Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 MENIKAH TANPA RESTU


__ADS_3

Mikha yang mendengarkan Damar bercerita akan ingatannya! ia membantu Damar untuk menikah dengan Siren, sekalipun tante restu. Hal itu membuat Mikha mengerti, jika cinta Damar hanya pada Siren.


"Aku tidak tahu, sebaik apa kamu membantu?"


"Damar! aku tidak suka dengan perjodohan, lagi pula aku tidak mau bersanding dengan pria yang tidak mencintai aku sedikitpun. Jadi lihatlah ke rumah itu, lamar dia saat ini. Aku akan segera hubungi penghulu." di anggukan Damar.


Mikha kembali pergi ke portugal, ia tidak ingin ingatan Damar disalahgunakan dengan pernikahan bisnis. Hingga tercium sudah pernikahan Damar dan Siren yang tanpa restu itu pada telinga keluarganya dan Bram ikut sesak diawal.


Membuat Bram, menyerah dan membiarkan keinginan putranya yang ingin bahagia dengan caranya sendiri. Setidaknya Damar, putranya itu sembuh dari sakit akibat tragedi jurang.


Hingga Beberapa Bulan Kemudian :


"Mas. Kapan datang, sejak tadi aku ga lihat kamu?" lirih Siren.


"Mas. Ada di sampingmu, kamu hanya terlalu fokus untuk melamun. Ayo Dady sudah menunggu kita!"


Damar mengecup pipi Siren, yang membuka usaha kuliner. Menyapa pada orangtuanya dan membicarakan sesuatu hal di kantor semakin bagus. Bisnis kulinernya semakin lancar. Siren hanya bisa memotong potongan daging, lalu menatap aksi suaminya yang sedang bicara kala itu. Disana ada keluarga Damar dan keluarganya juga sedang bersiap makan bersama.


"Sayang. Makanlah, aku sudah memotongnya untukmu!"


"Mas. Tapi aku.."


Lagi lagi Siren tersenyum malu, ia melupakan kejadian kecurigaannya tentang pesan. Tak lama Siren nampak bingung akan tingkah kakaknya di luar dekat taman.


Bagaimana tidak, aksi mereka seperti sedang memberi dan membalas pesan. Namun gelagat mereka yang aneh membuat Siren menjadi penasaran.


"Mas. Makan dulu, ponselnya letakan di meja nakas ya. Ga enak dong Mas!" ujar Siren pada Damar.


"Ya nih. Daru juga menyebalkan Sir. Dari tadi aneh aja. Masa aku perhatiin. Mas Daru dan Damar seperti ada sesuatu. Aneh bukan?" gumam Mikha setelah mengunyah makanan.


Mikha sendiri menjadi bagian keluarga, ia menikah dengan paman Hari, ketika istri Hari selingkuh dan lama menjadi duda. Mikha sendiri jadi aneh karena ia, adalah tante termuda bagi Damar dan Siren, di luar perjodohan, jodohnya tepat pada mereka yang saling cinta.


"Sudah, sudahlah. Ayo lanjut, kita makan sekarang!"


Siren terdiam, tak ada angin dan hujan di pagi hari. Terlihat, asisten pembantu di mansion meminta maaf karena mengganggu.

__ADS_1


"Tuan. Nyonya, maaf ada tamu di depan."


Hingga semua menatap dan melihat, siapa yang datang.


"Suruh dia masuk bi. Memang tamu siapa, apa kamu kak?" tanya Mikha.


"Mikha. Aku tidak ada pertemuan kali ini."


Kedua keluarga itu saling menatap, lalu ia menatap kedua anak lakinya dan menanyakan.


"Apa kalian mengundang tamu Damar, Hari?" tanya Bram, ketika mereka makan di meja besar.


Mereka yang sedang melahap pun menjadi menganga tercengang. Siren dan Mikha kebingungan menatap aksi suaminya yang aneh kala itu.


"Mas."


"Lovely."


Teriak halus para istri mereka, dua pria itu menjatuhkan nasi dan lauk dari dalam mulutnya. Meneguk segelas air putih agar bisa menjawab.


"Aku tidak." jawab Daru dan Damar juga bersamaan, mengatakan tidak.


"Ya. Benar juga, mengapa harus lama menunggu jawaban. Ya bibi siapa yang ingin bertemu dengannya?"


"A-anu. Nyonya,Tuan. Itu dengan nona Lena, Ingin bertemu den Hari."


Hari saat itu terbatuk batuk. Lalu menatap Damar, bingung, apa yang dimaksud paman Hari, di saat keluarga besar sedang berlanjut makan. Mantan kembali datang."


"Lena. Apa dia sepupu kakek juga mas. Mengapa dia mencari paman Hari?" tanya Siren menatap, karena bagian keluarga Tjandra. Siren tidak pernah tahu keluarganya ada nama Lena.


"Itu pasti rekan manajemen klien. Ya benar sekali, tolong segera dia tunggu di ruang tamu kerja ya bi!" titah Damar, yang kala itu Hari, sudah pasti sedikit gugup karena mantannya datang.


Damar menatap sinis pada Hari. Bisa bisanya wanita yang menyebalkan, bisa tau mansion baru yang di tinggali saat ini.


'Hari benar benar gila. Masa dia membiarkan wanita lain masuk ke rumah ini.' lirihnya.

__ADS_1


Damar menginjak kaki Hari. Hal itu agar ia diam tak banyak bicara, namun Siren segera berdiri dan menghampiri ruang tamu kerja.


"Siren sudah selesai. Biar Siren menemui untuk menyambutnya."


"Sayang. Tunggu sebentar, aku juga selesai. Aku akan hampiri Lena, jika Hari sedang tidak bisa ditemui."


"Tapi kenapa harus kamu mas?" senyum Siren, dengan tatapan lembut.


Siren berjalan mengitari anak tangga. Disusul oleh Hari. Tak lama Damar ke arah lain, ia cukup terkejut seorang wanita dengan berbalut blazer hitam putih membalikkan tubuhnya.


"Dengan Tuan Hari?"


"Ya dia, tidak ada. Pergilah dari tempat saya ini!" usir Damar.


"Siapa anda ya?" tambah Siren dibalik punggung, setelah Damar tak kembali selama puluhan menit.


"Pak Damar dan, Ibu. Perkenalkan saya Senada dari asisten pak Albert. Mengenai project kontruksi. Saya hanya bertugas mengantar ini saja. Tuan Albert meminta saya harus menemui anda langsung."


Damar dan Siren, segera mengambil kotak kecil itu. Lalu terlihat sebuah tiket bali, liburan kecil untuk mereka datang menghadiri pertemuan, sudah lama juga bagi Siren tidak ke pantai. Awal kecurigaan, nama Lena ternyata hanya seorang karyawan yang memberi apresiasi.


Damar segera mengajak sang istri ke lain tempat. Membiarkan kedua pengantin sedang bahagia di ruang tamu sana. Aksi mereka pun di intip pula oleh kedua mertua Siren dan Bram tentunya. Damar yang romantis, ia juga menggendong Siren, dengan bahagia karena ia telah menjadi wanita perfect yang hadir dalam hidup Damar, penuh perjuangan untuk mereka bisa bersama.


"Aku mencintaimu Siren. Aku mohon, percayalah aku hanya sayang padamu!"


"Mas. Udah dong mas, malu. Turunkan aku!"


***


Di berbeda tempat, Lena merasa kesal. Ia masih memikirkan rencana. Bagaimana untuk menghancurkan Siren dan Damar dengan secara halus dan cantik. Hal utama baginya adalah Damar tetap baik, mendukung ia kembali bersama Hari, dan janjinya yang selalu ada waktu pada Hari, hal itu pun ia tak bisa lakukan selama Siren berada di rumah mertua yang berkuasa. Bahkan dia adalah penyebab dirinya kehilangan harta milik Bram, karena saat itu terciduk selingkuh, dan Hari Hartanto menceraikannya, atas perintah Damar saat ini.


"Aaakh. Rencana ini pasti berhasil, Siren aku akan membalas Damar, yang membuat aku hancur. Kini ia harus hancur juga, setelah itu ia pasti akan kembali memohon agar menikahi adiknya lagj!" sebalnya kala itu.


Perlahan Lena berjalan menatap cermin. Ia tertawa tawa menatap aksi nya, ia begitu senang dengan pemikirannya. Rencananya pasti tak akan salah sedikitpun.


Pertama ia akan mendekati Siren, lalu memanipulasi kehidupan Hari, yang menikah dengan mantan suaminya bernama Hari, dengan seorang gadis yang lebih muda darinya. Baginya memperkeruh adalah awal kehidupan mereka kembali berantakan dan bermusuhan.

__ADS_1


'Aku harus membuat kalian sengsara. Hahaha." tawa Lena, ia masih mengintip di balik celah gerbang luar.


Tbc.


__ADS_2