Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MENCOBA MANIS


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, setelah mendapat informasi. Mikha mendapati suaminya pergi lagi, dimana ia di temani Osin untuk menjaga sampai ia kembali.


Hingga di luar, Hari mengepal kedua tangan, ia meremas dengan rahang yang sedikit keras. Matanya telah tertuju pada seorang yang ingin ia hancurkan. Entah titik kelemahan, setiap tahu dia pelakunya. Semua masalah, begitu saja tertutup tanpa apapun.


BRUUUGH.


Pukulan mendarat membuat Lei sang sepupu menjadi gemetar. Kala melihat Dani di pukul.


"Paman. Kita bicarakan baik - baik, jangan seperti ini!" Lei berusaha melerai.


"Siiiiaa-lan. Lo pukul gue apa alasannya?!" teriak Dani berdiri kembali.


Lalu meneriaki sahabatnya Lie. "Lo boongin gue, maksudnya apa. Kita ketemu tapi bawa pria tua ini!" menatap kesal, dengan menunjuk Hari.


Eri dan dua pengawal ingin melerai, pasalnya ia tidak ingin. Pak Hari mengalami luka, demi wanita. Ia berusaha membuat perhitungan, meski Eri melerai dua bodyguardnya. Mereka saling berjaga dan melingkar. Seolah tatapan Hari dan Dani saling berhadapan. Sementara Lei anak muda yang menjalani bisnis terbilang awal. Ia hanya memegang kepalanya karena penat.


Hingga beberapa jam. Hari dan Dani masih saling menatap dan saling menepis. Dani tetap bersikukuh tidak pernah datang ketempat itu, apalagi ia bertemu Mikha, karena dirinya sering menghindar.


"Gue bilang. Gue ga ada hubungannya dengan terjadinya Mikha, paham lo. Gue emang cinta dia, tapi soal kejadian itu gue juga baru tahu." teriak Dani.


"Mana ada maling ngaku. Model pria brengsek kaya loe! harus di beri pelajaran!"


Hari menarik kembali jas kerah namun menahan untuk memukul.


"Lepas Bung. Jangan bikin gue gak sopan. Gue tahu kita masih satu keluarga, tapi lo itu adik tiri Bram cuma asuhan jangan belaga, lo ga kuat paham. Apa alasannya lo berlaku gila, cuma demi Mikha? Dia wanita malang bukan?"


"Berani lo bilang sebutan kaya tadi. Gue gak segan buat hancurin semuanya hingga ada di nol. Dan pastiin lo tamat hancur tak bersisa."

__ADS_1


Hahahaha!! Seriuskah? Coba aja. Lagi pula, sia - sia. "Udah ada buktinya bung?" ungkap Dani menertawakan Hari, hingga mengelilingi tubuhnya.


Hari menderu nafas. Ia berharap, menemukan titik di mana dirinya akan hancurkan Dani sampai berada di titik bawah.


"Gue pastiin bakal bikin lo hancur! Satu hal, lo berani sentuh dan nemuin Mikha. Gue orang yang maju buat bunuh lo. Dani!" ketus Hari.


Hingga di mana, ia pergi ketika Eri mempersilahkannya. Lalu dengan kilat melewati sang pemilik club baru dengan wajah kebingungan. Panas dingin, ia menatap ruangan vvip sudah hancur lebur.


BRAAAGH. ERI MELETAK KAN SEGEPOK UANG DAN KARTU NAMA.


"Ini ganti rugi hari ini, jika kurang hubungi!" Eri mengetuk ketuk kartu nama di atas uang yang berwarna dengan senyum miring.


***


Rumah Sakit.


Mikha yang telah membaik. Ia ingin sekali pulang, hingga di mana. Dokter mengecek keseluruhan kondisi Mikha kala itu. Osin yang menemani cukup senang, ia happy pasalnya Mikha telah membaik.


"Thanks ya Osin. Gue aja yang ga sabar, harusnya tunggu mas Hari." senyum Mikha, karena ia sudah tahu siapa yang datang. Jika mereka berdua, bicara mereka pun sedikit formal.


Eheeeuuum. Suara deheuman, dan tatapan serak maskulin datang. Aura sedikit pekat membuat Osin bergidik ngeri dan horor.


"Kalau ga ada Osin mungkin, tapi saya akan ada dan menjadi sayap pelindung kamu. Mikha sayang." senyum Hari dan duduk menatap Mikha begitu saja.


'Astaaagaa. Gue berasa jadi nyamuk goreng sekarang. Meski auranya horor, kalau udah di depan Mikha, kenapa bos jadi kaya hello kitty ya ni ruangan.' batin Osin.


Osin pun saat itu juga pamit, setelah Mikha ada yang menjaga. Menyisakan tatapan dua orang yang saling memandang.

__ADS_1


"Mas bantu ya?!" Mikha pun mengangguk.


Tepat tiga hari, Mikha akan pulang. Kesehatannya semakin normal. Setelah Hari mengemas barang Mikha, ia menggendong Mikha ke kursi roda. Hingga di mana, Mikha cukup terkejut dan malu.


'Kenapa aku nyaman. Perlakuan baik mas Hari. Membuat aku rindu, rindu jika perlakuan ini adalah sikap mas Hari. Tapi sayang .. itu tidak mungkin terjadi. Tapi, aku tahu dia adalah .. namun aku terus berusaha memberi kesempatan untuk tidak menyamaratakan. Tapi, jika aku tetap saja mandul, apakah mas Hari akan meninggalkan aku juga? Jujur aku wanita yang banyak kekurangan.' batin Mikha.


Hari pun mendorong kursi roda, meminggirkan roda itu depan meja kasir, lalu meraih Mikha dengan sendiri. Gaya gentle, dan semua para suster sungguh terkejut. Akan pria yang bermantel kerah coklat. Dan celana jeans yang benar benar harum mewangi ketika melewatinya. Kebersamaan Hari dan Mikha, mungkin jembatan Hari agar mendapat mongmongan, dan percaya diri akan usianya yang terpalang jauh dengan istri keduanya, di pernikahan keduanya ini.


Hingga di mana tatapan Mikha cukup risih dan menoleh ke atas rambutnya. Ia menoleh wajah Hari yang maskulin dan terlihat gagah.


"Mas. Kamu bikin semua suster terpesona tuh. Seneng ya?"


"Heuuumph .. apa sayang?"


"Kamu jadi perhatian para suster." bisik kembali.


"Coba katakan lagi. Aku ga denger!" senyum goda.


"Mas. Kamu ih ... , bikin aku malu deh. Ya udah kalau ga mau jawab juga." nada kesal Mikha, wajahnya ia sumputkan kala dibelakangnya Eri membawa tas dan barang barang Mikha.


Sementara Hari, malah membawanya bukan dengan kursi roda, melainkan ala bride style di rumah sakit menuju loby.


Setelah di dalam mobil, Mikha terpana kala suaminya itu ikut masuk. Ia menatap bidang tubuh yang tebal sekitar lima centi, perban dengan sedikit noda merah dibagian depan bidak lebar itu.


"Mas, boleh aku lihat! Kamu kenapa..?!" terhenti tangan Mikha, saat tangannya ingin meraih kemeja miring terlihat perban, tapi ditepis tahan oleh tangan Hari, Cukup senyum dan ia merapihkan kemejanya yang hampir miring.


"Kau lihat apa Eri? Cepatlah jalan!" serak tajam mata bagai pisau, kala Hari menoleh. Terlihat asistennya menatap ke uwuwan mereka berdua.

__ADS_1


Dimana Mikha juga ikut senyum menggelitik, mungkin inilah yang di rasakan Siren di perhatikan Damar. Atau hanya karena Mikha saja yang tidak mengenal jauh Hari Hartanto. Atau bisakah usia suaminya ini, terlihat minder sehingga jarang bersamanya?! benak Mikha melamun.


Tbc.


__ADS_2