Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SELIDIKI IDENTITAS


__ADS_3

Jingga tak bisa bicara apa-apa lagi! hanya kalimat itu saja lirih keluar dari bibirnya. Perasaannya galau!


Bukankah menerima tantangan itu sama saja seperti bunuh diri?


"Iya ..!"


Tapi Bram tampak tenang! dia bahkan memanggil Jingga pelan sambil mengelus rambut gadis itu, seakan tak peduli dengan semua kecemasan Jingga.


"Aku rasa itu perjuangan yang harus aku lakukan untuk mendapatkanmu!" lalu Bram mengalihkan pandangan matanya, pada kakek Jingga dan juga ayahnya bergantian.


"Bisa aku pelajari dulu tentang perusahaan yang kalian ingin aku handle?" tambah Bram ada intrik lain lagi, yang menyadarkan keduanya juga kalau Bram serius.


"Ehem!" Henry berdehem, lalu mengalihkan pandangan matanya pada Tjandra.


"Aku akan memberikannya nanti di jam makan siang!" seru Tjandra yang berusaha untuk tenang, di tempat ruangan lain setelah Bram dan Jingga pergi.


'Dia tidak akan sanggup menyelesaikan semuanya! Ini hanya bom waktu untuknya!' dia mencoba untuk menenangkan diri dan tetap menunjukkan kuasanya di hadapan Bram maupun Jingga.


"Dan satu hal lagi aku ingatkan pada kalian berdua, percuma kalian berusaha untuk kabur!" kakek Jingga bicara lagi.


"Dark, akan menjadi asisten pribadimu selama kau mengurus perusahaan yang akan diberikan oleh Tjandra. Sedangkan kau, Jingga, untuk sementara tidak ada kegiatan di dunia entertainment kecuali kau didampingi suamimu." teriak Tjandra.


'Heish, Aku disuruh jadi babysitter atau Aku disuruh mengurus perusahaan sih? mereka ini! ingin aku berhasil membantu mereka atau tidak? atau mereka lebih suka memang aku masuk dalam penjara atau mati?'


Bram menebak-nebak kalau yang diterapkan oleh Tjandra hanyalah obstacles untuk membuat dirinya sulit! tapi Bram sudah mengambil keputusan untuk membantu Jingga, dan dia juga sudah menyanggupi rencana mereka.


"Kakek--"


"Jingga, sudah tidak perlu berdebat lagi!" Bram mengingatkan sambil merangkul Jingga.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kami harus tinggal di sini atau kami harus tinggal di luar dari rumah ini?" mereka masih ada di teras. Karena itulah Bram mencoba menanyakannya! Semua pembicaraan ini dirasanya sudah cukup! dia ingin bicara dengan Jingga berdua.


"Masuk dan beristirahatlah di kamar Jingga." ujar Henry, lalu dia mengalihkan pandangan matanya pada Derek.


"Antarkan keduanya!"


Pria itu pun mengangguk dan seseorang yang mendorong kursi roda Henry, dia menyingkir dari pintu, membiarkan Bram dan Jingga masuk ke dalam rumah keluarga Tjandra.


"Paul, antarkan aku ke ruang kerjaku! dan kau Tjandra, Aku tunggu kau di dalam sana!"


"Baik ayah!"


Tak ada lagi penolakan yang diutarakan Tjandra, saat ayahnya sudah memberikan perintah.


Tidak ada penjelasan lagi yang diberikan Henry. Dia meninggalkan calon menantunya yang terlihat kebingungan! Tapi memang sudah tidak ada lagi yang bisa dijelaskan. Henry harus bicara dengan Tjandra perihal ia pernah melihat wajah Bram yang tak asing, Henry si pria tua itu yakin jika pria bernama Bram bukan pria biasa. Mereka berdua pun sudah menghilang dari pandangan mata dan masuk ke dalam ruang kerja.


***


"Menghadang katamu?" Henry mengerutkan dahinya mendengar yang baru saja diutarakan oleh putranya, setelah mereka berada dalam ruang kerja Henry.


"Loh, Bukankah Ayah merencanakan semua itu karena ingin menghadangnya? ingin membuat dia mengalami kesulitan dan kita bisa membuangnya, membuatnya tidak lagi bisa mengganggu keluarga kita? Menjauh dari Jingga?"


"Hahahha!" tawa Henry terdengar pecah dalam ruangan itu! yang semakin membuat Tjandra tidak mengerti apa yang diinginkan oleh ayahnya.


"Jadi kau pikir semua perintah yang aku berikan padanya itu hanya untuk menghancurkannya?"


"Memang apalagi ayah?"


Tjandra tak paham. Semua saran yang diberikan oleh ayahnya itu tidak masuk akal dan itu tingkat keberhasilannya sangat kecil! untuk orang yang tidak bisa berbisnis menurut Tjandra, dia tidak akan pernah bisa menyelesaikannya! karena Tjandra sendiri yang berpengalaman untuk mengurus perusahaan, dia mentok! sumber dana dan perizinan hanya bisa didapatkan dengan bantuan keluarga Boim. Lalu apa lagi yang diharapkan ayahnya selain kekalahan calon suami Jingga?

__ADS_1


"Aku berada di tengah-tengah dan aku netral," seru Henry, dengan mimik wajahnya yang penuh arti!


"Netral? jadi ayah mendukung pernikahan itu? ayah bener-bener ingin anakku menikah dengan pecundang itu?" memanaslah hati Tjandra, tapi Henry hanya mengangguk saja seakan dia tidak merasakan ada beban ketika mengutarakannya, atau ia punya rencana sendiri.


"Begini, saat kau menjalin kerjasama dengan, Mr Boim berapa persentase keuntungan yang bisa kau peroleh?"


"lima belas persen," seru Tjandra. "Dan nilai itu cukup besar karena kita tidak mengeluarkan uang, hanya menyiapkan lahan saja. Semuanya akan diurus oleh perusahaan. Sedangkan tanah itu akan tetap menjadi milik kita. Lagi pula sayang sekali tanya seluas itu tidak bisa dimanfaatkan! project ini adalah project yang cukup menantang dan bisa menghasilkan banyak uang!" Tjandra sangat yakin sekali, karena sudah lebih dari dua puluh tahun dia mempelajari rencana tersebut! hanya saja kendalanya memang di pemerintahan! hingga akhirnya Mr Boim menawarkan diri menyelesaikan perizinan yang tersendat dan urusan dengan lingkungan hidup asal dia diizinkan menjadi investor.


Kekayaan keluarga Boim memang lebih besar daripada Tjandra. Hampir sepuluh kali lipatnya. Inilah yang membuat Tjandra silau! dia sudah membayangkan apa keuntungan yang bisa dia peroleh apabila Boim menjadi besannya. Tapi Jingga menghancurkan harapannya.


"Oke, lima belas persen!" Henry manggut-manggut. Anggap saja kita sekarang sedang mencoba peruntungan! apa yang akan Kau dapatkan seandainya project tersebut bisa kita biayai sendiri?"


Sebetulnya keluarga Tjandra bukanlah keluarga miskin! mereka cukup banyak uang, terpandang dan mereka punya bisnis yang besar! tapi untuk project yang satu ini akan menghabiskan semua yang mereka punya jika memaksakan diri, untuk membangunnya, resiko terlalu besar apalagi perizinan yang tersendat, membuat semuanya sulit. Karena itu Tjandra membutuhkan bantuan, dia tentu tak menolak kerjasama.


"Aku rasa, setelah dikurangi operasional kita bisa mendapatkan sekitar enam puluh sampai tujuh puluh lima persen."


"Nah!" Henry menjentikkan jarinya.


"Bukankah itu sebuah keuntungan yang besar? dan kita mungkin bisa menguji kemampuan pria itu?"


"Ayah, tapi dia hanya seorang pengangguran dan tidak mungkin bisa melakukan itu. Yang ada dianya akan menghabiskan resources yang kita punya!" ujar Tjandra bertanya lagi pada sang ayah.


"Kita lihat saja, aku merasa pria bernama Bram itu mirip seseorang! Apakah kau tidak ingat sedikitpun, wajahnya amat familiar."


Tjandra mulai menatap bilik, benar juga yang dikatakan ayahnya itu. Putrinya Jingga membawa pria sebagai pacar, akan tetapi jelas mirip seseorang yang Tjandra sulit artikan.


"Apa papa punya rencana lain?" tanya Tjandra.


"Selidiki pria bernama Bram itu! jangan kurang sedikitpun." ujar Henry, membuat anggukan Tjandra.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2