Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
SEDIKIT PENAT


__ADS_3

-- BAR --


Bram, dengan segera saat itu menceritakan pada Hari apa yang beberapa bulan terakhir dirinya lakukan, di mana dengan segera Hari, saat itu menatap Bram, tidak percaya.


Berpikir orang dari planet mana yang mau merasakan hidup sulit, ketika hidup enak jelas bisa Bram, dengan mudah dapatkan dengan identitasnya.


“Kak kau keluar dari rumah serta mencoba bekerja sebagai pengantar makanan di salah satu restoran cepat saji?" Hari, takut salah mendengar saat itu.


Bram, sendiri hanya mengangkat alisnya, tidak menyangka akan seheboh itu Hari menanggapi ceritanya.


“Benar, itu semua kulakukan untuk merasakan sendiri apakah memang seberbeda itu, kehidupan tergantung bagaimana kondisi seseorang yang menjalaninya." Bram, menjelaskan alasannya melakukan hal tersebut.


“Lalu, apa yang dapat kau ambil dari semua itu, kak?" Hari, sedikit banyak penasaran terkait pandangan baru yang mungkin Bram, dapatkan.


“Tidak ada yang lain, selain tatapan merendahkan dari setiap orang yang merasa lebih tinggi dariku." Bram, mengingat bagaimana saat itu perlakuan yang dirinya selalu terima selama beberapa bulan terakhir.


“Benarkah? Siapa yang berani merendahkan dirimu? Anak keluarga super kaya di kota ini? Apa kepala mereka telah rusak atau apa hingga berani melakukan hal tersebut?" Hari, tidak menyangka ada saat dalam hidup Bram, dapat merasakan hal tersebut.


“Hey, kecilkan suaramu." Bram pada Hari, setelah bagaimana para pengunjung saat itu dengan serempak menoleh ke arah Bram, setelah mendengar ucapan Hari, tak sedikit yang masih ingat jelas kejadian pelayan wanita menjadi manager karena menolong seorang pria berpenampilan biasa, yakni Bram.


“Melihat apa kalian?!!" Hari, dengan segera pada para pengunjung tersebut, sedikit lupa bagaimana Bram, selalu tidak terlalu senang menonjolkan identitasnya.

__ADS_1


“Jadi, apa yang terjadi setelahnya. Ceritakan padaku." Hari, jelas begitu amat terbawa saat itu dengan cerita yang tengah kakaknya utarakan.


Bram sendiri dengan segera kembali menjelaskan setiap dari apa yang di alaminya, dari mulai bagaimana Tio anak pemilik restoran cepat saji yang memperlakukannya dengan begitu buruk.


Juga bagaimana Via perjodohan keluarga meninggalkannya, merendahkan memilih bersama Tio yang sikapnya pada Bram, tidak jauh berbeda dengan Tio.


Terakhir, Bram ungkapkan juga bagaimana dirinya kini menjadi calon menantu dari keluarga Glows. Di mana Via merupakan tunangannya, serta bagaimana perlakuan keluarga Glows pada Bram, yang Bram anggap sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi kasus sepeda Via menekannya bagai sampah.


Menahan geram mendengar cerita dari Bram. Hari, dengan segera tersenyum kecil saat itu. Terpikir beberapa hal yang mungkin dapat dirinya lakukan untuk membalas setiap dari perlakuan yang Bram, terima.


“Jadi kau mengajakku bertemu untuk membalas setiap dari perlakuan mereka padamu? Maka bisa kukatakan kau datang ke orang yang tepat." Hari, dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya.


“Eh? Lalu apa?" Hari, tidak mengerti.


“Aku ingin melakukan semua itu seorang diri." Bram, saat itu.


“Lebih bagus kalau begitu, biarkan aku membantumu." Masih tidak menyerah Hari, saat itu ingin ikut ambil bagian dalam rencana balas dendam yang akan kakaknya lakukan, tidak Terima bagaimana Bram, mendapat perlakuan seperti itu tanpa sepengetahuan dirinya.


“Boleh, tetapi bantu aku terlebih dahulu sebelum itu." Bram, sama sekali tidak keberatan bila Hari, ingin membantu.


Tetapi sebelum itu, ada satu hal penting yang saat itu ingin Bram minta, Hari lakukan untuknya.

__ADS_1


“Apa itu? Katakan saja." Hari sama sekali tidak keberatan, sebelum harus menyesal setelahnya menyetujui permintaan Bram.


“Antar aku kembali ke rumah. Aku ingin melunasi hutang Elea kekasihku, sebanyak 35T, dengan begitu serius aku juga ingin melamarnya.


“Tidak!!! Jangan harap!!!" Hari, segera bahkan tanpa berpikir sekalipun.


"Kau gila kak, itu sama saja menggorok leherku. Di saldoku hanya 3T. Bisa kau pakai, jangan harap soal itu." enggan Hari, mencari masalah pada orangtuanya.


Bram sedikit bingung, saldonya telah terkuras sisa 2T. Bahkan misi aplikasi belum lagi ada kabar, setelah membeli tanah desa sengketa.


"Kau benar ingin meminta bantuan pada papa dan mama kak?setelah terakhir kau buat ulah, nyawaku dalam bahaya."


"Lusa, sementara aku telah membeli tanah dan perusahaan."


"Kau harus ke Jepang! Bicara dengan papa, kau gadai dengan asetmu tanpa mama tahu. Aku bantu pertemuan bagaimana kak?" iba Hari.


Tling!


Tak begitu lama, pesan kembali membuat hati Bram tersenyum, kala misi dari ponselnya ia akan mendapat tantangan baru, dengan bayaran setimpal setelah mengantarnya. Setidaknya ia tak perlu melibatkan keluarganya lagi.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2