Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
RENCANA SADIS


__ADS_3

Kristal Amora yang tiba tiba datang menyapa, membuat mata Lena terdiam membisu. Lalu dengan sadarnya, Kristal Amora pun berbisik pada Hari.


"Uups! Kalau begitu, aku mengganggu waktu kalian ya. Baiklah, lebih tepatnya saya akan kembali lagi."


Hal itu pun membuat Lena, mendekat dan berbicara pada Hari. Lena merasa tidak ada salahnya jika ia mendekati Pria, yang dulu mengejarnya beberapa tahun lalu.


Hari, sendiri juga bingung ingin merespon perkataan Lena seperti apa. Gadis itu tidak tahu apa-apa jika sebenarnya perusahaan yang dikelola oleh ayahnya adalah milik keluarga Hari yang direbut paksa, dan perencanaan kejam.


Perasaan marah sekaligus memahami ketidaktahuan Lena, membuat Hari kewalahan.


"Aku tahu, ini hanya alasanmu supaya aku tidak berharap lebih padamu, kan?" tebak Lena tidak sepenuhnya benar dalam versi Hari.


Lena sendiri menebak demikian bukan tanpa alasan. Beberapa kali dia memergoki Hari bersama dengan perempuan lain dalam jangka waktu yang cukup lama.


Interaksi keduanya juga terlihat akrab seolah mereka kenal sangat dekat.


Hari tidak menjawab, dia memilih membiarkan Lena tenggelam dalam spekulasinya sendiri.


Padahal kenyataannya, Hari justru yang takut berharap lebih pada darah Tjandra, ia takut menerima pernyataan jika memang dialah yang menyebabkan tragedi kecelakaan dirinya yang tak pernah sekali melihat rupa ayahnya seperti apa. Rasa sakit, menyelimuti lebih dalam ketika ia mencintai wanita yang ayahnya seorang pembunuh Armanto, ayah biologis Hari.


"I see, jadi apa yang ingin kamu katakan?" putus Lena, akhirnya memilih menyerah mencari jawaban dari pria di sampingnya.


"Tetaplah menjadi Lena seperti biasanya, kita tetap teman seperti biasa. Lagi pula aku tak sanggup menggapaimu Lena, dirimu dan kita tidak akan bisa bersama kelak." Kejujuran Hari menikam jantungnya sendiri dengan telak.


Lena menahan segala rasa sakitnya, dia menelan bulat-bulat luka baru yang tercipta di atas setiap luka pada dirinya yang bahkan masih basah. Dulu Hari mengejarnya, akan tetapi setelah ia pergi dan kembali berniat menemui Hari, dari info orang ayahnya. Entah kenapa Hari banyak berubah, ia tidak seperti Hari yang dulu.


Dalam pandangan Lena, Hari mengatakan semua itu tanpa kesan apa-apa seolah baginya selama ini Lena bukanlah apa-apa. Dan Hari, hanya memutar perasaan mempermainkannya.

__ADS_1


Air mata menetes satu per satu dari kelopak matanya, meski tawa kecil mengalun. Lena mentertawakan ekpektasinya yang ternyata melenceng jauh, sangat jauh dari kenyataan.


"Ya ya aku mengerti, oke. Selamat tinggal dan semoga sukses dengan apa pun yang kamu kejar." Mengusap kasar air matanya, Lena bangkit meninggalkan Hari, dengan perasaan yang hancur lebur.


Sama persis seperti perasaan Hari, yang masih terpaku di tempat duduknya. Bersamaan dengan senja yang ditelan oleh kegelapan hampir malam, setetes air mata jatuh dari kelopak mata Hari, dan Dibelakangnya Kristal hanya mendengus kesal, entah sampai kapan pria lemah ini hanyut dalam kesedihan, maka semakin lama pula ia kembali pulang sebelum Hari, menyelesaikan misinya.


"Konspirasi takdir adalah rahasia untuk pelakon yang menjadi bintang utama dalam drama sang takdir." Cercah Kristal, seolah memutar Hari yang saat itu duduk di bangku. Secara tiba tiba, Kristal datang mengagetkan Hari.


Tugas Hari, saat ini hanya berusaha untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya. Bahkan jika itu termasuk hati Lena di dalamnya, biarlah Lena menatap dirinya sebagai monster mengerikan yang akan merongrong keluarganya. Daripada dianggap menjadikan gadis itu hanyalah alat untuk balas dendam.


Lena lebih dari itu, tapi untuk saat ini. Biar Hari menelaah kembali perasaan apa yang dia miliki untuk Lena. Setelah dia tahu siapa orang tua gadis tersebut.


Melangkah gamang ke asrama yang masih bisa dia tempati beberapa minggu lagi, sebelum pindah ke apartemen kecil setelah dia menjadi asisten Hendru.


Hari terpaku mendapati seseorang duduk membeku di tangannya, menatap benda kecil di tangannya.


Hari mendapat sebuah kunci mobil, lalu mengekor Kristal yang kala itu Hari pikir, kenapa kelakuan wanita teman kampusnya mirip Kristal di perkebunan Bram.


"Kenapa bengong? Ayo masuk, nanti aku tunjukan tempatnya!"


"Gleuk! Aku yang mengendarai?"


"Heumph! Cepatlah, menurutmu apalagi?" ujar Kristal yang kala itu sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil, sesaat Hari menyalakan alarm mobil.


***


Di Kantor Gold Miror.

__ADS_1


Sementara Bram, kala itu berada di kantor timun emas. Ia menatap Tio, yang kala itu duduk menatapnya dengan mengangkat satu kaki, dan bergerak gerakan kakinya di depan Bram.


"Sudah cukup, akhiri kekalahanmu. Apa dengan menyepelekan seseorang, kau terus hidup dengan kesombongan?"


"Hahaha, tapi jelas aku menang. Buktinya kau sudah jadi bos, aku yang pengangguran tapi masih bisa digaji 45% fantastis bukan?" gelak tawa Tio.


'Dengan cara licik, baiklah! sepakat, aku pastikan kesombongan Mu ini yang terakhir.' batin Bram bergumam.


"Jadi tanda tangani saja! Aku juga sudah janji tidak akan mencampuri urusan hubungan kalian yang rumit, bahkan aku pastikan Ryan tidak mengganggu istrimu Bram?" cerocoh Tio, yang bicara dengan satu tusukan ke dalam gigi kirinya. Mengharapkan keuntungan bisnis Bram, tanpa ia bekerja susah payah.


"Oke! pulanglah, orang Ku akan membawa berkasnya. Lagi pula, bagian berkas kontrak itu aku sudah limpahkan ke yang bersangkutan, pintu sudah ada dibelakang! pulanglah, temani ayahmu yang saat ini sakit sakitan, karena ulah putranya tidak beres. Mau kaya, tapi ...?!" jelas Bram, masih dengan santai.


"Kau mengusirku, kelak menyesal nanti kau Bram." kesal Tio, ia beranjak pergi dengan amat marah.


Sementara Bram, ia kembali bengis pada siapapun yang sudah membuatnya direndahkan. Memang kesalahan adiknya, yang membuat Ryan bisa kerjasama dengan tidak lazim pada Gold Miror. Akan tetapi, Bram pun sudah mempunyai rencana untuk orang yang berani menyentuh keluarganya, dan mengacak ngacak usahanya, sehingga memerintahkannya.


Lagi pula, tidak ada cerita bos yang diatur oleh orang bawahan, bahkan citra bos akan berantakan jika Bram, mengalah lagi dan lagi. Kali ini, siapapun dia adalah mantan anak bos, ditempat Bram dulu bekerja, ia menjadi kurir pengantar makanan, semua itu karena kebaikan pak Hartawan, yang kali ini Bram tahu, jika dia adalah mantan supir papa Reksa, jadi dunia itu bagai roda dan berputar dalam lingkungan yang tidak sadar, itu itu saja.


Jadi Bram yakin, jika memberi pelajaran pada Tio maupun Ryan, pak Hartawan yang Bram hormati akan memaklumi dan mengerti dirinya.


Tlith!!


"Siapkan, satu jam lagi saya tiba. Pastikan dia tidak lolos, dan kurung dia di tempat yang sudah saya bilang!" Bram, melepas earphonenya.


Bram senyum menyeringai, dia tidak tahu ketika menyinggung Bram. Maka kesabaran itu ada batas dan takarannya. Ia yakin, jika Tio maupun Ryan, tidak akan lagi berani menuntut lebih dan menyinggung bisnisnya di manapun, setelah orang yang ia suruh sedang dalam menjalankan misi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2