Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
MEMBAWAMU PERGI


__ADS_3

Di berbeda tempat, dalam pikiran Hari, yang sedang duduk di kursi kebesarannya, dimana beberapa perusahaan saling menyerang, system tekanan lumpuh membuat Hari, mengerahkan beberapa banyak anak buah, untuk mengecek perusahaan mana yang berani menghackernya.


Terlebih beberapa kendala, membuat Hari menatap monitor besar, dimana satu titik kuning ingin masuk meretas menguras perusahaan gold Miror nya. Apalagi anak perusahaan baru, dimana system herbal awet muda, terbilang baru akan diluncurkan, sudah ada yang masuk ingin menghancurkan.


"Kalian cepat kerahkan, jika ia masuk maka kalian akan kehilangan pekerjaan." teriak Hari, dengan mata elangnya.


Eri, dan paman Alex ikut serta berkutat dalam layar laptopnya, dimana saat ini mereka banyak melakukan penyerangan. Bahkan di bantu Damar dari luar negri, perusahaan kembali aman. Dimana titik kuning lenyap, begitu saja. Sehingga layar besar itu menampilkan sukses.


"Ah, terimakasih. Kalian semua, lakukan anti virus, anti ketahanan pada system. Jangan biarkan beberapa link meretas lagi, segera diganti keamanan dan password. Berikan sun system ketebalan dimana, yang bisa masuk adalah anak perusahaan kita. Jika sampai ini terulang, berarti dari orang dalam, pekerja ku lah yang khianat. Jika sampai terulang, dan ketahuan, maka penggal kepala kalian dan keluarga kalian akan habis!" ujar Hari Hartanto mengancam, dengan kegilaannya seluruh pekerja menurut.


Hingga sore Hari kemudian, Hari merasa lelah sejak pagi ia berada di kantor, kali ini ia mengunjungi sesekali istrinya itu, meski di tinggal Hari, tapi beberapa penjaga di kerahkan untuk menjaga istrinya di depan pintu rumah sakit.


Beberapa minggu kemudian. Mikha telah pulang dari rumah sakit. Beberapa saat mas


Hari bilang, jika orang dari penyekapan sudah diatasi dan dibawa ke jalur hukum. Tinggal beberapa langkah lagi, reputasi Dani dan Lena akan jatuh semakin memburuk.


Mikha tak sangka, jika ia akan memperkarakan mantan istrinya itu, dimana Mikha entah harus senang, tapi sejujurnya ia merasa kasihan.


"Mas, aku rasa Lena melakukannya tidak sengaja, apa tidak sebaiknya..?"


"Satu kesalahan, itu adalah fatal. Aku tidak suka memberi kesempatan, maka dari itu diam dan patuh lah sebagaimana kamu jadi istri keluarga nomor satu ini! tidak mudah, lagi pula media telah tahu, jika istri kecilku ini adalah istri sah satu satunya, kedudukan mu adalah istri pertama bagiku, meski ini pernikahan kedua bagiku." senyum Hari membuat Mikha terdiam.


Ting Nong! Paket.


"Aku akan membuka sebentar mas, itu pasti kang paket."


"Heum. Aku sekalian pamit sayang, Eri sudah menunggu di bawah."


"Iya mas."


Mikha cukup lega, ketika yang datang adalah seorang kurir.


"Paket bu, mohon di tanda tangani disini!" kurir memberikan bucket bunga indah dan harum.


"Terimakasih pak."


"Loh kenapa bukan kue tart, dan kue kering. Padahal aku harap cemilan, kenapa jadi ..?" senyum senyum Mikha terasa malu.


Mas Hari, membuat suasana kembali cair. Kala ia takut, jika orang dari Dani datang tiba tiba mengancam, karena aksi mas Hari dan Dani saat ini sedang tegang di awak media. Bahkan ia berganti nomor ponsel saja, Dani bisa tahu. Dimana Mikha pikir terkait kasus penyekapan nya yang celaka, ternyata ada kasus peretasan pada perusahaan mas Hari, sehingga ketahuan sekejap membuat mas Hari murka.

__ADS_1


"Surprise .. Sayang. Maaf mas mengejutkanmu." tiba saja datang lagi, sebelum Mikha menutup pintu.


"Mas, kamu beli apa lagi?" menatap bingung dengan senyuman.


Hari membuka kotak hitam di balut pita berwarna biru langit. Lalu membukanya perlahan, hingga jelas terlihat cincin indah berbentuk permata bunga tulip.


"Mas, memesannya sudah jauh untuk mengejutkanmu dengan sempurna. Tapi maaf, hanya kejutan seperti ini saja. Maafkan mas Ya!"


"Mas. Ini sudah sangat cukup, cukup bahkan membuat aku bahagia." balas Mikha, yang ia pikir suaminya pamit untuk ke awak media, nyatanya masih sempat membuat hal lucu nan romantis.


Meski ia samar menatap pelukan Hari yang melingkarkan cincin indah di jari manisnya.


Hingga di mana, Hari membantu Mikha masuk untuk berkemas.


Mikha cukup senang, kala sikap pria yang bukan ia cintai pertamakali. Tetapi kasih dan cinta perhatian sangat luar biasa padanya.


"Mas, andai waktu bisa di putar. Andai saja pria yang pertama kali aku kagumi berakhir cinta. Adalah kamu Mas, aku pasti sangat beruntung." lirihnya dengan senyuman manis.


"Andai saja, mas mencarimu lebih cepat Mikha, dan tak bertemu Lena, dan kamu tidak mempunyai mantan bernama Dani." balasnya.


"Hahaha, aku yang lahir terlambat mas."


"Kalau begitu mas juga yang lahir terlalu cepat Mikha." mereka tertawa.


Mikha mengingatkan jika kali ini, ia wisata bersama pria yang tulus mencintainya adalah suatu anugrah. Mikha pun mencoba menarik kerah baju Mas Hari, hingga di mana, ia terpeleset dan menarik kerah blazer.


"Ah! Mas, aku .."


Hari menyangga, agar kepala Mikha tak terbentur dengan tembok, menyangganya dan memutar kilat, sehingga tubuh Mikha berada di atas pusaranya. Kedua kali Mikha mengapit, dan terangkat di pinggang suaminya.


"Mas, a-aku." terdiam kala sesuatu menyentuh benda kenyal dan Hari menarik tubuh Mikha hingga ke wajahnya. Saling menatap dalam, mereka menikmati suasana yang benar indah.


Hari membelai halus, kala wajah tertutupi oleh poni. Lalu menyentuh ranum istrinya dengan lembut, Mikha memejamkan matanya. Kala Wajah suaminya telah mendekat dan mengangkat hingga saling bersentuhan. Dalam gendongan berpangku Mikha di bawa lembut menuju kamar.


Semakin dalam, membuat aliran detak jantung Mikha tak beraturan. Ia meremas sprei dalam balutan kasur yang baru saja terganti. Hingga di mana, semakin jauh. Mereka semakin menikmati dan memulai pergulatan yang manis dengan suara dua insan yang luar biasa.


Hari cukup senang, kala ia telah membuat hati Mikha cukup bahagia dan menerimanya, meski ia takut akan badai yang akan datang menimpa keutuhan rumah tangganya.


Hari hanya berharap. Mikha tak pernah meninggalkannya meski perubahan terjadi, ia cukup meminta Mikha tetap tinggal, meski kelak suatu rintangan badai menerpa.

__ADS_1


Hari sangat menikmati dan menyukai nafas Mikha yang tak beraturan. Desis dan erangan membuat Hari semakin jauh, semakin dalam dan menumbuhkan sesuatu di dalam sana.


Hari bahkan berharap, Mikha cepat mengandung anaknya kelak, agar tidak ada perpisahan dan hidupnya semakin berwarna. Terlebih yang ia tahu, Mikha tidaklah mandul dan kesempatan untuk menerusi generasi sudah cukup bagi Hari dan siap untuk mempunyai mongmongan.


"Sayang, usiaku sudah terpaut jauh. Bagaimana kelak anak kita lima tahun, aku sudah seperti kakek kakek?"


"Mas, usiamu boleh tua. Tapi kenyataannya kamu perkasa dan jiwa muda tak luntur, apakah kamu menciptakan herbal awet muda dengan bantuan sun System."


"Benar sayang, tapi itu belum selesai uji coba."


"Semoga cepat resmi dan lancar mas, apapun itu aku akan terus di sampingmu."


Mereka pun saling erat, sehingga tidur sejenak dalam kebersamaan.


***


Esok Harinya.


Hari dan Mikha telah berada di bandara. Hingga di mana, saat akan Take Off. Mikha menoleh dan memandang pria di sampingnya dengan bahagia.


"Kamu kenapa liatin Mas Terus sih?"


"Gak suka ya mas? Ya udah, aku liatin cowok di sebelah sana aja ya!"


"Aku cubit kalau kamu berani ya Sayang."


"Hehehe.."


Hingga canda tawa mereka, kembali memuncak dan memasuki awak pesawat. Mikha duduk di samping suaminya. Meski vvip, tapi Mikha cukup senang kala mas Hari akan membawa dirinya ke tempat yang tak ingin ia tahu. Mungkin jalan jalan bisnis suaminya kini, di barengi dengan honeymoon yang tertunda, rasa cinta Mikha amat dalam dan bahagia bersama suaminya saat ini.


"Mas, kita mau kemana sih. Aku liat tiket aja, sampai gak kamu kasih? kita ga jadi ke eropa temui perusahaan Dady Bram dan Damar?"


"Surprise. Jika kamu lelah, tidurlah. Mas akan siap jadi sandaranmu saat kamu mengantuk! kita akan pergi ke suatu tempat dulu sayang."


"Mas pandai sekali kalau mengalihkan." balas Mikha.


Tak menunggu lama, ia kembali tertidur dalam dekapan suaminya. Tidak lupa Hari membalas pelukan erat.


Hari sengaja mengajak Mikha berlibur, jauh dari berita dan media Lena yang sedang terpuruk. Hari tidak ingin si Lena itu mempengaruhi Mikha, sehingga Mikha memaafkan wanita laknat yang sudah amat jahat pada istrinya kini. Meskipun Lena adalah mantan istrinya itu, tapi ia jauh lebih tahu hal licik dan keserakahan Lena.

__ADS_1


"Mas kok diam?" menyadarkan Hari.


Tbc.


__ADS_2