Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
KARYAWAN BARU


__ADS_3

Kedatangan Mikha dan Hari Hartanto, membuat acara mereka yang sedang Ghibah terdiam, berharap bos mereka tidak mendengar saat mereka sedang berbicara seperti wanita.


Eheum.


"Kenapa agak kaku, kalian sedang ghibah di area kantor ini, kalian tahu peraturan apa disini?"


"Ah! Kami berdua sedang diskusi naik tahta. Iya kan, Er." senggol Ryo.


"Tidak bos, maaf! Ini hasil data yang diminta." datar Eri, yang saat itu Ryo menertawakan setelah pamit dari balik pintu.


"Ya sudah, kalian kerjalah kembali! jangan sampai data perusahan Sun System kembali di hack."


"Baik bos."


Hingga beberapa saat, Mikha hampir enam jam menemani suaminya bekerja. Setelah itu mereka bersiap pulang ke rumah. Dimana saat itu Mikha mencoba membuat sang suami mengecek berkas, hingga menatap beberapa kandidat rekrut karyawan baru.


Di Rumah.


Semua terlihat happy dan bahagia. Tak menapik beberapa jam lalu mereka menghabiskan waktu dengan menyatukan raga dan jiwa.


Sementara Hari, kini telah asyik dengan memainkan remot untuk menonton acara. Dan si ceriwis Mikha masih tetap dengan hobi ngemilnya yang bisa dibilang keterlaluan. Mikha setiap hari, dan semakin hari semakin bertambah berat, ketika ia sedang hamil drastis menjadi gemoy, yang kadang membuat Hari, mempunyai mainan bentuk candaan.


"Ya ampun sayang. Kamu belum kenyang juga setelah sarapan tadi?"


"Mas, itu bukan sarapan. Tapi kamu membuat aku lemas, dan kamu sengaja membuat aku tak berdaya. Apalagi di saat tubuhku semakin terlihat melar." sebal Mikha.


"Hahaha, sayang maafkan semuanya karena mas. Beberapa bulan lagi, rumah kita akan penuh dengan tangisannya." membelai perut Mikha.


"Mas, tapi berat badanku drastis loh. Sampai 76 kg dari ideal aku yang 48 kg. Bagaimana jika aku tidak kembali."


"So sweet, itu tandanya kamu bahagia hidup dengan mas. Jangan jadikan beban ya sayang!"


"Iya mas, aku benar bahagia jadinya." balas Mikha.


Mikha pun tidak menjawab, dia hanya tertawa kecil seraya memasukan beberapa potong keripik kentang ke mulut kecilnya.


Mikha hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Hari, ketika berada di mansion. Beruntung kendati ia hobi makan, badan tidak terlalu gemuk parah. Bobot tubuhnya hanya bertambah puluhan.


Lalu tak terasa mereka terkejut akan sebuah berita, membuat Hari, ikut duduk melihat dengan memiringkan senyuman.

__ADS_1


BERITA PAGI INI, TRENDING BEBERAPA JAM LALU.


PERUSAHAAN "Dan Corporation" DENGAN PIMPINAN Ir. Dani Suningrat TERANCAM BANGKRUT!!


Hal itu membuat Mikha yang minum, sedikit tersendat. Hari melirik yang perhatian, segera membantu istrinya yang tersedak meminta istrinya hati hati dan tak lupa Hari, menuangkan air mineral lagi.


Mikha meletakkan remot, ketika bibi di rumah memanggilnya. Ya, saat ini Mikha dan Hari tinggal di rumah khusus milik tuan Bram. Dan kebetulan tak jauh dengan lokasi perumahan Osin sebagai aset kantor.


"Nyonya, ada tamu yang mencari dan sudah menunggu diruang tamu!"


"Baiklah, terimakasih. Biarkan dia menunggu sebentar ya bi, saya akan berganti baju!" pembantu itu pun pergi dan pamit


"Mas, aku lihat dulu ya!" bisik Mikha.


"Ya sayang, mas akan menyusul. Jaga hati!"


"Mas,?" menatap sendu, Mikha terkejut kala ia ingin bangun. Hari malah menahan dan memeluknya lagi.


Sluuurrph!! Sayang mas masih menginginkannya. Tunggulah sebentar, jangan mengabaikan mas!! bisik manja Hari.


"Mas, tunggulah. Kita tidak baik membiarkan tamu terlalu lama, Ayo mas bergegas cuci wajah!"


Asisten pun menoleh, ke arah tangga juga Mikha terkejut dan menatap diam berdiri karena kaget pria yang ia lihat.


"Siapa ya dia?" benak Mikha.


Ia terkejut dan menatap, Hari yang menyusul berjalan memeluknya dari belakang. Mikha saat ini pun duduk di samping istrinya dan tersenyum. Karena saat ini, Hari sudah tak mengenakan kursi roda lagi, tidak kesulitan berjalan.


Di mana pria itu terlihat panas dingin, menatap pemilik rumah bernama Mikha. Karena baru kali ini melihat bos muda mengenakan piyama tidur seksi sekali, meski piyama itu panjang tapi baju kerah sedikit menonjol terbuka, walau dalam keadaan hamil.


"Siapa ya?" tanya Mikha, mempersilahkan duduk.


"Kenalkan saya Deni. Pak, Bu bos."


"Duduklah. Apa kamu mengenal saya?" tanya Hari menaikan alis, karena ia merasa tak kenal.


Ia saya mengenal tuan bos, saya adik kelas sekolah favorite keadilan paripurna. Tapi tidak setenar tuan pak bos.


"Oh, kamu alumni disana ya?" Mikha memegang erat tangan mas Hari.

__ADS_1


"Aah, apa kau orang suruhan dari Eri?"


"Ya pak bos, benar sekali." senyum ramah menunduk.


Hari pun bicara pada Mikha. Ia lupa, jika tadi meminta Eri untuk mengirim salah satu karyawan pria. Untuk mengirim beberapa dokumen ke Sun System pusat di eropa, menemui Damar dengan Eri, maka syaratnya adalah harus di acc Hari terlebih dahulu.


"Nah, kebetulan sekali. Kamu besok datang dan mulailah kemari setiap pukul dua siang ya. Setelah beres dari kantor!" titahnya.


Hari tak lupa mengambil benda tipis dari sakunya. Dan memencet tombol itu dengan nama Eri. Setelah tersambung, Mikha mendengarkan beberapa pembicaraan suaminya.


"Bisa saya lihat cv nya?" tanya Mikha menarik map merah.


Lalu setelah Hari selesai menghubungi, ia bicara pada suaminya dan memperlihatkan cv dengan nama Deni, keponakan dari Eri.


"Sifatnya ini sementara, jika telah selesai, akan di pindahkan ke yang lain. Bagaimana jika setuju mulai besok?"


"Owh, benarkah. Baik pak." Deni mengangguk.


Dua jam berlalu. Mikha pun di ukur seluruh tubuh untuk sebuah gaun yang telah dipesan. Begitupun Deni yang mencatat.


Sementara tugasnya mengukur ada desainer yang mengukur tubuh Hari dan Mikha, karena tugas barunya yaitu mencatat dan mengirim file ke Eri dengan manual mengantar dokumen. Bisa di bilang asisten pribadi bagi Eri, bagian khusus.


Tak lama, sesaat Yoa sang desainer mengukur panjang ukuran tangan dan lingkar bahu Mikha, untuk gaun acara 7 bulanan. Deni membantu mencatat dengan banyak, jika ia mempunyai teman yang sprofesi. Dan ia membutuhkan pekerjaan tambahan baru bernama Lena Marliana.


Mikha pun teringat akan sesuatu. Lalu menatap mas Hari. Ada rasa sakit, ketika berbicara nama yang mirip dengan nama Lena. Entah apa, yang jelas ia tak menyukai nama itu sehingga mencoba menghiraukan.


"Sayang, kenapa diam? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Hari, memeluk dari belakang.


Hari pun mengajak sang istri ke kamar, setelah dua orang tamu telah pamit dan pergi.


Hey, rupanya ibu hamil akan selalu berubah mood ya. Sayang kenapa diam?! senyum kilat mengecup pada Mikha setelah sang karyawan baru dan asisten designer pulang.


"Mas, sudahlah. Aku jadi lesu kala mengingat nama Lena."


"Lena .. maksudmu?" Hari mengerenyitkan satu alis dan membuang wajah. Serta menarik nafasnya, yang kala itu tahu sang istri cemburu dengan mantan istrinya yang telah ia talak.


Tbc.


Satu Bab Lagi Di tunggu Ya! Semoga Cepat Lolos Review.

__ADS_1


__ADS_2