
Selepas Lena pergi, ia memotret beberapa bagian belakang orang itu, dan meminta seseorang suruhannya menyelidiki, di mana ia yakin jika orang orang tadi itu adalah orang suruhan Mikha, atau jangan bilang dia itu antek antek bu Inggrid.
"Astaga, apakah ibu tua itu sudah sadar? tidak beres jika dia benar benar siuman." lirihnya.
Lena tidak tahu, ketika mama Inggrid telah siuman, semakin membaik. Bahkan hampir saja bisa lancar dengan bicara.
Tapi sayangnya, mungkin jika Mikha melihat ia akan kesal, kala ia menanyakan Mikha, dan ingin bertemu dengan Mikha terkait hari terakhir saat itu Lena meninggalkan Hari, ia move on dan akan menikahi Mikha.
Amarah Lena semakin meledak, jika di ingat dahulu kala ibu mertuanya selalu bercerita dan terus menanyakan keadaan Mikha sepanjang waktu, sejak saat Lena masih status istri Hari, Mikha sendiri sudah sering menemui keluarga Hartanto dengan keluarganya. Bahkan Lena memang pada dasarnya ingin child free, dimana ada anak adalah membuat dirinya semakin stres.
"Dasar nenek tua. Udah males gue urusin. Lihat aja setelah urusan rencana gue berhasil. Gue harus singkirkan mertua ga tahu diri. Dia sengaja bikin hubungan gue sama Hari, serba salah. Jelas gue bisa lahiran penerus Hari dan lebih cantik dari si Mikha itu hanya saja butuh proses kuat mental buat memiliki anak. Kalau dulu kan emang gue maunya free child, tapi setelah di pikir pikir ga enak, dan Hari butuh generasi penerus kekayaan unlimited itu yang ga akan habis habis, ketimbang gue kerja puluhan tahun ga akan kaya, ada baiknya dengan anak kandung bisa gue bebankan." gerutu Lena.
Lena melupakan tiga manusia misterius tadi yang mengancamnya, ia berusaha ke rumah sakit dan apalagi, selain menyuntikan serum ilang ingatan dibantu temannya yang bertugas sebagai suster, secara diam diam.
DI KANTOR.
Sementara Hari, menerima pesan suara, ia menatap meja kerjanya. Ia sengaja dari tadi melamun akan sebuah hal yang membuat dirinya kesal, tapi mengingat jam pasir yang di berikan Mikha. Ia cukup tersenyum, menggenggam dan membuatnya rindu akan Mikha.
[ Mas, malam ini pulang jam berapa. Aku menunggu! ] pesan suara.
Hari merasa bersalah, ia tak bisa pulang lebih awal karena system herbal yang ia buat harus di racik dengan teliti, apalagi dirinya sendiri yang menjadi percobaan. Hingga di mana ia membalas pesan dari Mikha, yakni istrinya itu.
"Mas. Akan pulang terlambat, apa yang kamu inginkan. Apa kamu sedang bersantai, atau telah kembali dari salon?"
__ADS_1
[ Aku tadi menyempatkan diri ke rumah sakit, sedih mama belum ada perkembangan. Saat ini aku udah di salon empat jam lalu, ditempat biasa mas. ] membalas pesan suara.
Mikha pun di butik, ia cukup senyum sendiri. Kala Hari mengirim dirinya balasan. Meski raut wajah Mikha tak baik, ia mencoba untuk legowo. Dengan aksi jahilnya, Mikha mengirim video kamar yang indah.
TLING. NADA PESAN.
Hari melihat video yang di kirimkan oleh Mikha. Hingga di mana, ia cukup meregangkan otot lehernya. Ia mencoba untuk menarik dasinya, membuat dirinya tidak tahan untuk sampai di rumah.
Hingga di mana, Ia menanyakan kepada Eri meeting jadwal ulang. Tapi nahas, ia tak bisa menundanya lagi. Sehingga Hari harus bersabar untuk sampai di rumah, dimana herbal yang ia racik harus kelar besok sore, terpaksa ditunda, untuk bisa menyambut Mikha istrinya kala itu.
Sementara Mikha yang telah bersiap dengan sebuah tas kecilnya. Ia telah selesai dalam perawatan, tubuhnya terasa enteng dan kulitnya semakin cerah. Rambutnya yang tegerai curly. Membuat dirinya semakin cantik. Mungkin dengan happy, kembali merajut cintanya semakin tumbuh untuk suaminya. Ia akan hidup bahagia bersama Hari di pernikahannya ini, apalagi sikap Hari sudah semakin erat padanya.
Tak lupa, setelah ia keluar. Ia kembali ke sebuah toko pakaian. Mikha membelikan sebuah piyama transparan. Untuk ia kenakan nanti malam, hingga tiba di kasir. Ia tak sengaja bertemu Lena.
Lena menepuk tangan tepat, menatap wajah Mikha yang kala itu amat cukup terkejut.
"Upps. Ada benalu, huuh. Kenapa harus selalu bertemu lagi ya. Mataku sakit .. sekali." lirih Lena bernada.
Mikha menarik nafas, yang mendapat perlakuan tak baik, ia mencoba untuk menahan emosinya. Lalu dengan sigap, ia kembali meminta pelayan kasir untuk mengemas barang yang ia beli saat itu.
"Bisa cepat mbak!" ucap Mikha. Kasir pun memberikan beberapa paper bag.
Sehingga Mikha menoleh tubuhnya, ia tak menghiraukan bisikan aneh yang di layangkan Lena. Apalagi mencari masalah baru.
__ADS_1
PRAAANG, UPS SENGAJA!!
Hahahaha .. Lena tertawa puas. Setelah menyengkat kaki Mikha. Paperbag itu terjatuh, hingga membuat kaki Mikha yang mulus menjadi merah, sedikit terbentur memar dan luka. Mikha cukup menahan emosi, lalu mengambil rapihkan barang - barangnya.
"Mau kemana. Apa kali ini kamu takut?"
Mikha lagi - lagi tak menghiraukan. Ia kembali menoleh dan berbalik arah. Tapi Lena tak puas, ia menghadang cukup kilat. Dan membuat Mikha sedikit terhenti dalam langkahnya.
"Lena. Aku malas, jika kamu bertemu denganku, biarkan kita tak saling mengenal. Aku cukup lelah, jika itu kamu."
"Hey. Benalu, aku masih bingung. Kenapa takdir kemana aku pergi. Kamu selalu ada. Kenapa .. Hah?" ketus Lena.
Mikha menarik nafas dan berkata, "Jika kamu mengatakan, aku telah membuat pertanyaan itu. Kamu salah jika aku mengikuti langkahmu Lena. Mungkin kamu bisa tinggal di planet lain! Dan minggir dari jalan hidupku, kau sekali lagi berbuat ulah. Maka aku tidak diam, aku akan membuat kariermu perlahan hancur, kehilangan kepercayaan Hari, kehilangan apa yang jadi tujuanmu. Dan terakhir, kamu akan di permalukan. Ingat itu kata kataku ini, Lena, aku bersiap bertarung, karena hanya aku istri Hari Hartanto!" bisik Mikha, membuat mata Lena membulat tak percaya.
"Kau berani padaku?"
"Ya! aku terlahir kembali, untuk melawan menantu yang dibuang. Hiks." seringai Mikha.
Mikha pergi begitu saja setelah mengancam Lena, sehingga Lena kesal akan sikap Mikha yang berani. Ia segera menghubungi seseorang.
[ Jalan kenanga, cepatlah! Kalau perlu kau serempet dia sekarang juga! ] cercah Lena menutup telepon, sinis menatap Mikha yang pergi menjauh.
Tbc.
__ADS_1