Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SURPRISE GAGAL


__ADS_3

Sesampai di rumah! Bram segera melihat paket yang ia pesan. Itu adalah sebuah bahan gaun, yang akan ia berikan pada Elea dan keluarganya di acara penting pertemuan keluarga. Bukan lagi hal tidak penting, ia yang sudah rehat dua pekan, ingin mempersatukan dua keluarga, agar Bram dan Elea resmi menjadi satu.


Bram pun segera meraih ponselnya, bermaksud ingin menghubungi Elea. Tapi saat itu sudah ada bel yang memasuki kediamannya.


Ting Nong ...


Segera mungkin Bram menoleh, lalu ia mencoba menoleh, kala Elea sudah ada di depannya.


"Surprise .." senyum Elea.


"Kamu sudah pulang, bagaimana penelitian. Ah! Jika seperti ini, aku gagal membuat kejutan." cercah Bram menggaruk kepala.


Kala itu, Bram yang telah menyiapkan satu meja lengkap dengan kado di atas meja, dengan pita berwarna purple. Akan tetapi Elea datang, dan ia telah lebih dulu melihatnya.


"Kamu selalu begitu Bram! Bagaimana kalau sudah sampai sini, aku masak sesuatu. Kita dinner berdua. Kamu pergi ke barber shop sekarang!" titah Elea, dengan wajah bahagia.


"Barber Shop? Lalu kamu bagaimana Elea sayang?"


"Aku akan memasak, dan berdandan khusus. Jadi kita satu sama bertukar surprise."


"Ide bagus, baiklah. Baiklah aku pergi dulu ya, kamu jangan nakal!" ucap Bram, menoel hidung Elea kala itu, yang ikut senyum.


Hingga setelah Bram mengambil dompet, ia amat terkejut kala Olive tiba saja sudah ada di lift apartmentnya. Bram menoleh kebelakang, dan Olive hanya bersiul saja, menatap ke arah Bram.


"Kau sedang apa ..?"


"Menurutmu, tujuanku kemari apa lagi. Ayo ikutlah!"


"Eh, tunggu kemana ...?"


Tling!


Bram yang tangannya dirangkul, sudah berada ditempat lain dengan Olive saat itu juga.


"Heeh, rumah sakit."


Sementara Bram pun, yang kini berada di rumah sakit lagi, Olive tahu jika Bram sudah diperbolehkan untuk pulang, wajar karena dokter yang merawatnya adalah Oliver.


"Apakah kita tinggal lebih lama di sini?" tanya Bram dengan ekspresi memelas.


"Tidak juga, aku hanya ingin kau melihat anak anak sekilas, lalu kita pergi ke suatu tempat!"

__ADS_1


Bram, membuang napas berat, merasa sedikit kecewa lantaran Olive tidak memberinya izin untuk tinggal lebih lama. Dirinya sendiri tidak tahu alasan kenapa Olive ngebet banget untuk pulang.


"Jangan biasakan dirimu menggerutu seperti itu. Aku bisa mendengar apa pun yang ada di isi kepalamu itu!"


Bram yang sedang merapikan sedikit kemejanya itu, bergeming. Diam seribu bahasa. Dirinya yang sebelum begitu aktif dan ceria, kini tampak lebih diam.


Setelah hampir tiga puluh menit, keduanya meninggalkan ruangan tersebut.


Selama berjalan menuju parkiran, anak-anak yang berhasil diselamatkan itu berdiri berjejeran.


Mereka yang ada di sana rata-rata berusia 14-16 tahun. Bram jelas ingin tinggal lebih lama di rumah sakit ini, tapi mau bagaimana? Olive sudah menjatuhkan perintahnya, setiap perintah tidak boleh ada yang berkata tidak.


Bram meninggalkan rumah sakit. Pun dengan Olive. Keduanya memasuki mobil milik pria sebagai Utusan Langit itu.


Bram sempat ingin bertanya, dari mana Olive memiliki mobil yang bahkan lebih mewah dari miliknya, pada kehidupan pertama lalu. Bahkan ia saja yang mengendarai Suv putih, sudah sangat menguras tenaga dompetnya.


Namun, pertanyaan tersebut sama sekali tidak digubris oleh Olive. Alhasil, dirinya hanya termangu dengan pandangan yang mengarah ke luar jendela.


Sudah hampir setengah perjalanan. Olive mengubah jalur mobilnya. Seharusnya ke kanan, malah putar arah ke sisi kiri.


"Mau kemana kita?" Bram tak kuasa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Apa maksudnya?"


Mobil pun berbelok pada tikungan tajam di sana. Kalimat yang ingin tersampaikan pun tidak jadi dirinya ceritakan.


"Diamlah! Nanti juga kau akan tahu sendiri!" erang Olive sambil menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Mobilnya pun melaju 140 km/jam, membuat mata Bram menohok dan berpegang erat.


'Bisa bisanya, malam nanti ia ingin mengajak Elea dinner. Si utusan langit datang dan menculiknya.' benak Bram, berharap Olive mengajaknya bukan untuk bertempur dan melawan penjahat lagi, apalagi dirinya belum terlihat pulih.


Bahkan saat ini, Ia tidak ingin membuat Elea menunggu, kecewa karena ia memasak untuk nanti malam.


***


MARKAS X


Sementara itu, di tempat terpisah. Ruang hampa yang sengaja dikurangi cahayanya itu.


"Apa? Kenapa kalian baru katakan ini sekarang?"


Seorang pria sampai melompat dari tempat duduknya setelah mendengar kabar kehancuran markas genk Merah yang ada di Rawa Buaya Muara.

__ADS_1


"Maafkan kami Bos karena baru mengetahuinya pagi ini. Anggota kita yang berjaga di sana tidak ada satupun yang tersisa sehingga sulit mendapatkan kabar dari mereka, bahkan polisi sudah menyegel dan satu polisi yang menerima suap bos saja, sudah tak bisa menolong karena kasus ini dilempar ke jaksa." beber pria itu ketakutan.


Dengan nama genk terkenal kasta tertinggi, bernama Briyan Briana pun meradang.


"Dasar bodoh! Tidak berguna!"


PLAK ...


PLAK ...


Dia menampar satu persatu anak buahnya. Sekitar tiga orang yang sebentar lagi akan menjadi tumbal dari kemarahannya.


"Maafkan kami, Bos," mohon pria itu yang dandannya tidak beda jauh dengan yang lain.


"Ampuni saya, Bos karena telat memberikan kabar ini pada Bos."


Tubuhnya bergetar hebat, hanya ia yang mampu mengucapkan kalimat maaf di depan Briyan.


"Maaf! Maaf! Hanya itu yang bisa kalian katakan! Apakah kalian tahu, hancurnya markas kita yang di Rawa Buaya Muara, menandakan seluruh sandera kita hilang juga. Bukan hanya itu saja, sebagian barang-barang haram ada di sana. Kita rugi besar sekarang!"


PLAK ...


Tamparan keras kembali mendarat tepat di pipi pria itu. Saking kerasnya tamparan, tubuhnya terpental beberapa meter.


"Cepat perintahkan seluruh anggota yang tersisa untuk menyerang orang itu. Kita harus mencari tahu laki-laki yang telah menghabiskan sebagian kekayaan genk Merah!" Dia berseru lantang.


"Aku ingin, dalam waktu empat jam, kalian sudah harus menangkap tikus kecil itu. Mengerti!"


Mereka yang ada di sana berteriak serentak. Lalu, terbirit-birit meninggalkan ruangan gelap tersebut.


"Aaaaaaakh ...!"


Briyan pun mengacak-acak benda yang ada di atas mejanya, dia menyapunya sampai semua benda jatuh berserakan.


"Siapa pun kamu, jangan harap akan bisa menghirup udara segar hari demi hari! karena esok hari kau tidak akan bisa melihat matahari terbit!" ucap Briyan.


Itulah sumpah yang Briyan ucapkan di bawah tekanan kemarahan. Dirinya telah kehilangan banyak anggota genk Merah dalam insiden penyerangan di markas yang telah ia dirikan sekian tahun. Bukan hanya itu saja, seluruh anak-anak yang akan siap dijual ke luar negeri itu bebas dari penyekapan. Tidak terbayangkan berapa kerugian yang dirinya harus telan pahit-pahit.


Briyan pun bergegas, ia mengambil jaket hitam dan segera merapihkan jas menuju suatu kantor penelitian. Ia bersiap akan mencari tahu, siapa pria hebat yang menghancurkan markas dan misinya sia sia begitu saja, padahal sebentar lagi ia akan kaya dengan menjual barang dan anak anak yang disekap itu.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2