
Siren kali ini menuju butik, peninggalan mertuanya itu. Karena bertepatan kali ini Damar, hanya mengantarnya sampai depan parkiran.
Siren pun langsung di sambut beberapa orang, karyawan dady Bram yang mungkin sudah mengenalkan siapa Siren.
"Siapa pria disebelah ujung itu Bella?" tanya Siren, pada asistennya, Bella pun detail menceritakannya.
Langkah, kaki nya beranjak dari butik sampai di kedai rumah makan siap saji, ia melihat lihat berbagai menu dan ia pun membeli sebanyak karyawan yang ada di butik Dady, dan tambahan lima menu spesial, untuknya dan temannya makan siang, yang sudah jadi tantenya.
"Apa ini serius nona, puji tuhan terimakasih saya akan segera buatkan, tunggu sebentar. Pa Ton pun bertanya apa sedang ada acara?"
Siren tersenyum mengatakan hanya sedang ingin mentraktir. Jelas batin Siren, hanya membantunya, dan mempromosikannya kelak agar kedainya kembali ramai.
Ketika itu pun ia kembali melangkah dan mengecek butik. Satu jam lebih berlalu karyawan butik tertegun banyak menu makanan menghampiri dan di letakkan di pantry, Siren pun menyelesaikannya.
Semua karyawan pun sangat senang antusias, ternyata menantu bos besarnya itu tidak judes dan humble. Beberapa menit kemudian orderan butik kedatangan pelanggan, hingga ramai dan tak seperti biasanya.
Siren hanya tersenyum dan ikut memantau, sedangkan puluhan karyawan sudah bertugas dengan kesibukannya hingga menjelang makan siang melewati satu jam, Siren meminta untuk setengah karyawan beristirahat, meski karyawan menolak tapi Siren kala itu tak apa apa, dia pun tak jadi berencana keluar.
Hingga Mikha datang, istri paman Hari itu pun tiba mengajak makan bersama. Meski berada di meja besar, tapi pantry itu sangatlah mewah. Ia memperhatikan karyawan mama ikut bergantian makan siang.
"Ayo nambah lagi aja, pastikan kalian membawa bekal siap saji mentah, tinggal kalian masak untuk dirumah ya, jangan sungkan hari ini! anggap saja aku mentraktir kalian karena kalian semangat bersungguh sungguh di butik ini."
"Aku datang kemari, karena Hari meeting di ibu kota, jadi aku sempatkan deh."
"Makasih loh Mikha, aduh sebenarnya aku bingung. Umur kita sebaya, tapi kamu tetap jadi tante kan?"
"No! kalau bukan meja keluarga, kita tetap biasa aja seperti ini. Nama biasa." bisik Mikha.
Hingga selesai, mereka kembali ke butik. Terlihat satu dua wanita, membuat tatapan Siren menyorot, memperhatikan custumer yang sedang memilih.
__ADS_1
"Haduh .. wanita ini gayanya gitu amat Siren. Niat beli apa cuma ngacak ngacak, ada dendam kali ya sama butik ini!" ucap Mikha.
"Siren, memanggil Sita menanyakan ada apa dengan custumer itu?"
Sita pun menjelaskan jika pelanggan pahit jarang membeli, terkadang belinya di toko lain dan setiap datang memang seperti itu. Jika jadi membeli kartu nya tidak bisa di gestun dan alasan pergi sebentar ga balik lagi. Mikha pun mendengar curahan karyawan hanya bisa menyambar.
"Aduh biasa itu, modus kayanya Siren, jangan jangan dia cuma mau lihat model busana disini buat jiplak dan cari cari tau merek apa saja, bisa jadi dia punya butik di pasar toko lain." bisik.
"Sst .. Mikha ga boleh berburuk sangka sayang."
"Oke .. maaf sayang!"
"Kamu tinggal sebentar ya biar aku tangani."
Dan ketika tiga langkah, Siren mengambil ahli. Asisten kepercayaan butik bernama Bella, di hempaskan oleh custumer sebuah baju dilempar terkena Siren, hingga baju itu pun jatuh.
Semua mata menatap Siren, ia menahan emosi tapi ini sudah keterlaluan.
"Bella jika ada satu customer seperti ini lebih baik keluarkan dari member." ujar Siren.
"Kau yakin, mengeluarkan member seperti saya?" ujar wanita itu.
"Ruangan ini penuh cctv, jika menggugat tetaplah ramah, tapi jangan biarkan customer seperti ini masuk kembali. Saya tidak ingin ada yang menginjak nginjak kalian meski sebagai pekerja." Siren menjelaskan pada karyawan.
"Hei kamu disini siapa, spv atau manager saya bisa beli semua disini, belum tau saya siapa?" ucap wanita itu.
Mikha ingin ikut berbicara gatal, tapi Siren menyuruhnya untuk tidak ikut campur.
"Baiklah perkenalkan siapa dirimu, saya memang tak ingin terkenal, tapi jika kamu ingin melihat siapa saya dan kenapa saya disini cari tahu sendiri, karena tidak penting untuk saya menjelaskan."
__ADS_1
"Kamu wanita sialan baru bertugas kerja disini saja sombong, sebentar saya panggil kakak saya, dan orang saya akan membungkam kalau perlu dibeli toko ini." sahut wanita kecil sombong.
"Silahkan nona!" senyum Siren.
Semua karyawan terkejut dengan pertikaian dan berdebar.
Mikha mendekat pada Siren, Hingga satu jam kemudian ketika Siren sedang melihat ponsel dan meminta security memindahkan file, ke ponselnya. Guna untuk memindahkan rekaman kejadian ini di kirim ke ponsel nya untuk sebuah bukti.
Tak lama suara langkah, dan wanita itu berteriak.
"Kakak lihatlah karyawan itu, mengacau. Katanya, pembeli sepertiku tidak pantas menjadi member disini."
Mikha sebal, ternyata menjaga butik tak seindah yang ia pikir, kasian adik iparnya bisa kurus kering jika mendapat customer model rese seperti ini.
Tak lama, wanita itu kesal. "Mengapa kamu kesini Karin, kamu sedang apa disini?"
Dan Siren, membalikan badan, melihatnya dan menghampirinya.
"Owh.. jadi ini adik anda? dokter Arini jadi ini adik kecil manja mu, beri contoh yang baik tapi .. "
"Hei, Siren. Tepatnya nyonya Damar keluarga nomor satu, biar ku perkenalkan adik saya berada disini, tapi saya tidak akan meminta maaf lebih dulu, dan soal Damar jangan senang dulu! karena suatu saat aku akan menemukan kelemahan mu dan merebut Damar kembali, padaku!"
Mikha gatal ingin menampar
namun dicegah, tapi Siren melirik senyum menghampiri. Karena Mikha tahu, dokter didepannya ini pernah di jodohkan oleh Dady Bram, untuk Damar. Tapi Damar kabur memilih mencari Siren, yang saat itu di culik Daru.
"Sayang sekali dokter Arini masih terobsesi ingin menjadi keluarga Hartanto bukan? tidak jadi istri bersaldo unlimited kan?" goda Mikha dengan tambahan tawa renyah.
"Halah! kau itu juga wanita aneh, menikah sama pria tua. Muda kok seneng di panggil tante T-u-a." ejek Arini.
__ADS_1
Siren meminta Mikha sabar, toh sebelum Dijodohkan untuk suaminya itu, masih ada wanita lain pilihan dady Bram. Mikha, Arini dan Hera, dan mungkin masih banyak lagi yang ingi menjadi istri Damar, si putra pewaris bersaldo unlimited. Jadi Siren tetap kuat, karena ia percaya. Damar akan terus disisinya.
TBC.