Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
TERPIKAT BRAM


__ADS_3

"Kamu bercanda, ayo kita cari lokasi lain. Sebab aku rasa .." terdiam Elea.


"Kenapa, apa saat kamu mendapat lokasi ini. Mereka menyinggungmu?" ujar Bram, yang tahu wajah Elea terlihat sedih.


"Mau kemana?"


"Akan aku tunjukan, siapa yang berani tidak baik padamu, maka ia akan berhadapan denganku. Setelah ini, kita temui kedua orangtuamu El. Aku serius."


"Bram, aku tahu. Tapi jangan berlebihan, kita cari tempat lokasi lain saja."


Elea tak bisa menahan aksi Bram, yang seolah ia tahu sikap dua pemasaran kantor dan beberapa rumah elite tidak sopan, tanpa banyak tanya. Lokasi yang Elea tunjukan juga pas, sesuai perintah system.


Tlith!


[ Cari lokasi terbaik, sedikit jauh dari kebun emas seribu satu meter. Jika perlu renov ulang dengan banyak fasilitas. Rekrut 300 orang karyawan, waktumu dua minggu! ] pesan system beberapa jam lalu, sebelum ia bertemu Elea.


Hingga sampailah Bram dan Elea masuk, disaat dua wanita acuh tadi kebingungan apa mereka niat beli atau bertanya tanya lagi.


Seisi kantor pemasaran tertegun. Sorot mata mereka penuh rasa takjub. Siapa sangka Bram ternyata sungguh membayar lunas kantor seluas 15 ribu meter seharga 51 miliar itu sekaligus!


Sebenarnya. Di kota Surabaya, tidak sedikit orang yang bisa membayar lunas sekaligus rumah seharga miliaran rupiah. Namun, mereka baru pertama kali melihat orang berpakaian biasa tak menampak bos elite, ditambah usianya yang masih sangat muda seperti Bram, ini dapat melakukannya.


Selain itu, yang paling menakjubkan adalah, Bram sama sekali tidak banyak omong. Dia hanya menanyakan harganya, lalu langsung menggesek kartu.


Kalau orang lain, setidaknya harus tanya-tanya dulu tentang kantor ini.


Sebelum menggesek kartu juga harus mendatangi lokasi rumah dulu untuk melihat-lihat.


Namun, Bram tidak melakukan satu pun dari kedua hal ini.


Tatapan seisi kantor pemasaran langsung berubah drastis. Beberapa pegawai wanita di sana seolah siap terjun ke dalam pelukan Bram. Saat ini barulah mereka tahu seperti apa anak konglomerat yang sesungguhnya.


Tentu saja, dua orang yang paling takjub saat ini adalah Tika dan Tiwi.

__ADS_1


Tika termenung sambil menatapi Bram dan kekasihnya yang tampak disampingnya. Dia sungguh tak habis pikir dengan orang yang asal di tariknya di jalan ternyata anak konglomerat. Dia pernah melihat satu wanita, menunjukan brosur dari kursi taman yang katanya ia tertarik dan mencari untuk seseorang, wanita itu bertanya detail sampai satu pekan membuat karyawan pemasaran lelah tak menanggapi, hingga ketus nya dia bilang datang saja kekantor jika ingin niat beli, dengan tidak serius ia berkata sangat mahal, apa ini untuk bos anda. Atau anda juga ingin mengambil keutungan menjualkannya, sebagai calo jual kantor elite.


Tika saat itu malu, kala pria bernama Bram jadi membeli, andai saja perlakuannya lebih baik lagi pada Elea wanita yang sering banyak tanya itu. Dari sinilah jelas, tampilan biasa saja terkadang anak konglomerat atau orang berpengaruh tak ingin menunjukan mereka kaya atau tajir.


Sebelum mendengar kata 'transaksi berhasil' dari mesin EDC, Tika sama sekali tidak berani percaya bahwa Bram sungguh mampu membeli kantor ini. Wanita itu terkesan banyak tanya, dan tak terlihat orang elite.


Sedangkan Tiwi, ekspresinya saat ini berubah drastis. Dia sungguh tak habis pikir akan apa yang telah di perbuatnya. Ekspresi takjub menghiasi parasnya yang elok itu. Tatapannya pada Bram, juga berubah. Saat wanita bernama Elea bicara dia kekasihnya, ingin melihat dan kalau cocok beli, tidak meyakinkan apalagi datang hanya dengan kaos polos biasa dan jeans terbilang murah.


Sekarang barulah dia mengerti. Bram yang di rendahkannya habis-habisan tadi, ternyata adalah anak konglomerat yang mungkin tidak akan pernah di gapainya seumur hidup.


"Uangnya seharusnya sudah masuk, 'kan?"


Tepat di saat ini, pertanyaan Bram, membuyarkan pikiran Tiwi, sambil menggenggam tangan Elea.


"Su. . .sudah masuk..."


Tiwi menjawab dengan gelagapan. Sekarang dia bahkan tidak berani menatap mata Bram. Dia terus memikirkan alasan untuk beranjak pergi agar bisa menenangkan diri.


"Tu. . . Tuan Bram saya. . . saya akan menyiapkan surat perjanjiannya sekarang juga," ucap Tiwi tergagap.


Mendengar ucapan Bram ini, Tiwi langsung membalikan badan dan pergi. Sedangkan Bram dia duduk di sofa sambil menunggu dengan tenang.


Orang-orang di sekelilingnya memandangnya dengan tatapan yang tidak biasa. Para pria menatapnya penuh rasa kagum dan iri, sedangkan para wanita menatapnya bagai mangsa empuk, sibuk berpikir bagaimana mereka menggaet anak konglomerat ini.


Hanya Tika, yang tampaknya belum bisa mencerna semua ini. Semua yang dilihatnya sekarang terasa seperti mimpi baginya.


Tak lama kemudian, Tika datang membawa surat perjanjian jual beli kantor sambil berjalan dengan anggun ke sisi Bram. Lalu, dia membungkuk dan berkata dengan suara manis pada Bram.


"Tuan Bram, saya sudah menyiapkan surat perjanjiannya. Anda hanya perlu tanda tangan di sini!"


Entah Tika sengaja atau tidak, kancing kemejanya kini terbuka satu lagi. Belahan di antara sepasang gundukan putih yang memikat itu kini tampak begitu jelas.


"Kapan kubilang aku membeli kantor ini untuk diriku sendiri? Apa kau merasa kantor ini pantas untukku?"

__ADS_1


Bram bertanya dengan tenang seraya tatapannya jatuh pada belahan, menoleh pada Elea dengan senyum seakan Elea tahu, kala dua wanita pemasaran kantor ini sedang terpikat tunangannya.


"Tuan Muda Bram, kantor ini memang kurang pantas untukmu. Apakah anda berniat memberikannya pada orang lain?" tanya Tika dengan nada bicara sedikit kebingungan.


Seisi kantor pemasaran tertegun mendengar ucapan Bram ini. Bagaimanapun, Bram sudah membayar lunas kantor itu. Kalau Bram tidak membeli kantor itu untuk dirinya sendiri, apa jangan-jangan dia ingin memberikannya pada orang lain?!


Mulai timbul perasaan iri dalam hati orang-orang. Siapa yang begitu beruntung, bisa-bisanya mendapatkan kantor senilai 51 miliar secara cuma-cuma?


"Tiwi, kemarilah!"


Tatapan pada saat ini, Bram memanggil salah satu pemasaran dengan berkata jelas.


"Kamu kan yang pertama kali memberikan beberapa denah letak kantor, dan meminta wanita yang banyak tanya itu datang membelinya lansung ke kantor pemasaran ini?"


"Be-benar Tuan. Maafkan saya, saya sempat acuh abaikan."


"Buatkanlah cepat, kantor ini akan aku berikan atas nama Elea."


Deuuugh!!


Elea tak percaya, ia pikir saat ia bercerita awal mula menemukan kantor ini sulit, tidak dipercaya dan dikira main main. Tapi Elea berjuang agar membantu Bram, sesuai misi system mencari lokasi kantor sedikit jauh dari kebun emasnya. Meski hinaan awal dua wanita pemasaran tak mengenakan pada Elea. Tapi Elea syok, saat Bram jadi membelinya dan membuat dua wanita disana diam tak berkutik.


"Kantor ini untuk istriku, dia yang akan berada disini setiap hari. Lagi pula, akan ada renovasi dengan tambahan ruang penelitian. Jadi setiap anda bertemu dengannya, jaga sikap dan panggil nyonya Bram!" ujar Bram saat itu.


"Ba-baik Tuan Bram." menunduk dan melanjutkan berkas hak kepemilikan.


Elea pikir Bram, akan bercanda. Jika saat ini ia yakin, Bram dapat menjaga hatinya dimanapun jika setiap bertemu wanita yang tampil lebih wah darinya, padahal tadi Elea sempat kesal saat Tika menunjukan surat pemasaran, dengan sengaja genit menunjukan hal tak baik membuka kancing kemejanya disengaja. Ingin Elea halangi, tapi sikap Bram sudah membuat Elea kagum.


"Ayo sayang! semua sudah selesai, tinggal pasang iklan rekrut karyawan." Bram, meraih tangan Elea lembut, tentu saja banyak mata yang iri.


Tbc.


Author Up satu bab. Sambil nyicil buat crazy up sehari 3bab. Panteng dukung terus Bram ya all.

__ADS_1


Klik iklan buat dukung Bram, selama 20 detik bentuk dukungan menyukai cerita ini.


__ADS_2