
Bram pulang dengan selamat, bagusnya Elea bisa menyetir kendaraan mobil mewahnya. Hal itu membuat Bram bahagia, karena ia mendapati suport dari kekasihnya itu.
"Benarkah semalam kamu baik baik saja, tidak ada masalah serius kan Bram?" khawatir Elea.
"Yah! Tidak ada masalah .. bagaimana dengan penelitianmu, sudah berkembang ..?"
"Sejauh ini, akses semakin sulit. Tidak ada dokter yang berani menyinggung, bahkan profesorku sekalipun aku ceritakan, mereka tidak peduli." jelas Elea dengan raut sedih.
"Tidak masalah, kita pasti akan menindaknya dengan tegas, bersabarlah El!" senyum Bram.
Bahkan Bram, ingat bukan tanpa alasan, di BAR, yang ia kunjungi saudara kembar bawahnya hampir menetes, karena ia pria normal tentunya. Bram pun menceritakan, jika ia ingin ke sebuah bank saat ini, ingin menarik sejumlah uang besar untuk bibit di desa sengketa menjalankan misinya. Mengingat Kristal bilang, persediaan kas menipis tidak cukup untuk membayar gaji petani saat ini.
Tentu Elea mendukungnya, dengan kecepatan kegilaan. Bram, tidak sangka Elea bisa ngebut dan mengetahui lebih dulu siapa mobil dibelakangnya itu, seolah mengikuti.
"Eratkan talimu Bram! Aku akan menginjak pedal dengan gas poll.. " senyum Elea melirik Bram.
"Wah, setelah bicara begitu. Kamu terlihat mafia cantik El. Yang menyelamatkan aku tawananmu."
Hahahaha! Tawa renyah mereka di dalam mobil.
Beberapa Jam Kemudian.
Elea dan Bram baru saja berjalan mau maju masuk ke dalam Bank, dan saat itu kedua Sekuritinya menghalangi keduanya.
“Maaf, tahan dulu. Ada apa mau masuk, ini bukan tempat sembarangan,” ujar kedua Sekuriti itu sambil melihat Bram yang berpenampilan kotor, lusuh.
Bram memang tak membawa baju ganti, sehingga Elea merasa terkejut akan sikap orang lain pada kekasihnya itu, ia juga memakai kaos Bram karena mereka menikmati bermain di tepi pantai saat itu. Andai dia tahu Bram mau ajak ke bank, atau pulang dulu mungkin akan dandan bersiap. Tapi Bram menolak, andai mereka tahu siapa kekasihnya itu, mungkin tidak semena mena sampai membatasi melihat Bram, bagai orang jijik saat mengunjungi bank.
__ADS_1
Para pengunjung yang lain pun yang sedang duduk di bangku memandang kepada keduanya bergiliran. Memang yang perempuan itu cantik tapi penampilannya sederhana sekali, tetapi yang laki-lakinya yang berpenampilan sangat kotor meskipun terlihat sebenarnya ganteng.
“Saya mau memeriksa kartu saya, setelah itu mau menarik uangnya kalau ada.” jelas Bram.
“Mana kartunya? Saya lihat dulu!" kata sekuriti itu. Dia curiga Bram, hanya beralasan untuk masuk ke dalam.
Mendengar hal itu, Bram mengambil kartunya dari dompet sehingga terlihat dompetnya memang isinya sedikit dan dia menyerahkan kartunya lalu satpam itu membawanya ke teller Bank untuk di lihat oleh tellernya.
“Mau apa?” tanya seorang pengunjung wanita sambil menatap keduanya dengan sinis. Dia mengenakan rok pendek sehingga pahanya terlihat jelas putih pucat. Penuh urat dan terlihat sama sekali tidak menarik.
“Mau melihat kartu Bu,” sahutnya.
“Usir mereka pak Sekuriti, jangan membiarkannya keduanya masuk. Baunya itu bisa membuat kita sakit semua,” seru mereka kompak sambil di antaranya memijit hidung jijik.
Hal itu membuat satu teller meminta satpam mengusir, tak terkecuali teller berhijab melerai dan sopan pada Bram saat itu.
Mendengar itu sekuriti yang tinggal satu orang itu mau mengusir mereka, “Keluar,” katanya pada Bram dan Elea.
“Kartu apa?’
“Itu, kartuku tadi. Jika tidak ada isinya juga tidak apa-apa, tetapi kembalikan kartuku,” ujar Bram sambil menahan tubuhnya yang di dorong-dorong oleh Sekuriti Bank itu.
Terlihat Teller mengatakan itu atm kosong, karena sempat di cek tak masuk ke mesinnya tidak terdetek.
Karena Dia ingin menjadikan kartu itu sebagai kenang-kenangan, karena kartu itulah keduanya sampai di hina seperti sampah seperti ini.
“Sebentar… sebentar …,” seru sekuriti yang satunya lagi sambil menuju kepada keduanya dengan membawa kartu itu.
__ADS_1
“Kartu ini tidak bisa di buka, mungkin memang tidak ada isinya,” katanya sambil menyerahkan kartu itu kepada Bram.
Keduanya kebetulan berdiri di dekat tangga naik, sehingga seorang wanita dengan sepatu hak tinggi dan tubuh ramping sedang turun ke bawah dengan teller hijab seolah memberitahu pasal keributan di lantai bawah.
Ketika mereka melihatnya, kedua satpam itu menundukkan kepala memberi hormat.
“Bu,” ujar keduanya.
“Ada apa ini? Saya lihat tadi ribut-ribut di sini?” seru orang yang di panggil ibu itu.
Sebenarnya dia adalah seorang Direktur Utama dari Bank itu, hanya di bawah para pemegang saham kedudukannya. Dia tertarik karena kalau tidak salah lihat, adalah mereka meributkan kartu yang di pegang oleh anak muda itu tadi.
Itu adalah kartu Premium Diamond milik Bank tempatnya bekerja, yang hanya di miliki oleh sepuluh orang saja di Indonesia, sehingga dia tidak akan salah. Isinya minimal seratus triliun rupiah, itu mengapa jarang orang yang punya.
Meskipun punya uang sebanyak itu, belum tentu orang mau membuatkan kartu dengan kartu ATM, orang lebih mau mendepositokan uangnya karena pasti aman atau untuk investasi di Reksadana, Obligasi, Saham, Emas dan P2P Landing.
“Dia memiliki kartu palsu, Bu. Kartu Bank kita, tadi tidak bisa di buka oleh Teller,” jelas Sekuriti itu.
“Palsu?” Tanya ibu Direktur utama itu.
“Coba saya lihat?” melirik Bram.
Bram lalu mengambil lagi kartu itu dari dompetnya dan menyerahkannya. Direktur Utama itu memperhatikannya beberapa lama,
“Tidak … ini asli.”
“Kok asli, Bu? Tadi pihak Teller telah membukanya, mereka tidak bisa membukanya. Makanya dibilang palsu,” sahut sekuriti itu bingung.
__ADS_1
“Kalian tidak akan bisa membukanya, karena kartu ini mempunyai akses khusus. Hanya Direktur Utama yang bisa membukanya,” sahut direktur itu, seketika membuat semua orang bungkam.
Tbc.