Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
PRIA SERAKAH


__ADS_3

Masalah dalam Proyek


"Apa tidak bisa menunggu kita pulang dulu?" Bram dan Kenan bergegas meninggalkan BI setelah mereka pamit.


"Tidak bisa, Tuan. Ini sangat darurat," sahut Kenan setelah menyerahkan Damar ke dalam gendongan Bram.


Terburu-buru, mereka bergegas menuju lokasi proyek yang sedang bermasalah.


Bram benci masalah, tapi rasanya. Masalah selalu saja mendatanginya, bahkan meski dia sudah diam saja.


"Kita ke S kontruksi, baru ke petani lahan timun emas!" titah Bram.


"Beberapa tukang bangunan di S Kontruksi mogok kerja karena gaji yang belum dibayarkan." Sambil mengemudi, Kenan mendiktekan apa-apa saja masalah yang sedang mereka hadapi.


"Loh. Dari kantor lancar kan? Kenapa setelah turun bisa tersendat?" Bram baru tahu mengenai hal itu.


"Sudah pernah saya singgung sebelumnya, Tuan. Jika di dalam kantor, banyak pengerat."


Masuk akal yang dikatakan oleh Kenan, jangan-jangan selama ini dia mendapat laporan palsu.


"Sepertinya kita harus merombak dan mengatur ulang dewan direksi Ken."


"Tidak semudah itu, Tuan. Mereka sudah puluhan tahun bersama S Konstruksi, seharusnya mereka solid. Tapi sayang, keserakahan membutakan mereka."


Bram sedang berpikir untuk merekrut orang-orangnya sendiri secara diam-diam. Supaya dia bisa siap, ketika harus menendang seluruh dewan direksi dari kursi jabatan mereka masing-masing.


Rasanya melelahkan, bekerjasama dengan orang-orang bermuka dua. Seolah perusahaan sangat membutuhkan mereka, sampai mereka lupa. Jika, ada jutaan manusia yang memiliki potensi lebih besar tengah menanti jabatan mereka.


Sampai di lokasi bangunan, Bram dibuat kesal. Mulai dari kerangka bangunan dan letaknya. Yang tidak sesuai dengan gambar yang sudah dibuat oleh arsitektur kepercayaan S Konstruksi.


"Apa-apaan ini Kenan?" Wajah Bram memerah karena marah, dia mencoba meraih kepercayaan semua orang dengan memberi kepercayaan pada mereka.


Tetapi, Bram merasa jika kepercayaannya diludahkan begitu saja.


"Tidak ada orang yang bisa anda percayai seratus persen, Tuan. Anda hanya harus percaya pada diri anda sendiri," gumam Kenan. Mendongak menatap puncak bangunan yang seolah bergerak saat ditiup angin. Itu akan sangat membahayakan jika roboh.


Bram berdecak geram hendak menghampiri sebelum dicegah oleh Kenan.


"Tunggu, Tuan."


"Apalagi!!"


"Anda harus memakai peralatan kemanan, " kata Kenan menyerahkan helm khas proyek.


Mengenakannya secara asal, Bram hampir saja terluka jika tidak segera menghindar, ketika di sambit tongkat besi oleh pekerja proyek.

__ADS_1


Semakin berang, Bram berteriak mencari mandor yang bertugas mengawasi dan mengelola uang gaji pekerja.


Kenan bimbang, apakah harus mendampingi tuannya atau mengawasi tuan kecilnya.


Membiarkan mobil menyala dengan aman, Kenan meninggalkan Damar yang terlelap di dalam mobil.


Bram yang sedang murka kewaspadaannya minus.


"Tenang, Tuan. Pekerja proyek itu orang kasar dan keras," bujuk Kenan supaya Bram tenang.


"Persetan Ken! Jika ada masalah harus ada yang mengatakan dengan pihak kantor! Bukan begini caranya!" Masih berteriak-teriak, Bram menantang seluruh pekerja proyek agar keluar.


Seorang pekerja dengan perawakan dua kali lebih besar, daripada Bram dan Kenan. Datang menghampiri dengan membawa cangkul di tangannya.


Kenan sendiri meringis ngeri dalam hatinya, sekali ayun, sudahlah hilang nyawa sekaligus kepala.


Bram tidak gentar, saat pekerja tersebut sudah dekat. Bram memilih duduk di tanah, tidak perduli dengan setelan jasnya yang mahal kotor oleh pasir dan tanah.


Kenan hampir menjatuhkan rahangnya, persis sama dengan pekerja yang menghampiri keduanya.


"Mari kita duduk," ajak Bram.


Mau tidak mau, pekerja tadi turut duduk mengikuti Bram. Kenan sendiri memilih berdiri, dia jijik jika sampai ada bunga pasir bertebaran di lokasi tersebut. Terlebih banyak kucing yang berkeliaran di sana.


"Bisa katakan kepada saya, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Bram kalem. Berbanding terbalik dengan polanya yang berteriak-teriak seperti tarsan hutan.


"Di mana mandor kalian?" Bram mengedarkan pandangan pada seluruh lokasi proyek. Dari semua orang yang terlihat, tidak ada tanda-tanda orang yang disebut mandor.


"Kami tidak tahu ke mana keparat itu pergi!" geram Prio.


"Lalu bagaimana bisa bangunan seperti itu? Kalaupun jadi, itu akan sangat membahayakan. Terlebih ini hunian untuk masyarakat kelas menengah ke bawah," tegur Bram mengingatkan.


"Kami mengerjakan sesuai dengan material yang ada, Pak."


Bagus, sekarang Bram benar-benar butuh perombakan besar-besaran di tubuh S Konstruksi.


"Hancurkan bangunan ini, kemudian bangun ulang sesuai dengan desain yang sudah kami berikan! akan saya kirim seluruh bahan terkuat" titah Bram.


"Dan lagi, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan. Jika sampai batang besi tadi mengenai saya, bukankah kalian akan mendapat masalah yang lebih besar? Padahal saya hanya ingin bertemu dengan mandor kalian," nasihat Bram.


Prio menunduk segan, dia yang mengkoordinasi teman-temannya agar membuat kerusuhan. Tidak perduli apakah itu mandor atau orang kantor yang datang, mereka sudah merantau berbekal nekat.


Jika tidak mendapat hasil, tentu mereka akan sedih apalagi orang rumah yang mengharapkan nafkah dari mereka.


"Maaf, Pak. Kami frustrasi, keluarga kami minta kiriman uang. Sedangkan kami belum mendapat bayaran," sungkan Prio.

__ADS_1


"Katakan berapa yang kalian butuhkan."


Prio kembali kepada teman-temannya, dia mengajak mereka diskusi bersama Bram perihal gaji yang belum dibayarkan.


"Tiga juta lima ratus perorang pak, kami semua ada 25 orang. Itu upah kami selama dua minggu, tidak mengapa seminggunya belum dibayarin juga."


"Ken, tolong urus! ambil card ini, berikan pada mereka satu persatu. Upah ini di luar gaji mereka yang belum dibayar. Kalian laksanakan tugas sesuai yang saya minta! Gaji kalian akan saya urus dari mandor kalian, anggap saja orang saya akan memberikan ini sebuah bonus. Masalah mandor kalian, akan saya urus." jelas Bram, membuat seluruh pekerja berkaca kaca dan berterimakasih.


Mandor yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang.


"Wah. Suatu kehormatan seorang CEO sementara S Konstruksi ke mari, Pak Bram Hartanto." Dengan angkuh, Wirawan Sambodo mendatangi Bram, yang masih berdiskusi dengan para pekerja proyek.


Seluruh pekerja proyek mengepalkan tangan dengan geram.


Berminggu-minggu mandor mereka tidak datang, begitu datang dia justru menawarkan keangkuhan.


Menepuk-nepuk bagian pakaiannya yang kotor, Bram tersenyum tenang menghadapi keangkuhan mandor proyek tersebut.


"Selamat datang, Pak Wirawan. Saya selaku perwakilan dari kantor, memohon maaf atas ketidaksopanan saya," ucap Bram.


Padahal dalam hatinya, Bram lebih suka memerintah para pekerja proyek mengeroyok mandor tersebut. Kemudian merobek mulutnya agar senyumnya lebih lebar lagi.


"Saya tersanjung sekali, Pak Bram. Tapi, ada apa gerangan anda sampai repot-repot ke mari?" tanya Wirawan tanpa rasa bersalah. Aktifitasnya bersama para wanita penghibur semalam, membuat moodnya sangat bagus.


"Hanya ingin melihat SK proyek yang katanya akan selesai dalam waktu singkat. Tapi ternyata, baru empat puluh persen, itu pun masih dalam keadaan ringkih. Anda mau jadi penghuni pertama jika bangunan ini jadi? Saya akan memesankan anda tempat yang paling tinggi dengan view yang paling bagus. Free," tawar Bram dengan senyum tipis.


Senyum jumawa Wirawan luntur, menatap kerangka bangunan yang bisa saja ambruk jika terkena gempa.


Siapa yang mau tinggal di sana sekalipun gratis?!


Apalagi, dia tahu sendiri tipe bahan bangunan apa yang digunakan untuk membangun gedung tersebut.


Bukankah bunuh diri jika dia mau tinggal di gedung itu?! batin Wirawan bergerutu.


"Kenapa? Setuju?" tanya Bram dengan polos.


Bram bukan orang yang sombong, dia akan memilih apa pun yang gratis selagi masih bisa digunakan. Kuliah di negeri tetangga, tinggal di asrama makan sehari tiga kali dengan bayaran prestasi selama kuliah.


Berat? Tentu saja, tapi apa pun akan Bram lakukan demi bisa hidup di negara orang. Asal tidak merugikan orang lain, Bram akan melakukannya.


"T-tapi a-anu--"


"Kenapa? Kenapa wajah anda berubah pucat Pak Wirawan?" Wajah Bram berubah kelam, menatap pria serakah didepannya itu.


Terlebih para pekerja berubah posisi di balik punggung Bram, membuat mata mandor bergidik ngeri.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2