Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 ACARA SYUKURAN


__ADS_3

Pembuatan mansion di lengkapi sinar system, membuat tempat tinggal kediaman keluarga Bram Hartanto tampak megah, selain mewah banyak asisten dan bodyguard, membuat hidup Siren sebagai menantu ikut was was.


Dimana sinar system transparan, akan menjadi tali strum jika ada orang jahat dan membahayakan bagi penghuninya, di beberapa sudut ruangan penting, untuk keselamatan penghuninya. Jujur saja berlebihan, tapi semenjak banyaknya tragedi membuat perusahaan keluarga nomor 2 itu tambah dikenal dan selalu memprogram alat yang diluar nalar.


Satu tahun kemudian, Siren dan Damar menggelar ulang tahun bayi Haico.


"Cucu grandpa kenapa disini sayang, kasian kamu udah bangun ya. Di tinggalkan sendiri ya kamu nak, ayo opa gendong."


Suster Rani telah cuti berhenti karena urusan pribadi, Siren kesulitan mencari pengganti. Padahal ia telah nyaman, Siren tak suka akan karyawan yang bongkar pasang. Baginya kenyamanan yang utama, ia pernah ada diposisi terendah tak memandang karyawan itu, apalagi membedakan.


"Siren, kamu sedang apa?" Bram menghampiri.


"Dad, maaf Granpa sudah mau ke butik ya?


Haico sudah bangun, maaf ya Dad, Siren kerepotan, sedang membuatkan susu. Hanya saja Haico tidak bisa diam, sudah mulai aktif. Jadi Siren letakkan di teras, dimana ada skat pagar, bayi itu bermain sendiri. Haico nampak sudah lapar, tidak bisa bersabar."


"Siren, jangan jadi beban. Sebentar lagi Damar datang akan membantu. Tidak perlu membereskan dan membuatkan makanan bayi Haico."


"Ya Dad, tapi Siren mau belajar lagi pula bi asih sedang ke pasar membeli bahan yang kosong, dengan mang Jala."


"Ya sudah, Dady tinggal dulu ya. Jangan lupa sore nanti, ke butik syukuran ulang tahun bayi Haico, dan kita akan siapkan akhir pekan. Kita pindah ke paris, kamu ga keberatan kan sayang."


"Iya Dad, kemanapun sudah seharusnya Siren selalu bersama ikut kemanapun Damar dan Dady tinggal,"


Bram pun mencium bayi Haico, memeluk hangat, Siren dan pergi berlalu. Sementara Siren menggendong bayi Haico yang sangat aktif.

__ADS_1


Siren pun mencium dan menyuapi bayi Haico dengan buah pisang, blueberry dan madu yang telah dihaluskan. Wah, ia amat bahagia.


sesekali, ia menimang menatap langit di ujung balkon, dengan memangku Haico dan sebuah mainan pesawat kecil, Siren pun antusias menemani.


"Sayang, sedang apa?" Damar menghampiri anak dan istrinya diujung balkon kamar. Ia memeluk istrinya dan mengejutkan membuat surprise.


"Haico sudah kenyang hubby, ia baru saja makan dengan lahap." ucap Siren.


"Benarkah sayang, ayo peluk dan cium papi


seharian ini kamu tidak menyusahkan momy kan boy, kamu sehat dan menggemaskan." bayi itu terlihat tertawa.


"Sayang, sore ini kita hanya syukuran di butik Dady sederhana. Masih ada waktu apa kamu mau kita istirahat sebentar, bermain air bersama, makan bersama dan kita jalan jalan boy." ucap Damar dengan bahagia.


Bayi Haico hanya tersenyum tertawa, jika Damar tiba.


"Kamu jangan khawatir sayang, Zei akan sesekali membantu mengontrol butik Dady. Bahkan butik Dady telah di ambil ahli, dan bagi hasil bersama Zei, dan Dani aku rekrut menjadi orang kepercayaan ku di kantor, aku akan membuka kantor bersama paman Hari, perusahaan Dady semakin maju, jadi kami memutuskan menambah kantor. Di paris, kamu akan selalu bertemu Mikha, Nara dan yang lain. Jadi tidak kesepian."


"Benarkah hubby, terimakasih aku tidak kesepian disaat kamu sibuk."


Siren dan Damar berdiri berhadapan, saling memandang dan ditengah ada bayi Haico yang memandang kedua wajah orangtuanya dengan tertawa kecil, Damar tak bisa menahan kebahagiaan, ia mengecup ranum istrinya,


Cup.


"Terimakasih sudah hadir di hidupku ratu masa depan."

__ADS_1


"Terimakasih tuan tampan, selalu memujiku berlebihan, aku amat bersyukur dan beruntung. Karena tuhan mengirimkan kamu untuk diriku."


Haico mengoceh dalam gendongan Damar, Siren pun memeluk suaminya, sementara Haico memeluk dan menatap wajah papa Damar, mereka memeluk hangat dan menatap langit biru yang cerah di pagi hari.


Kini dari masa lalu aku belajar, kini dari wanita karier aku pun belajar menjadi ibu dan istri yang baik untuk suamiku. Inilah kekuranganku yang tak pandai mengurus apapun sendiri, bahkan masak pun rasanya aku tak bisa, tapi aku tetap belajar dan berusaha. Bahkan menjadi istri dan menantu sultan membuat Siren tak pernah membayangkan, begitu banyak ujian menerpanya, bahkan menggeser ingin berada di posisi Siren saat itu.


Sore tiba, di butik Dady Bram menggelar syukuran 1 tahun bayi Haico, bahkan bertepatan butik Bram yang akan diambil ahli oleh Zei, yang berjasa mendonorkan darah bagi Siren, dimana ia adalah suami sepupu Damar.


Kini mereka menjadi partner bisnis. Sehingga Bram, di usia senjanya tak repot akan mengurus butik di kota padat. Hanya menerima hasil empat puluh persen, karena perusahaan sinar system semakin canggih dan berkembang, dimana perusahaan timun emas, serta beberapa lainnya mampu di dirikan, dan bahkan berkembang ke luar negri.


Terlihat Hena si karyawan magang, tersenyum bahagia akan kisah kakak kelasnya Damar sang senior, Zie sesekali menatap Hena karyawan tetap nya kini.


Hanya syukuran adalah hal yang sudah baik. Bukan berarti Damar dan Bram tak mampu, hanya saja kebahagiaan itu didasar dengan nyaman. Nyaman akan sikap, dan bergaya apapun jika memaksa tapi tak nyaman hanya sia sia.


Paman Kenan antusias hadir, Mikha juga hadir. Hingga berakhir Kara, datang menyusul dengan tunangannya, ia membawa undangan pernikahan. Otomatis semua berkumpul bahagia dan haru.


Mikha hanya menatap bahagia, ia menatap Dani dimana sedikit jatuh hati, berpaling dari Hari Hartanto yang nampak cuek membuat Mikha lelah mencintai pria berumur itu.


Begitupun sebaliknya, namun tembok pembatas Hari, yang ikut hadir pun, menjadi tak sedap dipandang bagi Mikha dan Dani.


Ozi, Merli dan Isa anak mereka hadir. Narti dan Ricky pun ikut hadir, tak kalah bahagia Narti kini telah hamil muda, rasanya benar benar satu butik penuh dengan orang bahagia nan indah.


Siren nampak menoleh, dimana terlihat wajah Mikha dan paman Hari, nampak tak baik baik saja. Namun ia urungkan menegur, karena ramai.


Berkumpul rasanya bahagia, menjelang Siren akan pindah di mansion Paris, dimana Siren juga belum tahu seperti apa disana.

__ADS_1


'Keluarga terbaik, aku bersyukur dilahirkan menjadi Siren.' batin nya.


TBC.


__ADS_2