ingin menolak permintaan ayahnya, tapi pria tua itu sudah kembali mengangkat tangannya sebagai tanda kalau dia tak mengizinkan Tjandra bicara.
"Mereka akan punya anak, Biarkan mereka menikah, Tjandra."
"Tapi ayah--"
"Tak ada tapi! Urus pernikahan mereka, besok, kita akan menikahkan keduanya."
"Ayah jadi ini semua bisnis?" Jingga memekik, dia jadi tahu apa alasan ayahnya ingin perjodohan itu. Sebuah kerjasama! Betapa sakit hati Jingga.
"Aku bukan barang dagangan di bisnis ayah! Aku putrimu, Aku tidak mau menikah hanya untuk tumbal kerajaan bisnis ayah!" Jingga pun mengutarakan luapan kekecewaannya.
"Anak tak tahu di untung, memang kau pikir siapa yang membesarkanmu selama ini dan uang dari mana, hemm?" dan Tjandra juga tak ma kalah.
"DIAM KALIAN BERDUA!" hingga kakek Jingga kembali melerai.
"Aku sudah putuskan, Jingga akan menikah dengannya," seru pria tua itu dan kini jari telunjuknya mengarah pada Bram.
"Lalu sebagai wujud rasa cintanya pada Jingga, tanggungjawab, perhatian, rasa ingin melindungi dan lainnya yang tadi dia uraikan, aku ingin dia menunjukkan pada kita, kalau dirinya, bisa menyelesaikan project di Texas."
'Wah, aku salah bicara tadi!' tiba-tiba Bram menyesal mengutarakan arti cinta yang tak disangkanya menjadi boomerang.
"Ayah, itu tak mungkin!" saat Tjandra menyanggah.
"Project itu butuh pendanaan besar, sokongan pemerintah setempat dan pusat juga! Ini baru bisa terwujud kalau Boim mau bekerjasama, backingannya adalah walikota Texas. Belum lagi nominal yang mereka bisa sokong, ini tak mungkin bisa dipenuhi oleh pengangguran sepertinya!" Tjandra, tak habis pikir bagaimana ayahnya mengambil keputusan, padahal selama ini, ia adalah orang yang paling bijak dan money oriented dalam keluarganya.
__ADS_1
Ini tak masuk akal!
"Memang, tapi ini satu-satunya cara kalau dia ingin bersatu dengan anak dan istrinya!" ucap sang kakek lagi.
"Kecuali dia menyerah dan meninggalkan Jingga di sini!"
'Oh tidak, bagaimana kalau Bram menolak? Tapi dia pasti menolak kan? Mana mungkin dia mau menanggung semua kesulitan itu?' cemas hati Jingga, sehingga dia merangkul Bram semakin erat dan ini tentu saja dirasakan juga oleh Bram yang sempat meliriknya.
"Ayah--!" Tjandra masih tak bisa menerima
"Jawab aku, apa kau bersedia, young man?" sang kakek tak menanggapi protes putranya, justru menunggu jawaban Bram dengan sorot matanya yang tajam.
Haruskah Bram menjawab iya? atau sebaiknya dia pergi dan menolak? Dirinya akan terhindar dari urusan yang merepotkan juga penuh intrik dan bisa bersantai di Boracay. Sepintas ada pemikiran begitu.
Bagaimana nasib Jingga kalau ditinggalkan Bram? Mimpinya dan sesuatu yang diperjuangkan Jingga akan hilang. Bram jadi kasihan.
"Baiklah aku setuju!"
"Oke! Tiga bulan waktumu, kalau kau tak bisa menyelesaikannya dalam tiga bulan, maka kau harus memutuskan pernikahanmu dengan Jingga, melupakan hak atas anakmu dan aku akan menuntutmu sebesar jumlah kerugian perusahaan yang kau buat."
"Grandpa, it's ridiculous!" Jingga menolak.
"Aku juga tak akan mengecek kehamilan Jingga! Tapi andaikan aku tahu kebohongan soal kehamilan ini, maka konsekuensi hukuman seumur hidup di penjara atau hukuman mati, akan kau terima!"
"Ka-kakeeek!" Jingga makin ketar ketir.
"This is concequences, Jingga. Dia sendiri tadi bilang cinta itu bentuk tanggungjawab dan aku menuntut tanggungjawabnya untuk membuatmu tak kekurangan apapun, dan membuat keluarga orang yang dicintainya tak mendapat masalah dengan kerugian materi atas cintanya," tukas Henry si pria tua lagi, makin memberatkan Bram.
'Duh, kenapa jadi aku yang susah gini? baik aku pergi kan? Selesai urusanku. Tapi--'
Bram melihat ulang tangan Jingga yang melingkar, kala Bram ingin pergi saja dari kediaman memuakan Tjandra.
'Dia bergantung padaku. Dia butuh aku untuk menolongnya!' ada rasa dibutuhkan, ada rasa dihargai dan ada rasa ingin melindungi yang tetiba muncul saat Bram melihat kecemasan Jingga.
"Tidak! aku tak setuju! Kalian hanya ingin menjebak Bram dan memisahkan. Kalian kejam!" Jingga menolak dan sudah menarik tangan Bram.
"Ayo pergi dari sini Bram!" seru Jingga dengan air matanya juga terlihat.
TBC
__ADS_1