
Beberapa masalah percobaan selesai, Damar pun ke kampus seperti biasanya. Dekan meminta Damar mencari seseorang yang berani mencuri data kampus, saat bersamaan Siren datang, Damar segera mengajak Siren juga
"Damar, kenapa papamu ada dirumah. Jika begini kita harus tinggal satu kamar dong? bagaimana jika mereka lihat aku disini?"
"Benar itu, tapi tidak sudi juga aku satu ranjang tidur denganmu, lagi pula kan dady tidak akan ke kamar ini, apa kamu pikir aku ajak kamu kemari, karena sesuatu pada umumnya. Aku di kasur, kamu di sofa kita sama sama melihat monitor ini kan, bukan hal yang lain."
"Dasar pria aneh, kau harusnya yang di sofa!" sebal Siren yang melihat Damar terus saja menggoda dengan ejekannya itu, setelah mereka kembali dari markas pengap dan gelap, ruangan buatan paman Alex menjadi kamar rahasia Damar.
Nyatanya mereka tidak mendapatkan apapun kecurigaan peretas di kampus, membuat Damar mengajak Siren ke rumahnya dan menekuni beberapa alat yang ingin ditunjukan pada Siren saat ini. Hanya saja setiap ia menaikan telunjuk, ada banyak tenaga yang terkuras saat memegang tombol capsul.
"Siren, jangan natapku seperti itu. Aku bisa gugup!"
"Damar, apa janjimu, apa kau mau menikah dengan wanita lain atau tetap meminangku?"
"Enggak. Kalau bukan karena bakti orangtua. Tetaplah menungguku sedikit lagi, aku janji padamu!" cetus Damar senyum.
"Lalu apa wajahku, benarkah kupingku lancip mirip kancil? karena keturunan kakek Tjandra yang sering dianggap licik, tidak pantas mendampingi mu?" Siren menjelaskan sambil melengking.
"Benar sangat cantik, tapi namanya aja sih. Tetap saja aku percaya padamu, kamu tidak akan pernah berkhianat. Setelah alat dari paman Alex sempurna, aku akan buktikan pada dady dan bicara akan melamar mu."
"Damar kau menjengkelkan."
Makin jengkel Siren mendengar celetukan Damar, yang menyulutnya tetap fokus bicara serius tapi matanya masih menatap komputer di depannya.
__ADS_1
Setelah berhasil Siren menemani Damar, di ruangan rahasia kamar Damar. Siren begitu takjub mendapati seisi kehidupan Damar yang tidak biasa. Bahkan ada jadwal tertentu jika Siren ingin mengunjungi ibunya. Ia hanya bisa berkunjung setiap senin dan jumat pada pukul 6 sore hingga pukul dua belas. Bagai kisah cinderella yang dihidupkan pada saat tertentu saja.
"Aku sudah selesai! selebihnya kita akan berikan perhitungan. Aku juga sudah kirim surel pada paman Alex untuk melanjutkan. Sekarang aku antar kamu pulang ya!"
"Heemph! baiklah. Lewat pintu capsul itu lagi?"
"Ya? aneh bukan, ajaib seperti pintu doraemon." bisik Damar gemas mencubit pipi Siren, yang saat itu Damar mengantarnya pulang.
Setelah Sampai Rumah Siren.
Siren nampak kesal, pertemuannya dengan Damar seolah sekejap saja. Padahal menunggu bertemu Damar tidak lah setiap hari, bahkan kali ini Damar hanya mengantar di depan pagar, dan berusaha masuk ingin menyapa, setau Damar keluarga Tjandra tidaklah sering berada di rumah ini.
"Nona Siren, berhati hatilah berjalan! lantainya licin." tukang kebun mencoba menenangkan, saat yang bersamaan, ibu Lora datang, juga merasa makin tak nyaman memperhatikan temperamen Siren yang sering ambekan. Lora sendiri adalah pengasuh sejak Siren bayi, yang dianggap seperti ibu, bahkan ia tahu jika Damar itu pria yang baik.
"Siren kamu datang datang kok aneh sih, terus kamu lama sekali sih. Mama udah tunggu loh, kenapa sih kamu jadi sering uring uringan." cetusnya.
"Bibi Lora!" hormat Damar menyapa.
"Damar kamu ada disini, ada apa dengan Siren, kamu habis antar Siren pulang?"
"Bukan apa apa, mungkin hanya ingin kawin saja." tawa Damar masuk, hingga lupa akan perkataannya tadi.
"Apa?"
__ADS_1
"Bukan begitu bibi, maksudnya kucingnya kesepian. Siren berusaha mencari kucing jantan, tapi kucing Siren mengamuk. Damar hanya memastikan mood Siren akan baik baik saja sampai rumah. Damar titip Siren ya bi! Damar pamit."
"Oh ok, baiklah terimakasih ya Damar."
***
Setelah beberapa saat mengantar Siren pulang. Damar terlihat mendapat telepon dari paman Alex untuk menemui Bram, jika ia kini berada di pusara Elea, yakni ibunya. Damar di minta cepat menuju lokasi, menolak permintaan Siren yang datang ke rumahnya dan berlama lama di kamarnya, seolah Siren masih penasaran dengan apa yang ia lihat tadi di kamar. Damar membuatnya takjub. Tapi karena Damar menjelaskan ia harus pergi, maka Siren ngambek dan jalan begitu cepat. Membuat Damar tersenyum saja, kala ia memastikan mood Siren akan kembali baik.
"Dady, maaf Damar terlambat."
"Bisakah kamu tidak memikirkan cinta dulu Damar! cinta membuat kamu tidak fokus. Tekuni saja dirimu dengan alat yang sedang dikembangkan bersama Alex."
"Iya dady. Maafkan Damar! tapi Damar janji, tidak akan mengabaikan perusahaan perkembangan yang sedang dikembangkan saat ini, dan seterusnya."
"Dady, bisakah dady ceritakan tentang kakek Tjandra, Damar ingin Dady tidak sangkut pautkan masalah hubungan Siren dan Damar. Please!"
Mengawasi tiap pergerakan pasar saham, Bram tertarik dengan saham Fixel Corp. Ternyata perusahaan tersebut masih beroperasi dengan baik, nampaknya Bram harus mengucapkan terima kasih pada Keluarga Tjandra nanti. Sebab pria tua itu sudah mengelola perusahaan dengan baik. Meskipun ia membencinya, tapi satu dua pulau dua keluarga, akan Bram jebloskan secara bersamaan. Dengan begitu, keluarganya akan damai dan hanya menikmati kekayaan begitu saja tanpa musuh mengelilinginya.
Beralih pada rahasia pribadi seorang Tjandra yang berusaha dia bongkar, banyak fakta-fakta yang mencengangkan sampai membuat Bram kelu, ketika di ingatkan Damar untuk menceritakan keluarga Tjandra.
"Sejak itulah, mereka membangun atas anak saham Reksa, tapi mereka akui itu miliknya dan membunuh dady dan hampir meracuni kakekmu. Jadi karena kelicikan mereka, dady dan kakek tidak menyetujui hubungan kalian. Jadi berhentilah merajuk untuk meminta restu!" tegas Bram, di belakang pusara sang istri menasehati anaknya.
Tak lama sebuah cahaya sinar, membuat Bram terkejut ketika Damar memperlihatkan sesuatu.
__ADS_1
"Jika Dady bisa melihatnya? bisakah tetap tidak melarang privasi percintaan Damar? Damar janji akan meluruskan semuanya."
TBC.