
Namun lagi-lagi Bram terpaksa harus mengalah, dia yang sudah memutuskan untuk menolong Jingga. Lalu apa sekarang memang yang bisa dilakukan olehnya?
'Hihihi, dia pasti gondok banget kan tuh sama aku? Aku pegang-pegang tangannya kayak gini merangkulnya dan aku senderan di lengannya? Tapi dia nggak bisa ngomel soalnya kan sekarang lagi ada di mobil!'
Lain Bram lain Jingga, wanita itu justru memanfaatkan keadaan ini untuk bermanja-manja sedikit dan dia tidak bisa diomeli oleh Bram. Sungguh keberuntungan besar untuk Jingga.
'Haduuuh, tapi kenapa juga sih Derek dia bawa mobilnya cepat-cepat banget sih? Ya jadinya aku udah sampai di rumah deh!'
Rasanya baru sebentar sekali Jingga bermanja-manja dengan lengan itu, tanpa terasa setengah jam lebih sudah berlalu dan sekarang gerbang rumah orang tuanya pun sudah terlihat.
'Mudah-mudahan di rumah aku punya kesempatan lebih banyak untuk manja-manjaan sama Bram! Hahaha, pokoknya aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku!' seru hati Jingga. Dia memang gemas sekali dan rasanya tidak bisa ikhlas kalau harus kehilangan sikap romantis pria kulkas si langka yang cuek, itulah cara perhatian Bram. Karena itu, Jingga tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Mau sampai kapan pegangin tanganku? Kita udah sampai di rumahmu! Lihat mobil sudah masuk gerbang!"
"Ish, belum dapet balesan yang tadi aku kasih! Kan aneh sih kalau aku ga dapet yang kayak gitu, Padahal kalau kau benar-benar suka padaku pasti kau akan memberikan itu kan? Pasti kan mesraan di mobil bukan diam kayak gini?"
Sambil berbisik tentu saja hanya bisa didengar oleh telinga Bram permintaan itu sudah diutarakan lagi oleh Jingga.
"Kau, ingat perjanjian kita apa?"
"Tapi kau juga berjanji padaku untuk membantuku sampai tuntas kan?"
Lagi-lagi Bram harus merutuki kesalahannya yang sudah memberikan keputusan untuk menolong Jingga. Tapi memang apa yang bisa dilakukan sekarang? Dia sudah berjanji.
CUP!
"Nggak ada satu detik! Terus kenapa cuma di dahi?"
"Sudahlah masih mending segitu daripada aku pulang dan mengadu yang sebenarnya kalau--"
"Oke ga usah kasih lagi! Kita turun sekarang!"
Jingga tentu takut kalau diancam dengan yang satu itu, dia pun memilih untuk menunjuk ke pintu supaya Bram membukanya dan mereka berdua bisa turun dari pintu yang sama supaya romantis.
Tapi itulah yang menunjukkan kebesaran dan kerajaan keluarga Jingga. Tampak makin gagah dengan cat berwarna putih gading terlihat sempurna, bak istana ratu Inggris. Mungkin setiap orang menginginkan untuk tinggal di sana tapi tidak dengan Jingga.
"Ayo turun!"
__ADS_1
Kalau Bram tidak mengulurkan tangannya dan menyapa Jingga wanita itu masih terpaku di kursinya merasa berat.
"Iya!" ucap di bibir Jingga.
Meskipun!
'Sudah bertahun-tahun aku tidak kembali ke rumah ini! Ke rumah rasa penjara!'
Berbeda dengan Jingga justru dia merasa tertekan dengan rumah itu, tapi melihat Bram sudah mengulurkan tangannya.
"Nah gitu dong kasih tangan biar kelihatan makin romantis!"
Jingga tidak menyia-nyiakannya justru dia malah berucap begitu sambil mengedipkan mata. Tentu saja Ini membuat Bram tidak tahu apa isi hati wanita itu.
'Sial! anak ini pintar sekali mengambil kesempatan. Tapi apapun yang dia lakukan aku tetap tidak akan tergoda padanya! Haah, hatiku sama sekali tidak pernah jatuh hati pada wanita manapun dan lihat saja aku pasti akan membuktikan padanya, kalau memang aku tidak mencintainya! Aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Iris kupingku kalau aku sampai jatuh cinta padanya!'
Sombong? Tentu saja! Selama ini tidak pernah ada wanita yang membuat Bram tertarik, karena itu dia sangat yakin. Hatinya memang tidak akan pernah tergoda pada Jingga.
"Sebaiknya daripada kau berfokus untuk meluluhkan hatiku bukankah lebih baik kau fokus pada rencanamu? Apa yang ingin kau lakukan untuk membuat ayahmu percaya?"
"Eh, itu!" Jingga tadi memang lagi senang-senangnya menggoda Bram, tapi pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Jingga merengut.
"Sssh, menjauh dariku jangan dempet-dempet begini tidak enak!"
"Jangan galak-galak padaku, kakiku kan lagi sakit!”
“Tak perlu pura-pura! Bilang saja kau ingin digendong!” seru Bram berbisik, masih di posisinya yang sama di pintu mobil yang belum ditutup dan saat ini Derek sedang keluar dan dia mengambil koper dan tas milik Jingga dan Bram.
"Hmm, sebenernya enggak sih, kecuali kalau kau ingin menunjukkan kemesraan kita depan ayahku.”
"Jangan berpikir bodoh!" seru Bram malas.
“Tapi itu ide bagus. Bukankah dengan begitu akan terlihat kalau kita memang sepasang kekasih yang saling mencintai? Kau sangat peduli padaku sampai kau harus menggendongku kelak.”
"Ayo kalau kau sudah bisa jalan, ayo jalan!" Bram malas sekali mendengar ucapan Jingga dan tak sengaja pandangan matanya mengarah ke sesuatu.
"Jadi kau tidak mau menggendong aku?"
__ADS_1
Di saat Jingga tidak fokus dan masih berusaha untuk membujuknya
"Jingga!"
Bram melirik wanita itu. "Daripada kau pikirkan masalah gendong menggendong, lihatlah di pintu yang berdiri itu ayahmu kan?”
"Eh iya, aduh!" Jingga galau sangat.
'Tahu rasa dia ketahuan ayahnya! tapi kenapa dia malah memegang tanganku sangat erat begini?'
Jingga ketakutan sehingga dia mencengkram Bram begitu kuat, tangannya pun juga terasa dingin di lengan Bram. Mata pria itu melirik pada Jingga.
'Kasihan sekali bocah ini! Dia benar-benar membutuhkanku untuk membantunya!'
Rasa dibutuhkan tiba-tiba hinggap di dalam hati Bram. Pria itu melihat langsung bagaimana ketakutan Jingga dan ini membuat dirinya tanpa disadari
Justru!
"Ayo jangan khawatir! Kita temui ayahmu! semua akan baik-baik saja!"
“Huh?" Jingga mendongakkan kepala dan dia melirik pada wajah Bram, yang tingginya hampir dua puluh senti di atasnya.
'Tadi dia mau ngomel padaku karena aku mencari kesempatan tapi sekarang dia malah memperhatikan aku. Ya ampun! Kenapa sih yang manis gini nggak suka sama aku?'
Batin Jingga benar-benar terpukau, dia pun sudah melangkahkan kakinya sangat pede menuju ke rumahnya dengan Bram, ada di sampingnya. Pria yang berada di sana membuat hati Jingga memang tadi takut.
Tapi!
"Hello father, long time no see, really missed you!" ucap Jingga, pas sekali di depan ayahnya dia mendekat dan memeluk pria itu.
"But i think you don't have to standing here waiting me."
"Oh, aku rasa kau salah paham!" ucap Bram pada Jingga, pria itu tersenyum lalu menunjuk ke arah sebuah mobil yang baru saja memasuki pelataran rumahnya.
"Aku mau menyambut calon menantuku di sini, Mr Boim!" ujar Tjandra, membuat mata Jingga membola.
Bram tertawa melihat ekspresi Jingga, lagi pula Bram datang hanya ingin tahu sebesar apa keluarga Tjandra, yang pernah menyakiti keluarga Hartanto.
__ADS_1
TBC.