Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
ADA YANG MEMOTRET


__ADS_3

DI Tempat Lain.


Setelah bertemu dokter Rain, Mikha menghubungi Osin, berharap ia mau menemaninya ke rumah sakit. Ia dengar keadaan mama Inggrid telah membaik. Bahkan perjumpaannya kali ini bersama dokter Rain adalah meminta detail alamat suster yang di curigai membantu Lena agar pasien lumpuh.


Tak mendapati lama, mas Hari memberi pesan ia akan datang menyusul ke rumah sakit setelah meeting, itupun saat ia mendengar Osin mendapat telepon dari istrinya.


Beberapa Jam Kemudian.


Osin menenangkan mama Inggrid. Ia juga mulai menenangkan kala kasus Lena yang menjebak Mikha dan sabotase di gedung green Ho. Hingga di mana, Osin meminta mama Inggrid untuk tenang, kala terjadi kemungkinan yang terburuk.


Beberapa saat Mikha menjenguk, ia menatap, mama Inggrid senyum kecil, yang masih tak bisa bicara saja. Wajah sedihnya kembali berurai air mata. Hal itu di sadari oleh sang dokter yang tak jauh melihat aksi dua wanita yang saling bercerita di masa lalu. Tapi ia sebagai pria, hanya bisa mendengar dan mencoba untuk mendampingi sesuai janjinya.


'Yah, kenapa melihat wanita menangis. Aku seperti ingin ikut juga?' batin dokter, yang di sampingnya ada Hari baru tiba, dibalik pintu.


Mama Inggrid sangat kecewa pada Lena, menantunya Mikha yang berharap di sayangi mati matian oleh anaknya. Tapi balasannya adalah bermain api dan mengkhianati putranya, dan kini tahu jika Mikha sempat di celakai, bahkan semua aset telah di ganti namanya dan di jual sepihak.


'Dasar tidak tahu diri, apa yang ada di pikiran Lena, kenapa ia harus bertemu dengan anak mama dan ada di keluarga ini, apa karena dosa masa laluku dulu pada Bram yang keterlaluan. Jika seperti ini, sungguh memalukan, aku ingin segera sembuh dan menampar Lena. Oh tuhan.' batin Inggrid, yang hanya bisa menggerak mata dan jari saja.


Osin memeluk mama Inggrid, ia begitu bingung harus ada di posisi siapa. Jika di Mikha ia benar semakin sakit melihat mama Inggrid. Jika di posisi mama Inggrid tidak adil bagi Mikha, dan ia juga amat kesal dan dendam pada Lena yang pernah mengambil nama aslinya saat dulu, ia benar memaafkan. Tapi melupakan itu sulit, hingga ia benar benar rapuh kala dirinya harus menjadi nama Osin yang aslinya adalah nama Lena, bahkan kehidupannya jauh menderita dan memilukan jika tak bertemu mama Inggrid.


Mereka pun bergantian membantu Inggrid setelah sadar dari komanya. Dan Mikha pamit keluar setelah mama Inggrid akan dijaga oleh Osin dan Ryo Karena saat ini terlihat suster sewaan mas Hari juga akan menjaga mama Inggrid 24jam.


"Mama cepat sembuh, lain kali Mikha datang lagi. Besok dan seterusnya ya!" kecup Mikha pada kening ibu mertuanya yang sakit komplikasi itu.

__ADS_1


BERBEDA HAL DENGAN MIKHA.


Mikha kini berada di taman, ia menatap punggung mas Hari yang semakin gelisah. Entah ia marah, karena mendengar nama Dani. Atau masa lalunya yang lebih dulu mengenal Inggrid bersama Osin dengan keluarga Dani, dimana dulu mereka sebaya.


"Mas, jika aku salah. Aku minta maaf ya!"


"Heuumph, sayang. Mas hanya kecewa pada diri mas. Seharusnya mas menemukan kamu lebih dulu, mas merasa canggung antara hubungan kalian dengan ibu mas."


"Maksud mas, meragukan aku dan Osin. Tapi kenapa?"


"Mas sedang menangani kasus Dani, tapi ada yang janggal. Mas minta kamu tak dekat dulu dengan mereka, karena mas yakin ada sesuatu yang lebih fatal."


"Mas, aku paham. Tidak mudah bagimu menatap istri muda dari papamu. Bagaimanapun kisah mereka, aku paham kamu merasa membencinya bukan."


Hari menatap Mikha yang terdiam, ia cukup tahu perasaaan Mikha kecewa. Setelah kini menjadi istrinya. Ia harus membatasi siapapun yang berada di dekatnya. Karena Hari meminta Mikha menjenguk ibunya hanya dengannya saja.


"Maafkan mas Mikha, semua demi keselamatanmu kelak!" lirihnya memeluk.


"Mas, sudahlah. Bukankah kita hari ini ingin mencari toko? Lagi pula, mas adalah segalanya yang akan terus aku turuti perintah demi menjadi istri terbaik mas."


"Ah, ya. Benar sekali, toko kue yang pernah kamu dan Osin inginkan ya?" senyumnya.


"Heum, sebenarnya Osin mas yang ingin. Tapi karena aku juga suka dan senang meng'oven dan merias berbagai model kue. Aku dan Osin mempunyai impian, tapi kamu kan tahu. Aku ahli di kantor kan. Gimana kalau aku tetap bekerja di kantor mas?"

__ADS_1


"Sayang, dengan kondisi kamu. Mas rasa kamu harus membuka usaha sayang. Meski begitu, mas izinkan kamu sementara bekerja menemani mas. Tapi setelah toko selesai renov, perlahan kamu harus mencoba ya. Hanya menjadi bos!"


Mikha mengangguk, hingga di mana ia cukup terkejut kala ia memeluk suaminya. Ia menatap seorang pria yang berlari dan seperti habis memotretnya diam diam. Entah mengapa, Mikha melepas eratan pelukan secara tiba tiba.


"Kenapa sayang?"


"Mas, aku rasa ada yang memotret kita. Apa mungkin mereka memata matai mas. Mas, aku harap mas berhati hati ya. Perasaan aku tak enak saat ini. Takut terjadi sesuatu!"


"Hei, sayang. Jangan panik, tidak ada yang terjadi pada kita. Mas yakin, itu hanya perasaan tak berarti saja. Ayo kita ke dalam! mas akan mengendarai saat ini."


Mikha sedikit ragu, entah mengapa ia semakin gugup. Semakin tak karuan, kala dirinya akan pergi berdua saja bersama suami tercinta. Tapi mengingat jelas. Apa yang ia lihat bukanlah ilusinya. Mikha berusaha untuk menenangkan diri, berharap perjalanannya tak ada hambatan apapun.


Hingga di mana jari tangannya terbentur kayu dinding tembok dekat pintu lift saat ia membelok.


"Auuuwh."


"Sayang, hei. Kamu kenapa tangan mu berdarah?"


Hari, menyesapi jari tangan Mikha yang berdarah, mengisapnya dengan membuat luka itu tak mengeluarkan darah. Hingga di mana Mikha tiba tiba sedikit pusing, ia mencoba menyeimbangi dirinya agar tetap terjaga.


"Sayang, hey. Kamu kenapa?" terkejut.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2