
"Coba kalian berdua ikut saya ke atas!" katanya kepada Bram dan Elea.
Keduanya mengikuti langkah wanita yang di sebut Direktur Utama itu, terasa bau tubuhnya yang sangat harum, pakaiannya juga terlihat sangat mewah dan rapi. Dia sama sekali tidak ada mengkritik Bram yang pakaiannya kotor, karena memang belum sempat mandi apalagi berjalan dengan seadanya dari pelabuhan.
Aroma laut dan darat tetap saja bagi yang tak suka, ia di sangka pelayan yang menjaring ikan. Bram, memang tadinya ingin pulang tapi ia mengejar waktu, dan tak sangka perlakuan hina kembali soal penampilan. Ironis apakah gaya cool masih berlaku untuk orang kaya atau pura pura kaya.
“Silakan duduk dulu!" katanya pada Bram dan Elea.
“Saya akan memeriksa kartunya dulu.”
“Minum?” tawarnya kepada mereka berdua.
Dia lalu menyerahkan dua gelas air putih dari merek terkenal dan kemasannya rapi. Memang mencerminkan Banknya.
“Terima kasih, Bu.”
Ibu Direktur Utama itu lalu memasukkan kartu itu ke alatnya, perasaannya juga deg-degan, karena memang biasa orang kaya berpenampilan aneh-aneh. Ketika dia memasukkan kode-kode aksesnya maka,
“Kejejreng …”
Kartu itu menampilkan uang yang ada di situ. triliun rupiah. Oh my God.
“Uangnya ternyata ada,” sahutnya juga terheran-heran orang ini punya uang sebesar itu.
“Berapa?” tanya Bram yang penasaran.
“Empat ratus triliun lebih,” jawabnya singkat.
Aneh, yang punya kartu saja tidak tahu jumlahnya, gumam Direktur Utama itu. Yang membuatnya bernama Galia, terkejut.
Bram pun terhenyak di tempat duduknya. Empat ratus triliun lebih, sementara ia punya saldo sangat minim sebelum saldo 35O Triliun itu kemarin masuk ke rekeningnya.
Sungguh suatu jumlah yang hanya di dalam mimpi. Dalam waktu yang singkat itu dia perlu improvisasi, karena Galia itu baru dia dengar.
“Di setel lah agar bisa diambil di Bank mana pun,” ujar Bram, pada Direktur bank.
__ADS_1
“Okay, tunggu sebentar,” sahutnya.
Dia mengetik lagi beberapa simbol dan angka, setelah itu kartu di kembalikannya.
"Sekarang kalian bisa ambil uang di ATM Bank mana pun, asalkan Bank Umum Nasional yang milik Pemerintah. Selain itu pilih ATM yang ada hurufnya, bukan hanya numerik semata.”
“Terima kasih banyak Bu Direktur." sahut Bram.
“Apa lagi yang perlu saya bantu?” tanya Direktur Utama itu.
Bram melihat Elea, yang di sebut belakangan menggelengkan kepalanya, mungkin masih syok dengan tampilan kekasihnya sering kumel tapi memiliki saldo yang di luar nalar.
“Tidak ada.”
“Baik. Sebelum kamu pergi, kamu harus mencatatkan nomor ponselmu di sini dulu,” sahutnya sambil menyodorkan sebuah buku.
Sebenarnya tidak ada ketentuan seperti itu, tetapi setelah dia lihat benar-benar, lelaki ini sungguh tampan hanya penampilannya saja yang di kumel jelekkan sengaja.
“Kamu juga perlu mencatat nomor ponselku, siapa tahu kamu perlu,” katanya sambil memindai ponsel Bram sehingga QR code-nya mencatat nomornya.
“Oh ya, kata sandi ATM-mu adalah …, sini dulu,” bisik Ibu Direktur Utama itu sambil menarik tangan Bram, menjauh dari Elea. ‘Free53k’, ingat tanpa spasi yah? Boleh kamu ubah kapan pun kamu mau. Ingat ya, ATM yang ada kartu abjadnya selain numerik.”
“Ya, Mbak. Baik,” bisik Bram sambil mengingat-ingat kata sandi itu, agar tidak salah.
“Tidak boleh memberitahu orang lain!”
“Ya, Mbak.”
“Apa perlu mengambil uangnya?” tanya Galia, sang direktur.
“Ya Bu,” sahutnya.
“Berapa?”
“Lima triliun,” sahut Bram, tanpa ragu-ragu. Dia punya rencana khusus dengan uangnya.
__ADS_1
“Kalian ambil di teller dulu. Blokadenya sudah aku buka, sekarang teller bisa mencairkan uangnya.”
“Kalau begitu, kami mohon diri Bu Direktur,” ujar Bram.
“Jangan panggil saya Bu Direktur. Panggil saja Galia,” ujarnya.
“Dengan pelafalan Indonesia atau Barat, Mbak?” tanya Bram, untuk pertama kalinya memanggilnya Mbak.
Akan tetapi Elea menarik tangan Bram. Sejak saat itu, Bram tersenyum melihat ekspresi kekasihnya itu.
'Seperti inikah aksi liarmu Bram, jika tanpaku?' bisik Elea.
"Hey! Kamu cemburu, aku tidak melayaninya El. Hanya menjawabnya."
"Ga lucu .."
"Ok, maafkan aku El. Janji aku tidak akan bicara lagi atau senyum selain denganmu."
Ketika kedua orang itu lenyap dibalik pintu yang tak ditutup itu, dia segera mengambil gagang telepon kantor dan menekannya untuk menghubungi kedua sekuriti yang menjaga di bawah.
"Kartunya benar, uangnya sangat besar. Perlakukan mereka dengan baik. Dia nasabah kakap kita loh.” ujar Galia menghubungi teller 04.
Keduanya lalu turun ke bawah dan ketika lewat di bawah, sekarang kedua sekuriti itu lebih sopan kepada keduanya. Tidak lagi seperti tadi yang laksana orang pesakitan. Keduanya sangat heran melihat perubahan sikap kedua sekuriti ini.
"Bram, apa mereka habis minum obat panas?" bisik Elea, pada dua satpam dan satu teller yang hampir membuat mereka di injak karena dianggap menipu atm yang kosong.
"Benar, sepertinya mereka akan syok saat aku menarik dengan gaya seperti ini. Besok aku akan mengambil dengan baju pemulung, dan karung dari sampah bekas. Bagaimana ..?" aksi lirik Bram dan Elea, yang manis membuat beberapa orang menatapnya keheranan dan takut menyinggung lagi.
"Maafkan kami, mari saya antar ke teller pak, bu!" ucap teller.
"Ok! Tapi aku ingin dilayani dengan teller hijab di ujung sana! Sewaktu tadi aku datang, hanya dia yang berlalu sopan dan tetap ramah." unjuk Bram, dan Elea pun membalas genggaman tangan Bram.
Tbc.
Dua Bab Meluncur, Happy Reading All.
__ADS_1