
Damar masih mendiamkan Siren, hingga Siren pun berjalan, memesan taksi sehingga taksi telah tiba didepan mereka.
Siren melangkah ke arah taksi, namun dihentikan dan pintu taksi ditahan oleh Damar.
"Kamu ingin lari lagi dari kenyataan ini Sayang. Kamu telah salah memintaku, untuk menikah dengan seorang wanita licik, secepat ini pikiranmu?"
Damar pun menyuruh supir taksi untuk pergi, dan menarik Siren ke dalam mobilnya.
"Maaf ya pak, saya tidak jadi ini sebagai gantinya." ujar Siren menyodorkan satu lembar kepada supir taksi, karena tak ingin keributan di depan oranglain.
"Lalu aku harus bagaimana tuan Damar terhormat?" berdiri menatap tajam.
Kini Siren, menatap suaminya. Dan tatapan tajam mereka penuh dengan kesal benci, menyatu dengan cinta, hingga perbincangan mereka memanggil nama tak ada kata sayang.
"Aku tidak akan pernah menikahi Sena, jangan paksa aku, sekarang kita pulang ke apartemen, kita selesaikan!"
Damar pun menarik istrinya ke dalam mobil. Satu jam sudah berada di apartemen, mereka menjalani hari - hari dengan berselisih kata, keinginan Siren memintanya menikahi Sena, dan keinginan Damar yang tetap tak ingin menikahinya dan mencari bukti.
Meski hari - hari Siren melayani suaminya, dengan semestinya seorang istri. Namun Damar masih tak bisa menyentuh Siren, yang masih trauma akan video yang membayanginya setiap saat.
Hingga dua bulan berlalu mereka jalani aktifitas masing masing, hubungan rumah tangga mereka terancam hancur.
Hingga tiba, Sena datang ke apartemen, dimana Damar sedang sarapan bersama istrinya.
Ting.
Siren beranjak, saat bel berbunyi. Ia membuka pintu dan menatap Sena dengan pakaian kemeja blouse cream terusan, sehingga terlihat perutnya yang sedikit besar.
"Sena, silahkan masuk!"
Damar merasa kesal, karena Siren membiarkan wanita licik itu masuk ke wilayahnya, tidak tepat dan amat kesal.
"Untuk apa kamu datang kesini?" tatapan Damar tajam tak nyaman pada Sena.
Sena, hanya meminta dinikahi dan Damar bertanggung jawab, lama mereka berdebat membuat perut Siren sedikit sakit.
Ia pun mengambil dua botol obat suplemen kandungan. Obat itu sudah Siren simpan di wadah supplement imun, sehingga Damar masih tidak tahu jika Siren sudah hamil.
__ADS_1
Hingga, Siren pergi meninggalkan Damar dan mengambil tas nya meninggalkan perdebatan Damar dengan Sena.
Karena tak tahan akan sakitnya, ia mencoba menarik tangan Siren dan memeluknya diluar lift, sedang Sena masih diabaikan.
"Sayang .. Jika kamu ingin aku bertanggung jawab, aku akan menikahi Sena, tapi setelah bayi itu lahir aku akan menceraikannya. Aku mohon tetap lah seperti biasa, aku rindu keharmonisan kita, aku tak sanggup kehilangan di abaikanmu. Aku mencintaimu bersusah payah, aku memilikimu, ku mohon maafkan kesalahanku."
Siren menatap suaminya penuh tangis, ia ingin sekali berkata jika dirinya juga hamil, mungkin ketika tepat dihari ulang tahun Damar ia akan mengucapkannya.
"Hubby, .. aku akan memberikan lokasi, sudah lama kita tidak dinner, aku menunggumu, antarkan lah Sena pulang. Aku akan berangkat sendiri, selesaikanlah masalah kalian." tatapan Siren memohon meski Damar terpaksa.
Bahkan kali ini Siren masuk ke kamar bersiap siap.
***
Dalam pekerjaan yang penuh padat, di waktu luang jam siang Siren, ke butik Dady Bram, sambutan hangat pelukan papa mertua seolah menambah mood booster.
Terlebih kandungan Siren, yang nyaman tak mual. Ketika berada di samping mertuanya itu, seolah anak di kandungannya tahu permasalahan yang terjadi.
"Siren, kamu tahu kandungan Sena sudah jalan berapa bulan?" tanya Dady Bram.
Terkejut dan tersedak kala itu Siren,
Hingga menjelang sore mereka berbincang, Siren pun pamit.
Siren, datang ke acara teman karibnya. Sudah ada Mikha dan dua teman lain di dunia modeling. Mereka menyambut dengan hangat dan berbincang.
Acara tersebut, membuat Siren tidak konsen.
"Jika kamu tak konsen pulanglah!" teman Mikha, menatap penuh tanya, ketika Mikha berbisik untuk memaklumi iparnya itu.
Siren, menyadarkan dengan senyuman, semua meminum bersulang soda, hanya Siren yang meminum jus buah, hal itu membuat Mikha yakin, jika Siren menyembunyikan sesuatu.
"Damar, ga hadir Siren, atau jemput?" tanya Ikhsan.
"Dia, mungkin sedang sibuk sepertinya tidak akan datang, teman teman aku ke belakang dulu ya."
"Mau kemana Siren?" ujar Mikha.
__ADS_1
"Toilet, apa mau ikut?" mereka pun tersenyum, Mikha meminta Siren berhati hati meski mendapat penolakan ketika Mikha ingin mengantarnya.
Setengah jam berlalu, Siren menatap di ujung balkon rest area. Ia melihat kerlap kerlip pemandangan dan menghirup udara. Dengan tangan diselipkan di kantong kiri, ia pun memegang hati dengan telapak tangannya.
Hatinya sedang sakit dan hancur, Siren pun sesekali memegang perutnya yang amat sakit. Lemas dia duduk sulit berdiri tegap.
"Sayang, tetaplah baik baik momy akan melindungi mu, maafkan momy yang menangis membuatmu terganggu."
Namun saat berjalan di meja pertemuan, Siren ambruk dan tubuhnya merosot tak sadarkan diri. Hal itu membuat Mikha dan teman lainnya membawa Siren ke rumah sakit, tak lupa Mikha menelepon Damar.
Tiba Di Rumah Sakit.
Tak lama Damar datang, dan memeluk istrinya.
"Apa yang sakit sayang? maaf aku terlambat hadir ke acara kalian." lirih Damar.
"Hubby, aku tidak apa apa. Sudah mengantar Sena?"
"Jangan bahas itu, aku mengkhawatirkan kamu sayang, mengapa kamu mengkhawatirkan orang lain?"
"Bukankah, kandungan Sena terlihat besar, mengapa kamu tidak khawatir hubby?"
Damar, menghela nafas panjang rasanya kesal jika membahas Sena.
"Sayang, aku tidak tahu apakah itu benar benar anak ku, di video itu ada yang aneh saat aku meminta rekaman cctv. Alasannya terhapus karena sistem eror. Sena bilang kandungannya masuk 7 minggu, tapi terlihat aneh ketika melihatnya seperti sudah empat bulan. Tetaplah di sisiku sayang, aku hampa dengan sikap mu yang dingin. Percayalah pada suamimu ini!"
Siren pun tersadar menatap suaminya. Ia yang hamil memasuki kandungan lima minggu saja, masih tak terlihat. Dan jika usia kandungan Sena sudah besar .. Artinya."
"Apa, kamu melakukannya lebih dari sekali hubby. Sebelum kejadian itu kamu pernah dengannya?"
Siren pun menangis kembali.
"Sayang, bicara apa kamu ini, sudahlah jangan bahas lagi, aku tidak pernah melakukan itu pada wanita lain. Kejadian itu aku salah, tapi aku yakin semua ini rekayasa Sena."
Siren menatap mata kejujuran Damar, apa ia salah mendengar, dan dari Mikha, jika Sena begitu licik. Hingga perkataan itu membuatnya diam seolah bingung, siapa yang harus ia percayai.
Tapi jika di putar balik, tidak ada yang tak mungkin. Putra pewaris bisnis dengan banyaknya segudang kekayaan, papa mertuanya yang terkenal nomor satu, bahkan sistem perusahaan memiliki lain dari perusahaan yang pernah Siren lihat dan pernah bekerja. Perusahaan mertuanya itu, Seperti sebuah sistem yang mencari uang, apalagi sistem menembus bertemu orang mati yang tak masuk akal, hal itu membuat Siren ketakutan jika suaminya benar benar romantis di depannya, tapi diluar sana banyak cadangan.
__ADS_1
'Jika pria banyak uang, apakah ia masih tetap mengelak tak melakukan, jika sebuah video tampil dirinya dengan wanita itu?' benak Siren masih bingung untuk mengambil keputusan apa ia harus berpisah.
TBC.