Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENCARI DATA ALAMAT


__ADS_3

Arsen bocah itu mengangkat kepala, ingin tahu apa yang sedang Bram dan kepala sekolahnya itu bicarakan.


Mendelik masih memperhatikan, orang dewasa itu sedang berbisik. Hingga akhirnya, Bram selesai.


"Jadi begitu." Olive, mengelus dagunya, bukan hanya dagu, tapi kepala plontosnya juga.


"Jadi kalian ingin pergi dan tidak melaporkannya padaku? Andai saja aku tidak lewat, mungkin kalian sudah pergi tanpa adanya persiapan."


Sedikitpun dirinya tidak merasa kecewa, sebaliknya Olive, cukup senang karena Bram mulai memercayai orang lain.


"Maafkan saya, Pak. Tolong jangan hukum Arsen. Dia tidak bersalah," timpal Bram polos.


Mendapat pembelaan dari Bram, membuat Arsen memiliki sedikitnya rasa percaya diri untuk mengangkat kepalanya.


"Bapak jangan salahkan Kak Bram. Dia sudah memperingatkan aku untuk tidak pergi sebelum ini, tapi akunya yang memaksa. Bapak bisa menghukumku saja."


Bram dan Olive pun saling berpandangan. Keduanya menahan tawa masing-masing yang tidak disadari oleh Arsen.


"Kalau begitu hari ini, saya akan menghukum kamu karena sudah keluar dari kelas saat jam pelajaran!" tegas kepala sekolah, untuk hari ini berlakon layaknya seorang guru saat memarahi anak muridnya.


Arsen semakin menunduk. Putus sudah harapannya. Di waktu itu juga, Olive mendekat, lalu menepuk bahu Arsen.


"Hukumannya adalah, kamu harus menunjukkan pada jalan lokasi penjahat genk Merah berada."


Mendengar hukuman yang diberikan sama sekali tidak sulit, membuat Arsen, saat itu menatap dengan berbinar-binar.


"Ya, hukumannya adalah, kamu harus mengantar kami ke markas genk Merah itu."

__ADS_1


Olive, semakin mempertegas ucapannya. Arsen yang mendengarnya pun berjingkrak kegirangan.


"Tapi, sebelum kita pergi ke sana, terlebih dulu kita menyusun rencana sematang mungkin agar saat menyerang nanti tidak terjadi kesalahan," ungkapnya secara tidak langsung sedikit menyentil perasaan Bram.


Bram juga sudah berpikir ke arah sana, ia tidak mau sama seperti kehidupan pertamanya yang gagal menyerang seorang diri.


"Benar bukan, Kak Bram?"


Sang pemilik nama hanya cengengesan, menunjukkan deretan giginya yang putih, sambil menahan kekesalan juga.


"Ya," singkatnya tanpa panjang lebar.


"Yeey. Terima kasih Kak Bram, Kepala Sekolah."


"Kak Olive saja, jika di luar sekolah!" ralatnya mengarahkan sebagaimana seharusnya.


Penyergapan seperti apa, yang akan terjadi nanti?! Bram, mengarahkan ide untuk bocah itu melakukan siasat, sehingga mereka tidak salah langkah. Dan saat itu juga, Olive dan Bram menyergap mereka menyerangnya untuk yang terakhir kali, bagi Bram. Ia berharap aksi mereka melawan lancar, sehingga misinya cepat selesai.


***


Sementara Elea, ia berada di pusat rumah sakit Buana Center! Aksi mereka saling bersebrangan dengan mobil Bram dan Olive yang saat itu mengendarai. Padahal jendela mobil Bram kala itu setengah terbuka, sehingga time nya tidak tepat atau mungkin belum saatnya mereka bertemu.


Bram yang tadinya menatap arah jalan, ia menatap lurus lalu menutup jendela mobil untuk penjagaan. Sementara dari sebrang Elea menatap mobil suv mewah putih mirip milik kekasihnya itu, sehingga Elea semakin rindu. Ia berharap penantian panjang bertemu kekasihnya itu segera berakhir dari perpisahan yang panjang.


Tiba sudah di rumah sakit, Elea dan Kristal pun kala itu sampai. Ia menanyakan pasien dengan nama pengantar Bram Hartanto, hal itu Elea berikan sebuah lembaran mutasi debet black card.


"Mohon di cek lagi, tolong ya sus!" pinta Elea.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya bu!" balasnya.


Kristal mulai mengitari dengan mata auto fokus. Ia tak mencium aroma Bram yang diutus oleh utusan langit, level diatasnya. Kesimpulan Kristal adalah, Bram sudah tak ada di rumah sakit ini lagi. Tapi meski begitu, ia tak ingin mematahkan hati Elea yang sudah rindu berat dan mengatakan sesuatu pada Bram.


"Sudah pulang, kemarin sore! Pasien atas nama Arsen Khaimar. Dia sudah tidak dirawat disini lagi bu."


"Sus, ayolah. Cek lagi." penuh harap Elea.


"Maaf bu."


"Kalau gitu, boleh saya minta data Arsen Khaimarnya alamatnya. Please!"


"Tidak bisa bu, ini data perusahaan rumah sakit. Alamat tidak bisa sembarang, itu sudah melanggar kode etik kami di rumah sakit ini." jelas suster, mematahkan lagi lagi permintaan Elea.


Kristal yang langsung menyeret mata suster, seketika jentik jarinya di fokuskan ke mata suster. Dalam beberapa saat Elea dibuat kaget aksi Kristal.


"Kamu apakan dia ..?" bingung.


"Ayolah, dua puluh detik. Suster itu tidak akan kaku lagi seperti patung!"


Elea pun langsung menatap komputer, dengan beberapa detik ia memotret alamat pasien bernama Arsen Khaimar. Dengan senyuman bahagia, ia jelas sudah mengantongi alamat pasien itu, dan segera bertemu Bram.


"Kristal terimakasih." ujar Elea, ia sendu dengan raut wajah kebahagiaan.


"Sama sama. Ayo, sekarang kita ke alamatnya!" pinta Kristal.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2