Pengantar Box Jutawan

Pengantar Box Jutawan
S2 KEJUTAN BONEKA SYSTEM OF


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Siren kembali pergi. Ia janjian, ketika pesan Damar akan menemuinya setelah jam pulang kuliah di tempat yang aman. Maka Siren putuskan, menemui di halte tak jauh dari university.


[ Siren! aku membawa sebuah boneka mirip seperti robot! tetapi dia bisa bicara, apa kau percaya jika aku membawakan mu untuk menolong hubungan kita? ] pesan Damar, membuat Siren senyum.


"Tak disangka, kita bertemu kembali ya girls?" Alex dari balik punggung, ia menatap Siren.


"Paman Alex, di dekat sini juga? kenapa bisa kebetulan ya?"


"Benarkah, ya kebetulan."


Tapi saat Siren ingin bicara, ia hentikan ketika satu mobil berhenti seolah menghadangnya.


"Hei kalian tersenyum memandang?" lirih seorang pria senyum.


"Damar." merona bahagia


"Kamu mengenalnya Siren?" tanya Alex.


"Dia kekasihku." balas Siren.


"Apa maksudnya kekasih asli ?"


Alex pun menggelengkan kepalanya penuh bingung, lalu menyambut ketika Damar mengenalkan diri, di luar mobil.


"Damar, kenalkan ini paman Alex. Tempo lalu aku pernah ditolong olehnya."


"Realy?"


"Benar, tapi serius aku ga ada hubungan apapun dengan paman itu, kamu percayakan padaku?"


"Hehehe! Kenalkan lagi, dia paman Alex yang aku minta untuk mengawasi Mu, agar tidak celaka oleh pria yang hobi teror kamu terus. Termasuk dari Daru." bisik Damar.


"Serius, ya ampun Damar. Kamu so sweet sekali, apalagi paman ini ga jelasin kalau dia orang kamu." sebal Siren.


Sehingga perbincangan mereka makin hangat. Tidak sangka jika paman Alex adalah pelindung yang di kirim Damar untuk Siren, dari jeratan Daru.


Paman Alex pun pamit, ketika ia menerima panggilan dari Bram, hal itu membuat Damar banyak berterimakasih karena satu satunya yang mendukung hubungannya dengan Siren adalah orang lain, yakni kepercayaan dady nya.


 


 


"Damar, kamu mengejutkan ku seperti tadi?" tutur Siren, yang pindah ke mobil Damar.

__ADS_1


"Aku ingin membawamu ketempat sesuatu, tenang saja. Tuan putri akan selamat sampai tujuan. Dan lebam di pipimu itu ulah Daru kan. Aku akan membuat perhitungan padanya!" bersabarlah sedikit lagi Siren, aku akan memperjuangkan, dan memohon restu papa mu. Aku juga sedang menaklukan dady Bram, agar hubungan kita di restui."


Siren menatap Damar, akan perlakuan dan tersanjung sikap baiknya. Siren berharap Damar tak pernah meninggalkannya jauh, tapi ia paham akan resiko Damar yang kini sibuk akan sering meninggalkan nya keluar kota, andai kuliahnya selesai, ingin sekali menemani Damar kemanapun. Muda, tampan dan kaya pria unlimited.


"Ada yang kamu pikirkan?" tanya Damar.


Siren hanya menatap senyum kecil. Damar pun menggenggam tangan Siren, akan kerinduannya. Hingga tiba di suatu tempat yang Siren pun tidak mengetahui dan pertama kalinya.


"Rumah siapa ini?" tanya Siren.


Damar meminta maaf beribu kali, maafkan disaat sulit mu aku tak di sampingmu. Aku janji akan meluruskan dan menyelesaikannya.


bersabarlah Siren.


"Ayo turun aku akan mengajakmu menemui ibuku, sudah seharusnya kamu tau sisi keluargaku."


"Ibumu, bukannya dia sudah meninggal?"


"Kelahiran Boneka System, hanya aku yang bisa membuat kamu melihat ibuku, rumah ini satu satunya hanya aku dan kamu yang tahu. Karena aku anggap kamu bagian keluargaku kelak, jangan pernah beritahu siapapun ya!"


"System, apa maksudmu Damar?"


"Kekuatan dari komputer dan sinar tak kasat, aku dan paman Alex dibantu Oliver si utusan langit, membuat kenangan masa kecil terlewati, aku bisa merasakan kasih sayang mama setelah aku dewasa. Bahkan dady Bram tidak tahu. Kecuali .." terdiam Damar tak melanjutkan.


Siren hanya menatap keindahan, akan rumah yang asri dan sejuk. Rumah yang berada ditengah dengan halaman luas.


Tidak tingkat namun dikelilingi tanaman dan pohon yang besar luas.


"Mama suka bunga ya Damar? hampir seluruhnya penuh dengan bunga indah sekali."


"Cukup tetap setia di sampingku Siren! meski nanti orang anggap aku gila dan terlalu halu, nyatanya dengan hati yang tulus kita bisa melihat ibuku di dalam rumah ini, sama seperti kehidupan manusia pada umumnya."


Siren mendengus nafas panjang, saat Damar mengeluarkan kata yang membuatnya berbunga dan menyesakkan. Sepanjang jalan menuju pintu rumah, mereka melewati halaman dan terhenti duduk ditengah taman.


Damar mengajak Siren, duduk ditepi ayunan sebelah bunga mawar, anggrek dan lily.


Damar juga menceritakan jika mama orang yang tegas, baik dan cantik dan Damar juga menceritakan tentang wanita yang selalu ia perjuangkan.


"Hanya pada dua wanita yang tak bisa aku sakiti adalah, mamaku Elea dan dirimu Siren."


Gleuk.


"Benarkah apa ia akan senang jika bertemu denganku pertama kali, aku gugup Damar."

__ADS_1


"Eum .. sedang apa sudah malam berdua di taman?" suara wanita paruh waktu.


Siren menatap celah suara ditepi. Ia menatap seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam, menghampiri.


Siren begitu nervous dan penuh tanya, ia mengucap salam dan menundukan kepala, ketika wanita itu berjalan mendekati tepat dihadapan wajah Siren dan menyentuh dagu nya.


"Siapa namamu, kenapa wanita malam selarut ini, berkunjung ke rumah pria!"


"Damar ini sudah larut malam bukan. Tidak habis pikir malam seperti ini membawa wanita, dan kamu sudah tau kan wanita tidak baik sopan bertamu dimalam hari." tegas sang mama.


"Jika ketauan warga bisa mencoreng nama keluarga kita Damar." tambahnya.


"Tapi mah, Damar hanya?" belum selesai Damar menjawab, Siren menambah dan berbicara karena memang tidak sopan bertamu dimalam hari.


"Maaf tante, saya akan segera pulang. Maaf malam sangat mengganggu, Damar biar aku kembali dengan taksi saja."


Damar hanya menatap dengan diam seolah menahan tawa, sehingga Siren menatap Damar penuh kebingungan.


"Mau kemana cantik?"


Suara wanita separuh baya menahannya. Membuat tatapan Siren dan Damar saling bertukar posisi, terlebih lagi boneka system menyerupai mama Damar yang telah tiada, ia bener benar mirip sekali. Entah apa yang ada di pikiran Siren, ketika pria bernama Damar selain kaya, ia bahkan bisa menyulapnya?!


"Kamu Siren kan, kemarilah mendekat. Tante hanya bercanda, lucu sekali wajah kamu.


"Ayo masuk makan malam bersama, sudah malam mengapa duduk diluar, dasar anak nakal, mama sudah menunggu kamu Siren." ucap mama membuat Siren semakin malu


Siren yang gugup menjadi cair dan malu, ia menatap senyum pada tante Elea, yang memapahnya masuk kedalam rumah. Damar pun, hanya tersenyum mengingat ekspresi Siren yang seperti tadi.


"Maaf ya tante membuat mu panik takut yakni semua ide Damar, hanya saja tante terlalu membebaskannya. Sebentar tante ambil sesuatu tunggu disini ya, kalian santailah dulu!"


Sementara Damar tertawa dengan satu tangan menutupi wajahnya. Mencoba menghindar dari tatapan Siren.


"Hei pria menyebalkan! berani ya kamu mempermainkan aku. Jahat sekali kamu tuan." tutur Siren, yang memicik bibir dengan kesal.


Damar pun masih tersenyum akan ekspresi kekasihnya itu.


"I am sorry honey."


"Honey .. kamu panggil aku apa?" terkejut Siren.


Hingga tiba mama Damar kembali, mereka makan bersama berbincang panjang. Siren menanyakan hal kebiasaan sang mama Elea, karena waktu yang singkat Siren pun tidak banyak cerita sampai akhir pada ibunya dari sebuah boneka system.


'Apa Damar punya sisi kelam, apa dia kaya karena system? apa itu system, hingga orang mati pun bisa ia hidupkan. Pria genius, mereka amat genius sekali.' batin Siren masih membola menatap dalam rumah itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2