
Bram mengakui bahwasanya dia terlalu emosional tadi, sehingga sulit untuk berpikir dengan benar. Wajar kalau Olive mencemoohnya demikian, tapi adakalanya sebagaimana manusia yang memiliki perasaan alangkah baiknya kalau bisa menjaga lisannya.
"Sudahlah, tidak perlu menunjukkan ekspresi terkejut seperti itu. Aku sudah bisa menebak isi kepalamu itu. Jadi, tidak perlu memendam kata-katamu di sana, ucapkan saja dengan bahasa yang baik dan benar," cemooh Olive tanpa merasa bersalah.
Bram hampir saja mengumpat, tetapi kadar emosinya yang sudah menurun dan mengingat Olive bisa mengubah dirinya menjadi bongkahan es batu, akhirnya dia tidak jadi berkata kasar, malah mengulas senyuman terbaiknya, meskipun dilakukan secara terpaksa.
"Senyumannya terlalu dibuat-buat, tidak tulus dari hati," celetuk Olive enteng.
Bram meredam, merasa setiap tindakannya selalu salah di mata pria yang mengaku-ngaku sebagai Utusan Langit itu.
Olive terkekeh sedikit, meskipun begitu dia tetap menjaga sikapnya agar tetap berwibawa. Tidak mungkin dirinya menunjukkan senyuman ceria di depan Bram , sungguh akan menjatuhkan martabatnya sebagai Utusan Langit.
Suasana yang sempat mencair kini hampa kembali, lantaran Bram yang lagi-lagi murung.
Kini Olive benar-benar merasa iba pada pemuda tersebut. Dia menghela napas berat, "Untuk apa kau bersedih seperti itu? Bersedih saja tidak akan membawa jalan keluar dari setiap masalah."
Pada ucapan kali ini, Bram masih belum mengangkat kepalanya. Dirinya malah menjatuhkan badan dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Sebenarnya aku juga tidak ingin bersedih, tapi entah mengapa otakku sama sekali tidak bisa diajak untuk berpikir," aku Bram terdengar hampa.
Oliver Kristalion bergumam seraya mengelus dagunya, "Aneh sekali ya. Bukannya pagi ini kau berhasil keluar dari masalah besar?" tanyanya penuh selidik.
"Bagaimana bisa Tuan mengetahuinya?" baliknya bertanya dengan polos. Namun, sedetik kemudian Bram sadar, "Oh iya, aku lupa. Tuan 'kan Utusan Langit, wajar jika mengetahui setiap kegiatanku."
CLING ..
Tanpa menanggapi ucapan Bram, Olive lebih dulu menjentikkan jarinya, lalu muncullah sebuah buku yang selalu disebut dengan Buku Takdir.
Bram melirik ke arah buku tersebut. Kali ini dirinya tidak terlalu terkejut, malah biasa-biasa lantaran sudah sangat sering melihat Olive memunculkan buku tersebut hanya dengan menjentikkan jarinya.
Sementara itu, sang pemilik nama pun mengangkat kepalanya. Sebenarnya dia tidak mood mendengarkan ucapan Olive, tapi mau bagaimana lagi? Bram pasrah dengan hidupnya.
"Bram Hartanto" ulangnya setelah memastikan si pemilik nama bereaksi. "Hari ini kau telah berhasil menyelesaikan tugas sebagai Guru ..." Jedanya kemudian. Entah angin apa, Olive ingin sekali melihat reaksi Bram sekarang.
Benar praduganya. Bram beringsut cepat dari duduknya, "Bagaimana Tuan tahu kalau aku menjadi guru tiga bahasa?" Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
__ADS_1
"Dari Buku Takdir ini," balas Olive enteng, sambil mengangkat buku bersampul coklat itu.
"Jadi, kalau begitu, Tuan sebenarnya tahu kalau aku bakalan menjadi guru tiga bahasa, begitu kah?"
"Binggo." Olive mengangguk, sambil melipat kedua tangan. "Lalu kenapa saat aku bertanya, 'Diriku menjadi guru apa?' mengapa Tuan tidak menjawabnya?" cecar Bram sulit menyembunyikan keterkejutannya.
"Coba pikirkan baik-baik. Andai saja diriku mengatakan padamu tentang apa yang akan terjadi pada hidupmu dari Buku Takdir ini, maka namanya bukan takdir. Secara tidak langsung itu akan menyalahi kodrat Langit. Dalam hakekatnya, manusia memang tidak mengetahui takdir seperti apa, yang akan didapatkannya. Entah itu kabar buruk atau kabar baik. Jadi, salahkah aku jika tidak mengatakannya?"
Bram termangu. Tidak jadi dirinya untuk protes panjang lebar sebagaimana dirinya inginkan tadi. Pada akhirnya, yang Olive katakan sepenuhnya benar. Manusia memang tercipta tanpa mengetahui takdirnya seperti apa.
Jodoh, rezeki dan maut menjadi rahasia Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan-Nya, manusia pada hakikatnya hanya bisa berserah diri dan berusaha. Akan hal Bram pernah kesal dan menelantarkan kekecewaannya pada mama Inggrid dan Hari yang telah meninggalkan sang papa, mengosongkan uang di berangkas. Saat itu juga Bram tak peduli, mengusir mereka dan terkejut ketika bertemu Hari, ibu tirinya sedang berjuang melawan penyakit. Dari situlah sistem menganggap Bram angkuh dan sombong.
Saat kehidupan pertama Bram, misi deliverynya adalah menjadi orang baik, memaafkan orang yang tidak berlaku adil tanpa membalasnya. Dan kini menjadi bos jutawan misinya adalah mencari dalang seluruh penjahat, yang Bram juga bingung mereka bersembunyi atau menyamar dimana.
"Kenapa diam, ingat semua kesalahan kehidupan pertamamu yang ceroboh? Ingat setelah berada diatas jangan sombong dan balas dendam pada mereka yang telah menyakitimu Bram!" jelas utusan langit seolah menceramahinya saat itu juga, sambil membalik lembaran buku hitam.
Eeeerrrgh!! "Aku dimana .. Neneeek aku mau dengan nenek." lirih seseorang, membuat Bram dan Olive menatap ranjang yang telah ada anak laki laki sekolah, ia sadar dari siumannya.
__ADS_1
Tbc.